Hari sudah sore, kira-kira jam empat. Namun, matahari masih terang pun sengatnya masih terasa tajam. Namun, di bawah rindang rimbun daun mangga di ujung Kampung Rohot, desa Hepang, kecamatan Lela Maumere, Simprosa Berta seperti tidak peduli dengan situasi itu.
Ibu beranak tiga itu masih tampak asyik mengayun pati-nya (alat tenun). “Setiap hari saya menenun, dan inilah pekerjaan saya” kata Mama Simpi, demikian ia biasa dipanggil, mengawali kisah tentang kesehariannya sebagai seorang penenun.
Sudah sejak berusia 19 tahun Mama Simpi menekuni dunia tenun. Dan menariknya bukan karena kebetulan ia terjun dalam dunia itu. “Sudah zaman nenek moyang, kami sudah diwariskan tradisi ini” katanya sambil menaikkan jangka (sisir) sebelum dirapikan pati. “Saya tidak tahu kapan saya berhenti menenun, mungkin kalau sudah benar-benar tua” lanjutnya.
Usianya memang tidak lagi muda, karena sudah menginjak 51 tahun. Tapi jari-jari tangannya masih gesit memilah benang yang terurai, matanya masih terang membaca motif, dan tidak hanya itu, ia pun tidak mengeluh sakit walau dari pagi hingga sore hari duduk dikepung peralatan tenun “Saya merasa bahagia dengan pekerjaan ini”
Mengapa tidak bahagia. Mama Simpi mengaku, ia merasa sangat terbantu secara ekonomi dengan pekerjaan yang ditekuninya. Ia bisa menghasilkan satu tenunan lipa yang tanpa motif/bunga setiap tiga atau empat hari dalam satu bulan dengan harga perlembar rata-rata Rp. 150.000. Hitungan kasar, dalam satu bulan Mama Simpi bisa menghasilkan uang sebanyak Rp. 1.210.000 dari rata-rata 8 lembar Lipa yang dihasilkan.
Sementara itu, tenunan yang bermotif dengan harga jual perlembar Rp. 250.000 bisa dikerjakan dalam waktu satu minggu. Artinya dalam waktu satu bulan Mama Simpi bisa menghasilkan keuntungan kurang lebih Rp. 1.000.000 dari empat lembar tenunan jadi.
“Laku sekali, padahal yang jual banyak tidak hanya saya” akunya “Kalau saya jual di pasar Nita setiap hari Kamis (red. Hari pasar) atau di Maumere dijamin pasti laku semua”. Lanjutnya. “Soalnya banyak orang yang datang borong, karena mereka pegang saja itu artinya mereka beli” katanya sambil tertawa kecil.
Karena Kami Perempuan
Melampaui dari sekedar kalkulasi untung rugi, sekalipun itu yang kasat mata, sejatinya, jauh di kedalaman kesadaran perempuan Sikka, menenun adalah tentang identitas kaum perempuan itu sendiri. “Perempuan itu harus tahu menenun, makanya dulu kalau sudah berumur belasan tahun perempuan sudah harus tahu menenun. Begitulah adatnya” kisah Mama Simpi.
Penjelasan Mama Simpi mengingatkan penulis pada syair kebijaksanaan lokal Sikka “Mitang inang mitang seti, ganu sipe ha wige. Heret inang heret seda, gunu nalar ha papa” (Gadis hitam manis bagai seti, bagaikan belahan sipe (alat tenun). Gadis kuning bagai sutera, laksana belahan nalar (alat tenun). Dari sekuplet syair ini jelas terbaca bahwa perempuan dan kecantikan (sebagai identitas perempuan) secara filosofi dalam budaya Sikka sebenarnya saling mengandaikan.
Kecantikan adalah tidak sekedar identitas personal seorang perempuan secara universal, tetapi bagi orang Sikka adalah identitas budaya. Kecantikan sebagai sebuah identitas itu dalam keseharian hidup perempuan dianalogikan melalui dunia kaum perempuan itu sendiri yakni tenun dan atau kegiatan menenun.
Syair berikut ini lebih jelas menegaskan tentang itu “Bota Butuk inang, bête perung salong gaot. Bete perung salong gaot, laa ene gita kelang” (Perempuan bernama Bota Butuk, mengikat sarung tidak teliti/tekun, setelah dicelup dan dibuka tidak tampak motif/gambarnya).
Syair nasehat ini mau menegaskan bahwa perempuan Sikka dalam artian tertentu diukur dengan ketelitian dan ketekunan dalam pekerjaan menenun sarung, mulai dari memintal sampai menenun. Ketekunan dan ketelitian pun kesabaran tidak hanya menjadi poin penting dalam proses menenun, tetapi merupakan identitas kaum perempuan Sikka.
Maka benarlah jika Mama Simpi yang mengatakan “karena kami perempuan” maka dunia tenun dan kegiatan menenun menjadi identitas perempuan Sikka, terlepas dari sisi ekonomi yang menguntungkan.
Semoga Tidak Punah
Mama Simpi merasa sangat beruntung dan berbahagia karena anak-anaknya bisa menenun. “Anak saya bisa menenun semua, semoga mereka bisa meneruskan tradisi menenun” harapnya. Harapan itu bukan tanpa latar. Sebab menurut Mama Simpi anak-anak zaman sekarang tidak lagi berminat dalam dunia tenun menenun.
“Mungkin karena merasa malu kalau tenun atau pakai pakaian dari hasil tenun” katanya. “atau kalau ada yang mau menenun, mungkin juga karena mau menjual dan dapat keuntungan saja” jelasnya lebih lanjut.
Apa yang dicemaskan Mama Simpi bukan kecemasan yang biasa, tetapi lahir dari kesadaran berbudaya tentang pentingnya tenun dan menenun. Bahwa rupa-rupanya modernitas telah disalahpahami oleh mayoritas generasi muda sekarang. Modern dengan demikian ditanggapi sebagai melepas-lupakan kearifan lokal, dan atau, sekalipun concern terhadap ke-lokal-an seperti tenun dan menenun, rasa dan kesadaran berbudaya yang menjadi hakikatnya tidak dipandang sebagai yang penting dan hakiki. Sebaliknya, tenun dan menenun melulu hanya dipahami secara ekonomi, menguntungkan atau tidak!
“Karena kami perempuan” adalah mimpi Mama Simpi tentang tenun ikat Sikka. Bahwa tenun dan menenun terlepas dari segala factor yang menguntungkan secara ekonomi dan popularitasnya yang kian diminati dunia fashion sebenarnya merupakan persoalan budaya yang selalu harus diresap-maknai.












































1 tanggapan kepada “Mimpi Mama Simpi ‘Karena Kami Perempuan’”
Vivienne
Maret 7th, 2012 pada 16:03
Apakah sy bisa mendpt informasi Pasar Tradisional mana di kota Kupang sy bisa menemukan pengrajin yg menjual Tenun2 dr NTT spt Buna? Biasanya hari apa mrk berjualan?