Pada era kolonial, sekitar tahun 1930-an siapakah warga Batavia (sekarang Jakarta) yang tidak mengenal biskop Rex Theater (sekarang Grand Senen) di kawasan Snees (sekarang Senen Jakarta Pusat)? Pada masa itu kawasan Senen adalah kiblat gerakan intelektual, pusat seni dan hiburan.
Catatan sejarah, seperti yang ku-kutib dari Bandarjakarta bahwa pada masa pra-kemerdekaan kawasan sekitar pasar Senen merupakan kawasan berkumpulnya para intelektual muda serta para pejuang bawah tanah jebolan Stovia. Beberapa pemimpin pergerakan seperti Chairul Saleh, Adam Malik, juga Soekarno dan Hatta, acap menggelar pertemuan di kawasan ini.
Di zaman penjajahan Jepang (1942) hingga tahun 1950-an, kawasan sekitar Pasar Senen menjadi tempat favorite berkumpulnya para seniman dari era pujangga baru. Mereka dijuluki Seniman Senen. Nama-nama seperti Ajip Rosidi, Sukarno M. Noor, Wim Umboh, dan HB Yasin, muncul dari Senen.
Memasuki era 1970-1990-an, nama kawasan Pasar Senen semakin membesar dan tumbuh sebagai pusat ekonomi dan hiburan. Bahkan saat pertunjukan film bioskop mulai dikenalkan di Jakarta, Senen tak ketinggalan, gedung biskop yang bernama Rex Theater pun di bangun.
Namun, pada era ’98 ketika kerusuhan terjadi pamor kawasan Senen mulai redup. Berbagai penjarahan dan pelecehan terhadap sejumlah wanita keturunan Tionghoa berlangsung di sana mengakibatkan banyaknya pemodal yang umumnya warga keturunan Tionghoa lari dari Senen dan mencari lokasi yang lebih aman.
Kini, kawasan Pasar Senen mulai ditinggalkan. Kemegahan dan kemewahannya perlahan memudar. Kios-kios besar kini digantikan oleh para pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya hingga tepi jalan. Kawasan pasar bersejarah itu pun mulai menjadi kumuh dan tidak terawat.
Grand Senen adalah satu bukti nyata sebagai dampak dari perubahan itu. Salah satu bioskop tertua di Indonesia itu tidak hanya tidak terawat, tetapi juga telah beralih fungsi dari pusat seni budaya, hiburan masyarakat menjadi tidak lebih sekedar sebagai kubangan lendir.
Grand Senen telah berubah rupa dari pusat ‘seni’ menuju kubangan ‘mani’. Sebuah perjalanan panjang yang bisa ditebak latar belakangnya. Bahwa perkawinan sebab akibat antara kemiskinan dan prostitusi, antara arus urbanisasi yang kian besar dengan keterbatasan lapangan pekerjaan di ibu kota, telah membunuh imajinasi yang seharusnya ada dalam ruang public itu.
Dina, sebagaimana yang sudah kulukiskan dalam catatan sebelumnya adalah bukti yang hidup dari perubahan fungsi Grand Senen. Di tengah kepungan ekonomi dan kemiskinan, idealisme ruang public dengan mudah digadai hanya dengan sejumlah tiga ratus ribu rupiah per-malam.
Mimpi para pejuang seperti Chairul Saleh, Adam Malik, juga Soekarno dan Hatta yang sebelum lahir di Senen, harap para seniman seperti Ajip Rosidi, Sukarno M. Noor, Wim Umboh, dan HB Yasin yang juga mekar di sekitar Grand Senen akhirnya berkelebat tak berbekas. Yang tertinggal adalah kisah kusam tentang Dina yang sambil menunggu sapa lembutnya menonton film sex vulgar yang selanjutnya dengan jari-jarinya, pun permaianan kedua belah bibirnya mengantarkan anda pada imajinasi birahi.












































2 tanggapan kepada “Cerita Dari Jakarta 3, Dari ‘Seni’ Menuju ‘Mani’”
adiyydiy
November 9th, 2011 pada 10:48
gak ngrtiiiiiiiiiii
nirina
November 25th, 2011 pada 01:20
bung kres…bisa ga bikin tulisan yg lbh pnjg lgi…semua tulisan anda menarik