Suatu pagi aku membunuh seekor tikus di kamarku. Seekor tikus sebesar jempol kaki. Aku membunuhnya dengan cara menendangnya. Itu kisah pada suatu pagi itu. Suatu pagi yang masih menyisahkan kantuk.

Tapi malam tadi aku menemuinya lagi. Seperti bangkit dari debu, diiringi empat serdadu pengawal, tikus itu menghampiriku.  Aku menduga ia datang menyerangku, karena ia lengkap membawa empat tikus terbaik sebagai pengawal. Tetapi ternyata bukan. Tikus itu membawa pesan “Datanglah ke pesta pernikahan putri kepala istana kami. Kepala istana mengundang anda sebagai tamu kehormatan”.

Tanpa basa-basi aku mengangguk. Sumpah. Betapa bangganya aku pada malam hari itu mendengar kalimat ‘’Mengundang anda sebagai tamu kehormatan”. Kehormatan yang luar bisa besar. Di dunia manusia, aku tidak pernah dihargai serupa itu. Datang dan diundang dengan setengah membungkuk. Hanya, baru pada malam itu, tikus kecil itu dengan sangat santun mengundangku. Aku tersanjung bagai raja.

Tetapi sesungguhnya pada saat yang sama aku ciut. Keraguanku kambuh. Jangan-jangan ini adalah kebaikan yang semu, karena aku telah mengobrak-abrik sepak terjang mereka. Jangan-jangan mereka mengundangku, kemudian mengeratku lantas menjadi hidangan yang istimewa di acara resepsi pernikahan putri kepala istana.

Akal bulusku tumbuh. Aku membeli perangkap setengah kali setengah meter. Aku mengemasnya dengan indah, menyampulnya dengan kertas kado. Sebagai kado yang nanti diberikan kepada pasangan pengantin. Aku tidak peduli, sekalipun aku sudah dilarang oleh pembawa pesan agar jangan membawa buah tangan atau kado atau apa pun. ‘’Jangan membawa kado apa pun, karena kepala istana tidak hendak menerima apa pun selain kehadiran anda yang tulus”

Bohong. Tikus-tikus itu mau menjebakku. Kataku. Manusia koq mau di-tikus-in. Dengan menenteng kado aku bergegas menelusuri perjalanan bawah kamar yang menegangkan. Sepanjang perjalanan tidak ada seekor tikus pun yang kujumpa. Lorong-lorongnya lengang. Senyap.

Baru di ujung lorong terjauh, entah di kedalaman berapa meter di bawah lantai kamarku tampak seberkas terang. Semakin aku mendekat, terangnya makin benderang dan kegaduhan terdengar kencang. Ketika pintu lorong itu dibuka, ya Tuhan, istana yang sempurna. Megah tak terlukiskan dengan kata. Aku membayangkan pada ketika itu, jika jiwaku sedang bergoncang, mungkin saja aku sudah jatuh pingsan. Tetapi aku beruntung, jiwaku cukup matang untuk menahan keter-peranjat-an itu, lantas hanya mulutku yang ternganga-nganga sehingga kado yang kupegang erat terlepas dari genggaman.

Mengapa tidak. Bayangkan. Sapuan mataku melayang-menyapu. Kemilu cahaya lepas pendar menyapa dinding dan lantai istana berlapis emas. Seribu lampu warna-warni menerangi langit-langit istana. Tak ada satu sudut pun yang gelap. Terang benderang. Pilar-pilar penyangga adalah gading-gading. Kursi dan meja tersusun atas batangan emas. Tidak hanya itu, ribuan tikus berdandan tampan dan cantik. Senyum dan tawa mereka memabukan-memesona. Segala jenis makanan menumpuk di meja-meja makan yang bertebaran sepanjang tepi ruangan. Segala jenis minuman pun demikian.

Akhirnya pandangan mataku berhenti pada sebuah kursi. Sebuah kursi di barisan paling depan yang bertulis namaku di bagian atasnya, dibawahnya tertera sepanggal kalimat “Sebagai tamu kehormatan kami”. Seekor tikus mengajakku menghampiri kursi itu, selanjutnya mempersilahkan aku duduk.

Tiba-tiba suasana jadi senyap. Gemerincing lonceng dari singgasana mendiamkan ribuan tikus, tamu udangan, termasuk aku. Tampak serombongan orang keluar dari pintu utama yang sudah terbuka. Rupa-rupanya itu dia kepala istana, seekor tikus sebesar betis orang dewasa. Ya Tuhan. Itu dia rupanya. Aku tidak pernah melihat sebelumnya tikus sebongsor itu.

Mataku menatap lekat sang kepala istana. Mengagumkan. Ia tampak berwibawa. Dia dihormati dan dihargai. Untuk meletakkan kakinya di atas singgasana, dibutuhkan dua ekor tikus kecil. Luar biasa. Tidak lama berselang, serombongan tikus yang lain muncul dari balik pintu yang sama. Didahului para dayang-dayang, diikuti sepasang pengantin, disusul sebarisan pengawal.

Nah…betapa terperanjatnya aku, ketika melihat tikus yang adalah pengantin pria itu. Dialah tikus yang telah kutendang hingga tewas pada suatu pagi itu. Tikus itu melepas senyum ke arahku. Gigi-gigi runcingnya tampak. Sumpah. Aku benar-benar merinding. Bayangkan jika tikus menampakkan gigi-giginya. Kita tidak pernah tahu itu senyum atau marah. Tapi, pada malam hari itu aku mencoba paham, kalau tikus kecil yang kubayangkan sudah jadi debu tanah itu sedang melepas salam dalam senyuman.

Suasana masih senyap. Ribuan tikus itu tidak beranjak, bergeser pun tidak. Segala aktivitas berhenti. Seperti sudah sedang menunggu aba-aba. Dari atas singgasana, sang kepala istana bangun perlahan. Seorang pengawal memberikan selembar catatan. Sepertinya sang kepala istana akan berkata-kata.

Sebelum ia memulai berkata entah tentang apa, sorot matanya yang tajam menyapu rata ruangan hingga suluk ke sudut-sudut terjauh. Aku kian merinding. Pegangan kursi kuramas erat. Aku yakin, jika tatapannya menyorot ke arahku, maka remuklah sudah pegangan kursi yang terbuat dari emas itu. Ternyata benar. Praakkkkkk…patah. Aku terpelanting ke lantai.

Baru ketika itu aku sadar. Kalau segenap suasana. Segenap rasa yang tumpah. Segala yang disaksikan, yang dilihat dan dirasakan pada malam itu adalah mimpi belaka. Baru ketika itu aku sadar. Kalau selimut dan tubuhku jatuh tertumbuk di lantai kamar. Hugfffffff…seperti fakta, ternyata fiksi.

About these ads