Umbu Landu Paranggi. Aku sudah (pernah) mendengar nama itu ketika Sekolah Menengah Pertama. Aku mengenalnya sekedar sebagai nama yang tidak bermakna. Sekedar sebagai, katanya ‘penyair’, yang lahir pada 10 Agustus 1945 di Sumba Nusa Tenggara Timur yang pernah melahirkan sederet puisi ini dan itu. Itu saja tidak lebih.
Namun sekarang, semuanya nyaris tandas tidak berbekas, yang tersisa hanya ampas pekat-gulita. Mengingat menembus dasar ingatan bukan hanya melelahkan, tetapi juga tidak kuasa. Bayangkan, tidak hanya Umbu Landu Paranggi yang hilang dari ingatan, bahkan siapa pengarang Layar Terkembang, Salah Asuhan, dan Atheis saja nyaris aku lupa.
Kebetulan. Kebetulan sekali sekuplet dari ‘Doa, kepada pemeluk teguh’ yang digubah Chairil Anwar pada 13 November 1943 yang berbunyi ‘Tuhanku, dalam termangu, aku masih menyebut nama-Mu’ masih kusimpan dalam ingatan. Jika tidak, sudah barang tentu aku akan serupa berjalan dalam rimba bayang-bayang. Menjadi lupa-lupa ingat, ingat-ingat lupa.
Mengapa Lupa
Lupa-lupa ingat dan atau ingat-ingat lupa adalah sesungguhnya lupa. Kelupaan yang yang demikian lantaran, pertama, hanya mengingatnya sebagai sekedarnya, sepintas lalu, karena tidak membayangkan untuk mengingatnya. Dan apalagi untuk merekamnya sungguh. Selanjutnya yang kedua, adalah karena miskinnya ruang apresiasi dan terbatasnya imajinasi dalam mengecap puisi dan atau sajak.
Poin kedua ini yang akan kuperjelas, bahwa pada ketika Sekolah Menengah Pertama aku hanya disodor-kasih teks-teks sastra untuk membaca yang kemudian dalam ujian akan ditanya. Aku lulus atau tidak dalam mata pelajaran bahasa dan sastra ditentukan sejauh mana aku menghafal semua nama-nama besar dengan identitas asal dan tanggal lahirnya (seperti di Kartu Tanda Penduduk) lengkap dengan karya-karya besar mereka.
Aku tidak diberi ruang untuk berimajinasi dan atau mengapresiasi karya-karya besar penyair dan sastrawan Indonesia. Pada ketika itu aku hanya mengagumi mereka sebagai penyair-penyair dan sastrawan-sastrawan hebat “Wow, jelek-jelek dari NTT pernah lahir seorang Umbu Landu Paranggi yang adalah seorang penyair”. Kurang lebih demikian aku berbangga diri. Hanya sebatas itu, tidak lebih.
Melawan Lupa
Menghafal, (sekurang-kurangnya pengalamanku), dalam proses belajar sastra adalah sebuah kesalahan terbesar. Tidak mengapa jika itu dimaksudkan hanya untuk (sekedar sebagai) ‘ingin tahu’. Tetapi seharusnya tidak menjadi ‘ingin tahu’ yang sekedar ‘asal tahu’. Ingin tahu yang serupa itu sudah barang tentu tidak cukup.
Membaca sebuah karya sastra adalah sebuah proses pembacaan ganda. Kita tidak hanya disodor-kasih untuk menangkap yang tersurat, tetapi juga suluk hingga yang tersirat dalam kata dan kalimat. Kata Profesor Nyoman Kutha Ratna dalam ‘Sastra dan Cultural Studies, Representasi Fiksi dan Fakta’ (Pustaka: 2010, hal. 419) membaca karya sastra berarti harus memecahkan dua gejala sekaligus, yaitu bahasa dan sastra itu sendiri.
Mungkin terlalu panjang untuk sebuah roman dan atau novel, sepenggal sajak saja, yang kita bilang ‘sekuplet’ atau ‘sebaris’ mengandung beragam makna, sehingga membutuhkan ruang tafsir yang cukup. Sebagai misal, aku mencoba memaknai “Mantra Pengantar”-nya Umbu Landu Paringgi di bawah ini.
ucapan melati
dimekarkan matahari
udara bakti
disemburkan matahati
maka para pengisap sezarrah
gelombang lengang
menanam ini sembahyang dialog
sawah ladang
maka adalah cuka duka
lupa luka
jantung hari
bahagia beta
alpa sendiri
bikin bikin puisi
ucapan melati
pergelaran matahari
udara bakti
persembahan matahati
Pada ketika Sekolah Menengah Pertama, sajak Umbu Landu Paringgi yang dimuat di halaman 1 harian Nusa tanggal 31 Desember 1997 di atas kubaca dengan mendayu-dayu di depan kelas, tanpa kumengerti apa makna yang terselubung dalam teks dan konteks lahirnya sajak tersebut. Aku terjebak dalam kata-kata indahnya, kemudian melukiskan keindahan indah itu dalam pengucapakan yang elok.
Namun, sayang pada ketika itu aku tidak digiring untuk melampaui yang terbaca dan tertulis. Baru aku paham sekarang bahwa, melampaui dari sekedar teks, ‘Mantra Pengantar’ adalah sebuah energi. Sebuah proses perjalanan penciptaan yang mengagumkan.
Umbu Landu Paranggi tidak hanya harus suluk dalam sunyi, mengalami keterasingan, tetapi juga bahkan harus ‘tewas’ secara bahagia ‘bahagia beta’ di dalam kesenyapan diri ‘alpa diri’ hanya untuk melahirkan kata sajak ‘bikin bikin puisi’ yang pada akhirnya dijadikan sebagai persembahan tulus kepada kehidupan ‘persembahan matahari’ agar terang benderang dalam kehidupan.
Membaca Yang Tidak Sekedar Membaca
Lantaran itu, untuk tidak mengulang kesalahan yang sudah pernah dibuat dan pernah kualami. Seharusnya proses ajar dan belajar sastra di Sekolah Mengenah Pertama dievaluasi. Kepada semua anak (murid dan siswa) mestinya diberi ruang untuk mengeksplorasi, mengapreasiasi dan menafsirkan karya sastra dalam dan melalui dalam dan melalui pengenalan-pengenalan pada kerangka/metode apresiasi sastra yang sederhana.
Membaca sekedar sebagai membaca saja tidak cukup apalagi mencatat dan kemudian menghafalnya. Ruang kepala mereka (siswa/murid) harus lowong untuk mengisi mimpi, imajinasi, penafsiran dan apreasiasi. Agar apa yang mereka baca, apa yang seharusnya sekedar mereka tahu, catat dan ingat menjadi sungguh-sungguh ‘ingat dan tahu’.
Apalagi, sekarang semua anak (murid dan siswa) nyaris melek media. Zaman digitalisasi. Tambahan lagi berbekal pikiran sehat karena makan manakan bergisi empat sehat lima sempurna, kubayangkan pemahaman dan pengetahuan mereka tentang sesuatu yang baru dari petualangan keingintahuan mereka pasti sangat dasyat.









































