Catatan ini adalah sebuah ‘cerita ulang’ atas tayangan video kekerasan kelompok baju loreng (aparat Negara) terhadap warga Papua Barat yang pernah menyentakkan ruang sadar kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Pancasila. ‘Cerita ulang’ atas video itu saya sebut sebagai ‘‘Tendangan Negara’’. Sebuah tendangan ‘dari, oleh dan untuk rakyatnya’ demikian jika mau didefinisikan apa artinya ‘Tendangan Negara’.

***

Sebuah tendangan melayang mengenai wajah. Bersamaan dengan itu meluncur kata-kata ‘’Kasih tau bos, di mana kau sembunyi senjata” suara yang sama terdengar meninggi “Di mana kau taruh senjata”.  Suara itu lepas sambil menahan geram. Dari sudut yang lain sebuah tendangan kembali melayang mengenai punggung salah seorang tersiksa yang lain.

Suara yang lain tiba-tiba muncul “Sudah berapa yang kau bunuh tentara, sudah berapa yang kau bunuh brimob”. Yang ditanya, entah berapa orang, tampak terduduk dengan paksa di atas tanah. Mereka, yang entah berapa orang itu, diam tanpa kata.

Kematian tampak begitu dekat mengintai mereka. Sungguh sangat dekat, suluk dalam suara-suara yang lepas penuh paksa. Tampak pada bedil-bedil yang melintang dan menenteng. Tampak pula pada tinju-tinju yang mengepal dan rentangan jari-jari yang siap menampar. Pun tampak pada sepatu-sepatu beralas tendang-injak. Tiba-tiba meluncur “Hei….hei….hei monyong…”

Mengerikan benar, jika anda terus menyaksikan potongan tanyangan yang pernah beredar luas di jagat maya (youtube) siapa pun yang menyaksikan potongan tayangan yang pertama kali muncul pada Minggu 17 Oktober 2010 itu tidak hanya makan hati (sakit hati), tetapi juga bikin makan gigi (marah dan geram).

Sungguh amat disayangkan perilaku parat Negara serupa itu. Saya mencatat ada dua ‘amat disayangkan’. Amat disayangkan yang pertama adalah ‘tidak seorang pun dari kita yang tahu apa latar penyiksaan itu’. Tapi dari potongan tayangan jelas terekam (sepertinya) sebelumnya sudah ada dugaan dari sekolompok orang berbaju lorang itu, kalau mereka yang terkapar di atas tanah telah membunuh rekan-rekannya. Sebuah ajang ‘balas dendam’ yang tidak bersasar.

Perhatikan (dengarkan) potongan kalimat-kalimat dalam tayangan itu: ‘’Kasih tau bos, di mana kau sembunyi senjata”  dan “Di mana kau taruh senjata” serta “Sudah berapa yang kau bunuh tentara, sudah berapa yang kau bunuh brimob”.

Hal yang amat disayangkan yang kedua adalah katanya atas nama tugas Negara. Sepotong kalimat meluncur dari salah seorang yang mengenakan baju loreng itu ‘‘kami di sini melaksanakan perintah Negara”. Bayangkan atas nama Negara, mohon maaf, saya ulangi sekali lagi atas nama NEGARA. Pertanyaan reflektif untuk kita semua sebagai warga bangsa adalah siapa dan atau apakah itu Negara? Bagaimana seharusnya Negara bersikap terhadap warganya.

Andai kita semua tahu kalau yang sesungguhnya empunya Negara adalah rakyat/warga, dan bagaimana Negara bersikap terhadap warganya (yang adalah dirinya sendiri) sudah barang tentu tidak ada chaos di negeri ini. Jika kita semua tahu, kalau sesungguhnya hakikat kehidupan bernegara di negeri ini adalah seperti yang terbaca dalam butir-butir Pancasila, sudah barang tentu tidak ada ‘Utusan Khusus’ yang mengatasnamakan Negara untuk datang menyiksa: mengancam, mendorong, menendang, menjambak, menginjak warganya sendiri seperti yang terjadi di Papua Barat.

Itu sudah! lantaran kita tidak pernah tahu, dan atau mungkin berpura-pura tidak tahu, maka berbagai bentuk pelanggaran dan kekerasan yang tergambar jelas dalam ‘Tendangan Negara’ menjadi lazim-maklum-legal. Sebuah ‘Tendangan’ yang dilakukan oleh kelompok berbaju loreng (yang adalah warga Negara berabel aparat) terhadap sekelompok warga Papua (yang juga adalah warga negara).

Pertanyaan lanjutan, adakah Negara yang sekonyol itu, yang atas sebuah system kekuasaan membelenggu dan menyiksa warganya sendiri? Adakah Negara yang mau menyiksa dirinya sendiri demi entah, entah demi apa?

***

‘Tendangan Negara’ mencoba menjawab sedikit dari banyaknya jawaban tentang apa sesungguhnya Negara dan bagaimana Negara bersikap terhadap warganya (yang adalah dirinya sendiri). Demikianlah catatan ini dibuat sebagai ‘cerita ulang’ atas video yang pernah menyentakkan ruang sadar kehidupan berbangsa dan bernegara yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 ‘Cerita ulang’ atas video itu saya sebut sebagai ‘‘Tendangan Negara’’. Sebuah tendangan ‘dari, oleh dan untuk rakyatnya’ demikian jika mau didefinisikan apa artinya Negara demokrasi dalam catatan ini: ‘Tendangan Negara’. Sebuah definisi yang tolol, tetapi sudah ‘difilmkan’.

About these ads