Matahari belum benar-benar padam. Anak arloji menunjuk pukul enam kurang seperempat petang. Dari barat, terang jingga  pecah di antara selat-selat dan serpihnya tempias di atas atap-atap pinisi. Di kejauhan, di bawah serpih-serpih jingga itu perlahan sebuah sampan dekat merapat.

Abdilah pulang. Wajahnya lesu. Tubuhnya bergetar. Tidak tampak sebakul ikan. Kosong. “Gelombang”. Itu saja yang meluncur dari mulutnya. Sudah itu pergi.

Di rumah, dari balik jendela yang setengah terbuka, dua belah bibir mekarkan senyum. Rubiah menanti sambil menanak nasi. ‘’Semoga ayah membawa pulang sebakul ikan” Majid mengangguk. Rubiah mendekap erat putranya, sesekali mendorong kayu api dengan kaki, sesekali mengipas dengan jari, sesekali pula menengok periuk nasi.

“Ayah sudah pulang. Itu di sana”

Majid melompat “Mana?”

Rubiah mengarahkan telunjuknya.

Majid kegirangan. “Ayah…”

Dari tikungan jalan, Abdilah  menjawab panggilan putranya dengan senyum.

“Ayah, mana ikan?”

“Gelombangnya besar sekali, ayah terpaksa pulang nak”

Tapi tidak bagi Rubiah. Tatapannya jauh lebih dalam. Ia menangkap pesan bahwa ada yang berbeda dengan Abdilah di petang hari itu.

“Pa, apakah apa yang diceritakan papa semalam benar? Tanya Rubiah

Abdilah mengangguk, sambil meletakkan telunjuk pada kedua belah bibirnya. Agar Rubiah tidak mengejarnya lagi dengan tanya.

“Tidak bisa pa, ini keterlaluan. Apakah mereka tidak tahu kalau kita hanya hidup dari melaut. Kita tidak bisa berkebun apalagi beternak. Laut adalah segalanya bagi kita” Rubiah mencecar. Pandangannya melompat keluar jendela mernekam keindahan senja hari itu. Tapi hambar.

“Aduh, sudah…sudah. Kita pindah saja dari sini, kita kembali ke Bima” Abdilah mencoba meredah. Majid yang tak tahu apa-apa bengong menganga. Sesekali menggigit jempol jarinya.

“Apa, kembali ke Bima? Saya lahir dan besar di sini. Ini tanah kita, ini laut kita”

“Mama, kita hanya orang kecil, nelayan miskin. Jangan sampai kita dipenjara gara-gara melawan pemerintah” Abdilah mencoba kembali menenangkan Rubiah istrinya.

“Papa” Rubiah menetaskan air mata “Apakah karena kita miskin lalu kita tidak dihargai, lalu bagaimana orang miskin seperti kita dapat makan, dapat duit kalau kita dilarang begini, dilarang begitu. Apakah kita bukan manusia” Rubiah mengumpat penuh kesal.

Abdilah mencoba tenang. Walau dalam dadanya meledak-ledak marah. Ia tidak mengira jika aktivitas nelayan yang telah ditekuni sekian lama, bahkan bergenerasi akhirnya dihentikan dengan paksa oleh pemerintah lantaran pulau Rinca, tempat mereka menetap sejak lama, masuk dalam wilayah Taman Nasional Komodo.

“Ajaib…ajaib apanya, kalau kita akhirnya mati” Rubiah menggerutu. Kemudian beranjak pergi sambil membanting-banting kakinya. Rumah panggung itu bergoyang. Majid menangis. Abdilah duduk mematung bagai mati.

Di laut, di bawah remang senja, meraung-raung perahu motor patroli.

About these ads