Sebenarnya aku tidak pernah bangun sepagi ini. Apalagi jam lima. Tapi, lagi-lagi karena tikus. Pagi itu, ujung jempol kakiku terasa geli, seekor tikus, entah mencium atau menjilat, aku tidak tahu. Tapi usapan dan juga seperti jilatan itu terasa mengganggu.

Kudiamkan napas, menyalurkan semua tenaga ke ujung kaki kanan. Tenaga yang sudah kusimpan sepanjang malam dalam tidur yang panjang. Aku merentangkan jari-jari kaki perlahan. Sangkaku, tikus itu beranjak. Tetapi ternyata kian terasa elusannya dan atau jilatannya.

Tidak membuang waktu. Kemudian menendang. Mampus, kena kau! Seekor tikus melayang menghantam langit kamar. Di atas meja bacaku tikus sebesar jempol kakiku itu mendarat. Tubuhnya lemas. Dari mulutnya yang setengah menganga keliur liur merah. Aku memperhatikan dengan saksama. Menyentuh dengan ujung tongkat patah. Terasa, tikus itu hanya serupa daging. Tulang-tulangnya koyak, remuk.

Selamat pagi kawan, maafkan aku, karena aku telah membuatmu mati dengan tidak hormat. Lagi-lagi aku mengumpat. Sekarang, aku memberikan kesempatan kepadamu untuk siulan. Itu pun jika bisa. Tapi, jika tidak, maka bau kematiamu sudah menjadi pesan  buat gerombolanmu untuk tidak lagi datang mengganggu tidurku.

Tapi sayang, lima belas menit sudah, tikus naas itu tidak juga siuman. Tamatlah riwayatnya. Kukaitkan ekornya diujung tongkat. Kuseret dia keluar kamar, bagai menyeret penjahat. Membekas di atas lantai jalur penyiksaan menuju perapian, tempat sampah. Di sana, aku akan membuatnya menjadi debu tanah. Semoga bau kematiannya, bau tanahnya, bau debunya menjadi berita yang menggemparkan. Harapku.

Setelah semuanya menjadi debu tanah, aku beranjak kembali ke kamar. Kembali aku bentangkan selimut, menuntaskan kantuk yang masih sedikit tersisa. Sebelum benar-benar lelap, kulebarkan Koran Kompas (Rabu, 23 November 2011) yang tergelak di samping bantal. Pada halaman empat, terbaca judul besar ‘’Hatta Cium Kening Ibas”. Belum kubaca isinya, tetapi aku sudah terperanjat. ‘Cium’ kosa kata yang menarik di pagi hari itu, karena sebelumnya, tikus ‘mencium’ jempol kakiku.

Kegundahanku menyembul dalam tanya-tanya. Jangan-jangan tikus itu mencium jempol kakiku dengan tulus, karena aku telah memberi gerombolannya makanan. Tetapi mengapa ia harus mencium jempol kakiku jika itu benar atas dasar sayang. Seharusnya dia mencium keningku.

Tapi mau apa dikata, dunia tikus dan manusia terlampau jauh berbeda. Hanya bahasa ‘berpura-pura damai’ yang bisa membuat relasi dan atau hubungan antara manusia dan tikus terjembatani. Walau sesungguhnya, semua itu adalah semu, karena ‘berpura-pura damai’ adalah sebenarnya dalam perjumpaan itu antara aku dan tikus sudah sedang saling membunuh.

Berita lain, pada halaman yang sama, yang membuatku lebih terperanjat terbaca pada judul “Melanggar Kode Etik, Dua Hakim Diberhentikan”. Oh Tuhan, ada apa dengan hakim-hakim ini. Penasaranku memuncak, mataku yang setengah kantuk menyapu isi berita hingga berhenti pada “….MKH (Majelis Kehormatan Hakim) menilai Hakim Dwi Djanuwanto terbukti melanggar kode etik, yaitu melakukan perbuatan asusila…” Asusila? Tanyaku. Di akhir berita dijelaskan lebih lanjut “…Hakim Dwi Djanuwanto diberhentikan dengan tidak hormat karena MKH menilai yang bersangkutan telah mengulangi perbuatannya, berbelit-belit dan tidak menyesal…”

Membayangkan bagaimana aku menjatuhkan vonis mati pada tikus di pagi itu, aku jadi takut. Aku sudah main hakim sendiri. Seharusnya aku memasukkan tikus itu ke dalam sangkar, menginterogasinya, mendengar pleidoinya, dan memanggil saksi-saksi sebelum kakiku menendangnya. Jika demikian prosesnya, maka aku akan melanggar kode etik penghakimanku sendiri. Karena aku tidak mau mengulangi perbuatan sama, yakni mengampuni tikus. Aku tidak mau terbelit-belit, taat prosedur. Dan membunuhnya aku tidak menyesal.

Pagi hari itu, koran yang saya baca berhenti sampai di situ. Bentangan Koran itu menutupi mukaku. Kantuk menjemputku. Dan aku bermimpi.