Dulu, aku janin, bakal manusia yang belum berbentuk rupa. Jari-jari kecilku masih tenggelam di balik lendir bening. Hidung, mata, telinga dan bibirku masih tersembunyi. Jenis kelaminku pun belum terdeteksi. Aku hanya setitik lendir. Aku masih misteri. Tetapi, walau belum berbentuk rupa, entah seperti papa atau mama, bukan aku tidak bahagia. kadang aku menari. Dalam rahim yang tidak seberapa luas, sesekali aku meloncat-mengalir ke sisi kiri, sesekali meloncat-menggelinding ke kanan. Jika lelah aku lelap. Ketika bangun, aku kembali menari, mengalir dan menggelinding.
Andai Aku Kuat
Pada ketika itu, aku membayangkan andai aku cukup kuat, sudah kujadikan plasenta sebagai ayunan. Sambil membaca sajak-sajak cinta, menyanyi lagu-lagu kasih dan berdendang tembang-tembang sayang, aku akan bermain ayunan dari pagi hingga petang. Bahkan andai aku sudah bertulang dan jari-jari dan tangaku menyembul aku akan berani memanjat tebing rahim mamaku. Aku akan berpetualang mengunjungi tempat-tempat penting di dalam tubuh mamaku. Untuk sekedar tahu dan sekedar belajar mengerti.
Aku akan mengunjungi telapak kaki, hati, jantung, wajah dan kepala serta tangan mama. Di telapak kakinya, aku akan belajar mengerti kalau mama adalah segalanya. Di sana ada surga. Segala tanggungjawab, kepedulian, kasih sayang dan perjuangan tertumpu. Aku akan mengunjungi hatinya. Aku akan belajar bagaimana mencerna kehidupan. Aku akan belajar memahami kegetiran dengan sabar. Aku akan belajar bagaimana mama menyimpan luka, memendam rahasia.
Pada jantungnya, aku akan belajar menghargai kehidupan. Bagamana mama tidak henti-hentinya mendenyutkan kebahagiaan walau susah, sakit dan derita. Pada kepalanya aku akan belajar bagaimana mama berpikir tentang semua dan segala dalam kehidupan. Bagamana mama mengetahui sesuatu dan mencernanya dengan cerdas.
Pada wajahnya, aku akan belajar bagaimana mama menampil-pancarkan tentang kecantikan. Bagaimana mama menatap dengan lembut, tersenyum dengan santun dan menyapa dengan sahaja. Dan aku akan mengunjungi tangan dan jari-jari mama. Memahami bagaihama mama bekerja tanpa kenal lelah. Memahami bagaimana mama memapahku dalam bulatan rahim penuh bahagia.
Andai aku kuat aku akan berpetulang mengunjungi tempat-tempat itu. Aku tidak perlu membawa bekal, karena plasenta akan kutarik lebih panjang. Sehingga aku tidak kehabisanserat dan zat makanan dan meinuman.
Ketika Aku Kuat
Itu bayanganku ketika itu, ketika aku dibentuk dari cinta dan tak berbentuk rupa. Aku membayangkan itu beberapa hari sesudahnya.
Kini, ketika aku kian kuat akhirnya aku menuntaskan misiku. Aku berpetualangan dalam tubuh ibuku. Aku belajar mendengar ketika telingaku terbuka. Aku belajar tersenyum ketika kedua belah bibir mungilku mekar. Aku belajar berjalan ketika kedua kakiku menyembulkan jari-jarinya. Aku belajar meraba ketika jari-jari tanganku tumbuh.
Kadang aku belajar bergerak, aku belajar duduk dan berdiri. Tidur, melintang dan terjerembab. Aku begitu bahagia. Hati merahku, putih bersih, otak kecilku cerah benderang. Sebagai si janin yang cantik aku meniru mamaku ketika ia berdandan. Di depan cermin mata rasaku dapat melihat kalau mamaku tersenyum bahagia.
Ketika aku sudah kuat, dan menjelang hari-hari kelahiranku, kadang aku melamun. Aku seperti tak sudi pergi dari rahimnya yang nyaman, tetapi pada saat yang sama aku harus meninggalkan kenyamanan itu. Aku menangis. Aku merindu saat-saat seperti ini akan kembali. Aku merindu belaian dan kasih sayang mama.
Aku Menangis
Aku kuat, tapi pada saat yang sama sesungguhnya aku belum mampu apa-apa. Aku tidak tahu bakal apa yang akan terjadi ketika aku dilahirkan. Merenungi hari-hari itu, dan aku menangis. Mengapa?
Aku akan mengalami kegetiran dalam kehidupan. Aku akan mengalami kemelut dalam situasi dan suasana. Aku akan menghirup udara yang pengap, berjalan pada jalan yang nista, melihat pertentangan dan perang, mendengar sumpah serapah dan angkara murka. Aku akan mengalami semua dan segala tentang kehidupan.
Walau sesungguhnya aku tahu, dalam dekap ibuku dan dalam papahan papaku akan dibimbing-lindung agar tegar. Walaupun aku tahu kalau kehidupan tidak selamanya kejam. Ada cinta yang mekar di sana, ada harap yang bisa diperjuangkan dan ada sesama yang bisa dipeduli-mempeduli.
Lantaran itulah, kelahiran bagiku adalah peristiwa perpisahan dan perjumpaan yang tidak terlukiskan dengan kata. Dari rahim mama yang nyaman, aku dilepas untuk berjalan sendiri. Aku tidak akan lagi dipapah papa dan secara berulang didekap mama. Aku aku akan menjadi aku yang lain, dan bukan lagi janin. Dalam pelukan papa dan mama kehidupan yang belum kutahu serupa apa mereka, aku sesungguhnya ciut dan takut.
Menangis bagiku adalah kata-penyampaian yang tepat untuk melepas rasa. Aku merindu menjadi jadi janin tapi kehidupan baru merinduku untuk menjadi seorang pribadi.











































