Pancasila digadai, Undang-Undang Dasar (UDD) 1945 disembelih, mimpi para pendiri bangsa yang letih dikebiri. Jauh panggang dari api, mengapa tidak? Sebab melihat Indonesia kini dengan hati nurani bagai mustahil. Hingga usia kita tandas direnggut mati pun, jika hati nurani terkunci, acuh, tidak peduli, bukan tidak mungkin perubahan yang sesungguhnya tidak akan pernah jadi-jadi. Justru sebaliknya, kiamat yang ngeri mengintai republik ini.
Gayus Tambunan, Melinda Dee menyusul Muhammad Nazarudin adalah sedikit orang yang kebetulan kena jerat, sesungguhnya masih banyak ‘tikus’ lain yang berkeliaran bebas. Dan teranyar, heboh kisah korupsi yang menderai pegawai negeri sipil sebenarnya hanya satu soal kecil dari rimbungan soal di negeri ini yang tidak pernah jelas terurai.
Terpilihnya Abraham Samad menyusul segala puja puji atasnya adalah sebuah alunan klasik. Tidak lebih merupakan proficiat ‘jangan berharap lebih’. (Bukankah seperti itu ketika SBY terpilih jadi presiden di negeri ini? ‘Puja puji hosanna, ‘mesias’ sudah sudah datang’ sorak anak-anak negeri) Ternyata, kita dibantai sangka kita sendiri, yang tampak adalah sekelebat mimpi.
Dalam keseharian terdengar berulangkali frasa-frasa kunci: reformasi birokrasi, moratorium pegawai negeri, penghentian remisi sampai pada koruptor digantung mati. Subahana Allah, sumpah mati itu janji yang suci. Namun, semuanya adalah janji. Janji adalah janji. Mimpi adalah mimpi. Angan tetaplah angan jika hati nurani terkunci.
Solusi yang diberi, jangankan kita berdemonstrasi dengan bakar diri atau memenggal urat leher hingga mati, bahkan sampai menenggelamkan Indonesia di sebelah sisi tetap tidak akan membawa pengaruh yang berarti jika hati nurani masih terkunci.
Melihat dan membangun Indonesia dengan hati nurani adalah kunci. Karena pada hakikatnya, berbicara tentang hati nurani, kita berbicara tentang berada diri pribadi. Berada diri pribadi sebagaimana yang hadir dan ada dengan segala kekuarangan dan kelebihan (jujur mengakuinya). Berada diri pribadi sebagaimana menerima selanjutnya berproses berdasarkan kekurangan dan kelebihan (tulus berproses). Dan akhirnya berada diri pribadi untuk semakin menjadi diri sendiri (menetapi janji).
Melihat dan membangun Indonesia dengan hati nurani adalah menempatkan Indonesia sebagaimana kita menempatkan berada diri pribadi kita. Pertama-tama, sebagai sebuah bangsa kita harus merekonstruksi hakikat keber-ada-an kita sebagai bangsa. Siapa kita Indonesia sepanjang sejarah perjalanannya. Poin penting dari proses merekonstruksi hakikat keber-ada-an kita sebagai bangsa adalah melihatnya dengan jujur, tanpa manupulasi. Kekurangan dan kelemahan dibentangkan, kekuatan dan potensi kebangsaan disajikan.
Selanjutnya, berdasarkan hakikat keber-ada-an kita yang jujur, terang benderang tanpa manupulasi mulailah kita membangun bangsa ini. Ketulusan adalah poin penting dalam proses pembangunan dalam berbagai sektor dan bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembanguan yang berproses menjunjung tinggi ketulusan. Mengabaikan ketulusan, mengambrukkan system dan cara berproses.
Pada akhirnya, jika proses yang tulus dibangun di atas kejujuran, berproses, sebagai bangsa kita akan mengetahui siapa kita dan bagaimana seharusnya kita berada dalam dunia. Kita akan merasa malu untuk munafik, takut untuk berbuat curang, ngeri untuk mencederai damai, najis untuk mengobral keadilan. Kita sebagai bangsa akan merasa yakin dan optimis bahwa janji akan menjadi bukti, pemimpin dihargai, system dan cara berada akan diletak-jalan secara pasti.
Akhirullkalam, betul bahwa hati nurani bukahlah ‘hakim agung’ apalagi ‘juru selamat yang tak dapat salah’. Dalam persentuhannya dengan kehidupan dan proses pematangannya dalam dunia, tidak dipungkiri akan berbenturan dengan soal dan masalah. Namun demikian, dengan tetap melihat dan membangun bangsa dengan hati nurani, kita akan menjadi yakin bahwa seberat apa pun soal, pasti akan mudah terurai, karena berada diri pribadi kita sebagai bangsa direkonstruksi secara jujur dan berproses secara tulus.











































1 tanggapan kepada “Bangun Indonesia Dengan Hati Nurani”
Robert Latumahina
Januari 29th, 2012 pada 22:22
“… Dalam persentuhannya dengan kehidupan dan proses pematangannya dalam dunia, tidak dipungkiri akan berbenturan dengan soal dan masalah. Namun demikian, dengan tetap melihat dan membangun bangsa dengan hati nurani, kita akan menjadi yakin bahwa seberat apa pun soal, pasti akan mudah terurai, karena berada diri pribadi kita sebagai bangsa direkonstruksi secara jujur dan berproses secara tulus.”
Ini harapan dan pengharapan kita setiap insan Indonesia,,, pengharapan itu seperti ‘sauh’ yang tetap menjaga kita selalu jujur dan tulus membangun yang terbaik,,,, semoga doa dan harapan ini,,, menjadi doa kita kepada Dia, Tuhan Indonesia….. sampai saatnya klimaks Dia mendengar jeritan tangis hati umat yang tertindas lalu datang pertolongan-Nya untuk Indonesia.
Amin.