Sajak adalah tentang sesuatu makna. Tentang segala entah yang dapat kita katakan dengan kata maupun yang tak terkatakan. Sajak serupa mengungkapkan tentang semua, memaklumkan tentang segala. Tentang yang terpikirkan dan tersembunyi. Tentang yang nyata dan pun yang misteri.
Lantaran itu menulis-lahirkan sajak tidak serupa menulis-lahirkan kisah-kisah. Melampaui semua kisah yang terbaca, sajak adalah soal pelampauan atas kata.
Kisah mula-mula menulis-lahirkan sajak adalah sengsara. Permenungan yang panjang di taman kehidupan hingga sampai pada membiarkan kata ‘disandra’ kejahatan makhluk yang bernama manusia adalah totalitas penyerahan yang tidak terbantahkan.
Sekuplet sajak yang selalu kita penggal, terdengar ‘Biarlah piala ini berlalu dari pada-Ku’ Sesungguhnya ini bukan pantun jenaka, lelucon dan apalagi cerita dongeng. Monolog yang terbalut dalam doa itu adalah tentang totalitas penyerahan diri.
Puncak dari semua totalitas penyerahan diri adalah wafat dan kebangkitan dalam dan dari sekedar sebagai jasad. Itulah Sajak yang dalam kata tidak hanya harus tewas dalam peristiwa, tetapi juga membuat peristiwa kehidupan bergetar-beriak-bergelombang.
Serupa kembali hadir dalam kehidupan, sajak itu hidup dalam diam selanjutnya lahir kembali pada ujung-ujung lidah, pada ujung-ujung pena, yang selalu diberi rasa, diberi warna. Sampai akhirnya, pada setiap tepi sajak yang terefleksikan, kita menjumpa dengan sesuatu makna yang bernama pembebasan paripurna segenap kehidupan dari segala dan semua kerancuan (kata).












































1 tanggapan kepada “Sajak”
Jus Ekstrak kulit Manggis
Oktober 19th, 2011 pada 20:54
infonya cukup bagus tapi sebelumnya juga saya sudah cukup tau meskipun sedikit .. tapi maksih kak pengetahuan kku jadi bertambah .