Selasa, 1 November 20011. Merpati Modern Ark 60 (MA-60) propeller dengan rute penerbangan Labuan Bajo NTT-Denpasar Bali sudah di atas tiga ribu kaki. Jauh di atas awan, diliput langit yang cerah, aku disuguhkan sebuah kisah tidak biasa dari orang yang luar biasa.

Inilah kisahnya. Di sampingku, duduk seorang John DJonga di seat number 1A. Seorang pastor katolik yang lama tinggal di Papua yang aku kenal walau hanya (baru) sebentar, tetapi ‘gayanya’ (kesaksian hidupnya) dan juga kisah tentangnya di tanah Papua, memendar sejuta tanya dalam ruang kepala.

Aku melihat dengan ekor mata. Sesekali ia melempar padang ke luar jendela, sepertinya hendak melihat serupa apa wajah alam nusa tenggara. Mungkin ia sedang bertanya, mengapa harus jauh pergi ke tanah Papua, sedang Nusa Tenggara pun tidak kalah indah. Bentangan awan putih bagai permadani. Mendung menggelantung hendak tumpahkan hujan.

Sesekali ia mendekatkan jarak, matanya dikerut kecil hanya hendak melihat anak arlojinya, seperti memastikan jam sudah menunjukkan pukul berapa. Mungkin pula ia sedang memastikan tentang usia sebuah pengabdian. Anak arloji yang berdetak perlahan tanpa sadar sudah mengantarnya jauh bergelut dengan semua dan segala tentang Papua. Ada sesuatu yang belum terwujud, maka ia harus bergegas kembali. Anak arlojinya memanggil bahwa Papua menanti.

Sesekali ia menggerakkan anggota badannya. Kedua tangannya kadang dilipat di dada. Kadang dijulurkan. Ia tidak pernah bosan menyesuaikan diri dengan keadaan. Tubuh yang damai, tempat yang tentram dan jiwa yang nyaman bukan hanya sekedar pencarian tetapi juga tujuan baginya. Rupa-rupanya, gerak tubuhnya mengisyaratkan pemberontakan yang berulang terhadap keadaan yang membelenggu tempat, tubuh dan jiwa.

Sesekali pula melepas suara. Entah tanya, entah komentar. Ia tidak menyembunyikan apa-apa. Kedua belah bibirnya mengatakan dan mengomentari tentang keapa-ada-an. Seperti apa yang dilihat, seperti apa yang dirasakan, serupa itu yang dikata-komentarkan. Namun sejatinya selalu ia mencerna. Kesalahaan dikatakan sebagai sebuah kesalahan, kebenaran pun dikatakan dan diperjuangkannya.

Kemudian kami diam tanpa kata. Kami larut dalam ruang pikiran kami masing-masing. Aku melebarkan halaman majalah ‘Merpati Archipelago’ dan membiarkan mata jatuh menumbuk sebuah tulisan yang berjudul ‘Jembatan Udara Nusantara’ yang entah ditulis oleh siapa.

Dalam sebuah paragraf tertulis “Tahun 1963 Irian Barat (kini disebut Papua) pindah tangan dari pemerintah Belanda ke pemerintah Indonesia. NV De Kroonduif, perusahaan penerbangan Belanda di Irian Barat diserahkan kepada Garuda Indonesian Airways (kini Garuda Indonesia) termasuk tiga pesawat Dakota DC-3, dua Twin Otter dan satu Breaver. Namun, karena Garuda memusatkan pada pengembangan usaha sebagai flag carrier, semua konsumsi penerbangan di Irian Barat dan fasilitas teknisnya diserahkan kepada Merpai Nusantara…”

Namun, aku tak suluk benar pada halaman majalah yang kubaca, karena sesekali aku mencuri-curi pandang, mencoba menangkap dengan ekor mata, perihal apa yang dilakukan sang pejuang HAM di tanah Papua itu.

Tidak berselang lama, terekam mata, ia sedang mencoba mengambil posisi duduk yang nyaman. Namun mau apa dikata, Merpati jarang memberikan rasa aman. Dan bayangan saya, jika ada pesawat yang paling nyaman dan aman, maka pesawat itu adalah Cendrawasih. Tapi sayang pesawat yang bernama itu belum ada, namun mungkin juga sudah sedang dirancang.

Dalam situasi yang tidak terlalu nyaman, putra kelahiran Nunur Manggarai Timur NTT itu mengeluarkan sebuah buku dari ranselnya. Jelas terbaca judul besar pada sampulnya “Jati Diri Manusiawi dan Injil Perdamaian” yang di-editor-i Georg Kirchberger dan John Manford Prior.

Dalam hati aku berujar, maka tepatlah nas kitab suci yang berbunyi sabda sudah menjadi daging dan tinggal di antara kita (dan yang sekarang duduk di sampingku). Ya, mengapa tidak. Terlepas dari apa isi catatan panjang yang tertuang dalam buku terbitan Ledalero dan Candraditya pada 2009 itu, sesungguhnya  judul itu (yang adalah sabda-kata) sudah sangat jelas mengisyarakatkan tentang siapa sesungguhnya John Djonga (yang adalah pribadi berdaging-tubuh yang hidup).

Sesosok tubuh, seorang pribadi yang sudah sedang tinggal di antara kaum tertindas, yang (sementara ini) sudah dikenal luas dalam memperjuangkan jati diri manusiawi masyarakat pribumi Papua. Apakah aku terlampaui berlebihan? Rupa-rupanya tidak. Karena siapa pun sudah mengakuinya, dan kasat mata, anugerah/pengharagaan ‘Yap Thiam Hien pada Desember 2009 adalah bukti atas kepuduliannya memperjuangkan hak-hak kaum minoritas yang adalah penduduk pribumi tanah Papua.

Masih direkam ekor mata. Tampak, ia mengencangkan sabuk pengaman. Kemudian mendekatkan jarak pandang mengarah ke buku bersampul ksatria bertelanjang dada dengan obor menyala di tangannya.  Kemudian, halaman berikut dari buku tebal itu dibukanya. Tampak, matanya menyapu daftar isi secara cepat. Selanjutnya, dengan telunjuknya ia membelah halaman buku tersebut dan berhenti di halaman 112.

Aku tetap berpura-pura tidak melihat. Walau sesungguhnya aku turut serta membaca dengan ekor mata. “Menggapai Kembali Kemanusiaan: Perjuangan Bangsa Papua Demi Hak Asasi Manusia (HAM)” demikian judul catatan pada halaman yang dibuka. Di bawahnya tertera nama penulisnya, At Ipenburg. Keterangan atas At Ipenburg yang tertuang dalam catatan kaki terlalu kecil untuk dibaca, sehingga aku sulit untuk merekam dengan ekor mata siapa sejatinya Ipenburg.

 “Tahun 1962, Papua Barat, bagian barat pulau Nugini, diduduki Indonesia. Ini adalah proses Indonesianisasi yang dipaksakan. Suku-suku pribumi Papua sejak itu menderita pelecehan Hak Asasi Manusia (HAM)  yang serius dan sistematis” selanjutnya pada baris di bawahnya “Orang-orang Papua berupaya menggapai kembali kemanusiaan mereka yang sepenuhnya melalui….” Titik.

Melalui, melalui apa? Meledak-ledak tanya dalam ruang kepalaku. Melalui revitalisasi kehidupan sosial-budaya demi mengangkat harkat dan martabat manusia Papua? atau melalui memulangkan semua para pendatang dan tentara dari tanah Papua? atau melalui perang seperti kaum zapatista di Amerika Latin? atau kalau memang terpaksa melalui perang melepaskan diri dari NKRI atau melalui…melalui…melalui…melalaui apa?

Ingin tahuku memuncak, tetapi aku tidak diberi sempat untuk membaca hingga tuntas. Buku yang (sama-sama) dibaca tiba-tiba saja ditutup. Alasannya sangat sederhana, namun membuat saya terperanjat. Ternyata ‘sang sabda yang sudah menjadi daging itu’ tertidur pulas. Sehingga tanya menampar-nampar ruang kepala, membuka-nganga ruang tafsir yang sesungguhnya lebih tepat disebut penasaran.

Ya Tuhan, apa membaca siapa, atau siapa membaca apa? Tetapi inilah kuasa-Mu, bahwa hari ini, di atas tiga ribu kaki, antara Labuan Bajo dan Denpasar, aku menemukan sebuah keajaiban. Kataku dalam hati.

Mengapa tidak,  sebab apa yang sudah sedang dibaca John Djonga sudah sedang ditulisnya pula dalam setiap kesaksian hidupnya sebagai gembala umat dan pejuang hak asasi manusia (jati diri manusiawi) kaum minoritas Papua. Jadi tidak heran kalau siapa pun harus membacanya, termasuk At Inpenburg yang (jika mau jujur dengan tulus meminta) harus membaca John Djonga dan selanjutnya menulis tentangnya.

Pesawat buatan AVIC  I itu terus melaju. Mesin turbotropnya meraung-raung di atas langit nan jauh. Namun suara bising itu tidak membuat Jhon Jonga terbangun. Dalam ketidaknyamanan itu dia tetap tertidur. Dia adalah mungkin satu dari 56 enam penumpang lain termasuk aku yang tidak merisaukan keadaan, sejauh keadaan memberikan ruang untuk menciptakan ketentraman.

Walaupun sesungguhnya pesawat berdurasi tempuh 45 sampai 75 menit itu bisa saja membantingnya ke laut dan menguburnya di bawah kedalaman tujuh ratus meter. Rupa-rupanya John Djonga tidak peduli sekalipun Merpati membantingnya. Baginya, bunyi mesin Merpati masih terlalu kecil. Garuda yang punya jelajah terbang tak tertandingi, dengan raungun mesin seperti suara seribu bedil saja, saya pikir, John Djonga akan tetap tentram tertidur dan bermimpi.

Sampai-sampai aku membayangkan bahwa dalam tidurnya yang pulas, ia sudah sedang dan akan selalu bermimpi tentang sebuah pesawat sendiri yang bernama Cendrawasih. Di mana bersama jiwa-jiwa yang telah pergi semisal Arnold Clemens Ap dan Eddy Mofe, Jafet Rumkorem dan Thomas Wanggai termasuk Theis Eluay (serta) bersama ribuan kaum minoritas papua yang jati dirinya tergadai oleh penindasan kekuasaan akan melayang jauh terbang tinggi menggapai kemanusiaan mereka yang sepenuhnya melalui…

Selalu, ketika sampai di sepatah kata ini, ‘melalui..” aku berhenti melanjutkan. Karena aku tidak tahu yang akan terjadi. Bukan lantaran buku sudah ditutup. Tetapi karena ini sesungguhnya, kata J.B. Metz adalah sebuah memoria passionis. Sederetan titik-titik yang bisa saja dijawab entah melalui apa sebagai buah dari kenangan akan penderitaan yang panjang. ‘Melalui..’ itu adalah sebuah jawaban dan bahkan ledakan atas kekuatan tersembunyi yang menyimpan energi laten yang pada saatnya akan mengubah mimpi jadi fakta, mengubah kata jadi daging.

“Pater, kita mau sampai, sebentar lagi mendarat” saya membangunkannya. “ya, ya Itu sudah…hmm, buta eh” jawabnya singkat menyengat. Akhirnya, Merpati Modern Ark 60 (MA-60) propeller mendarat juga. Jauh di atas tiga ribu kaki, ternyata John Djonga tidak tidur. Namun demikian bukan berarti dia tidak bermimpi. Karena di atas pesawat Merpati yang kami tumpangi, mungkin saja ia sudah sedang bermimpi tentang sebuah pesawat yang bernama Cendrawasih.

Benar begitu kah Pater? “ya, ya Itu sudah…hmm, buta eh”