“Perempuan-Perempuan Liar” tuntas sudah. Tidak kusimak dengan saksama serupa apa jalan ceritanya. Sebab memang bukan untuk itu kuberani suluk dalam gulita dan mau dengan jiwa besar mencium bau pengap ruang bioskop yang berubah rupa jadi kubangan lendir. Seberapa pengap bau lendir itu yang sudah sedang kuselami.

Aku yang terakhir melangkahkan kaki keluar ruangan. Di ujung pintu di balik pilar penuh coretan gelap berdiri seorang perempuan yang masih kukenal jelas wajahnya. Dialah yang pada pukul lima sore tadi menawarkan jasa agar aku ditemaninya. Diteman-menemani menyisir birahi yang walau sekejap. Diteman-menemaninya memberontak terhadap kecamuk kejam lingkungan yang setiap saat menyiksanya menjadi manusia yang tidak berdaya.

Aku mendekat dan mengajaknya bicara. Ia melepas senyum dari kedua belah bibirnya yang berperona lila. Tidak ada kesan manja, justru tampak seksi dan genit. Kujulurkan tangan memperkenalkan diri. Jari-jari lembutnya bercat kuku citrine skin food menyambut pasti. “Dina” demikian namanya. Jawa Barat asalnya, katanya lebih lanjut.

Effortless dengan celana pendek brokat mini dibalut atasan transparan melingkar leher penih lipit, Dina tampak sporty malam hari itu. Bahkan, perempuan berambut pirang itu lebih tepat disebut sebagai perempuan petarung. Sandal long lasting bertali gladiator yang meliput kakinya menunjuk dengan jelas siapa Dina.

Dina bukan perempuan yang pasrah pada nasib yang memenderitakan. Di tengah kepungan peristiwa kejam yang meliputinya, perempuan 20 tahun itu berusaha untuk terus keluar menantang, dengan apa pun caranya, termasuk sekalipun dengan sadar membiarkan dirinya terbenam dalam kubangan lendir.

“Aku pergi dari rumah sejak usia 14 tahun. Pernah di Makasar, Kalimantan, Surabaya dan akhirnya kembali ke Jakarta” kisahnya sambil melepas kepulan-kepulan asap dari kedua belah bibir mungilnya. “Susah cari duit, mau sekolah nggak ada duit apalagi kuliah mas!” lanjutnya. “Di sini baru beberapa hari ini aja, lumayan dua ratus tiga ratus ribu semalam” tutupnya.

Bukan merupakan sebuah pekerjaan yang memalukan. Demikian kisah Dina. Koruptor, maling dan preman menurutnya jauh lebih kejam dan memalukan ketimbang bekerja sebagai seorang penjaja cinta. “Dina, gak nyakitin siapa-siapa, malah bikin orang senang dan bahagia”. Ia memberi alasan. “Intinya, kita harus tahu apa yang kita buat, dan memberikan yang terbaik untuk siapa pun” lanjutnya.

Grand theatre Senen kian ramai. Malam sudah pukul sepuluh. Dina memberikan banyak hal kepadaku, demikian juga sebaliknya. Kami habiskan dalam kisah dan cerita. Dina menumpahkan semuanya. Hingga akhirnya ia mengatakan bahwa suatu saat nanti kisah kelam yang dilaluinya akan tuntas. Ia bercita-cita hendak menjadi guru sekolah dasar di kampungnya. Cita-cita yang bagiku jauh panggang dari api.

Hendak Dina mengajarkan apa? Tanyaku berulang. Namun, aku menjadi semakin yakin seperti apa seharusnya seseorang itu menjalani hidup dan kehidupan. Dina adalah satu dari sekian banyak orang yang tidak hendak menjadikan dirinya ditiru oleh orang lain karena keburukannya. Lantaran itu ia memilih menjadi guru, yang bukan hanya mengajarkan tentang kebaikan dan kebenaran, tetapi juga mengajarkan tentang bagaimana seharusnya berproses dalam kehidupan.