Matahari belum benar-benar padam. Anak arloji menunjuk pukul enam kurang seperempat petang. Dari barat, terang jingga  pecah di antara selat-selat dan serpihnya tempias di atas atap-atap pinisi. Di kejauhan, di bawah serpih-serpih jingga itu perlahan sebuah sampan dekat merapat. Abdilah pulang. Wajahnya lesu. Tubuhnya bergetar. Tidak tampak sebakul ikan. Kosong. “Gelombang”. Itu saja yang meluncur [...]