Selalu, siapa pun dari kita, kadang penulis dan juga anda mengatakan dengan sinis ‘sedikitlah berbicara dan banyaklah bekerja’. Atau dengan lain kalimat ‘berbicara tidak mengubah apa pun. Jika hendak melakukan perubahan maka yang mesti dilakukan adalah melaksanakan aktivitas yang kongkret’. Ringkasnya, ada kesan bahwa berteori tidak sedasyat tindakan nyata, jika hendak melakukan sebuah perubahan.

Ada benarnya juga pernyataan-pernyataan di atas. ‘Kebenaran’ tersebut berlandaskan pada kebiasaan yang selalu kita dengar, saksikan dan bahkan alami sendiri. Lantaran itu sebagian dari kita melibatkan diri pada sesuatu yang kongkret berupa kerja. Bahkan tidak jarang kadang mengagungkannya sebagai yang terbaik. Selanjutnya ada sebagian yang lain berpendapat bahwa berteori, berbicacara dan berkata haruslah seimbang dengan perbuatan nyata. Jika tidak, sudah barang tentu akan timpang.

Pandangan dan tanggapan serupa di atas sudah lazim didengar, disaksikan dan pun dipraktekan. Oleh karenanya tidak menjadi perhatian yang penting penulis dalam catatan kecil ini. Yang penting, sekaligus menjadi inti dari catatan ini adalah menyoal fakta berbicara, berteori dan atau berkata-kata sebagai sebuah aktivitas yang juga kongkret.

Sebelum menjawab pertanyaan mengapa, terlebih dahulu penulis kembali menegaskan bahwa berbicara, berkata dan atau berteori adalah juga merupakan salah satu bentuk tindakan yang kongkret.

Hemat penulis, ada dua medium kongkretisasi ‘mimpi’ dan atau visi manusia dalam hidup dan kehidupannya yakni dalam dan melalui medium yang bernama kerja/karya dan juga bahasa. Perihal medium kerja/kerja sudah terlampaui sering kita dengar dan bahas. Bahkan sampai menyebutkan kerja sebagai yang kongkret. Namun melalui medium berupa bahasa kita alpa.

Otto Jespersen dalam bukunya, Language, Its Development and Origin (bdk. Origin of Language) mengatakan secara gamblang bahwa bahasa adalah activity. Bahasa adalah sebuah aktivitas. Beraktivitas bukan hanya sekedar tumbuh, hidup dan bergerak, tetapi juga berpengaruh terhadap perubahan. Jika bahasa adalah aktivitas maka sejatinya dia adalah sesuatu yang kongkret, bukan mengawang-awang dan atau mimpi.

Lebih jauh dari Jespersen, penulis berpendapat bahwa berbahasa, berbicara, dan atau berkata sesungguhnya tidak sekedar sebagai aktivits kongkret manusia, tetapi juga merupakan aktivitas kongkret yang paling berat dan melelahkan. Melampaui dari sekedar mengerahkan tenaga fisik, untuk berbicara dan atau berteori kita membutuhkan pikiran dan refleksi yang juga intensif.

Hanya saja soalnya adalah mata telanjang kita tidak pernah mampu melihatnya sebagai sebuah aktivitas yang juga kongkret. Mata telanjang kita selalu tertumbuk pada benda-benda, pada warna-warna, pada langkah kaki dan gerak tangah, singkatnya pada sesuatu yang selanjutnya kita sebut ‘yang nyata’.

Padahal aktivitas kongkret manusia tidak hanya bermediumkan kerja dalam persentuhannya dengan benda-benda, tetapi juga bermediumkan bahasa dalam aktivitasnya yang nyata yang berupa berkata dan atau berteori.

Lantaran itu, catatan kecil ini selain kembali mengangkat topic penting bahwa antara bekerja dan berbicara perlu untuk diseimbangkan, juga yang lebih penting dari itu adalah menegaskan bahwa yang disebut tindakan kongkret tidak hanya kerja/karya, tetapi juga berbicara dan atau berkata.

About these ads