Sesungguhnya sesuatu yang disebut malam-gelap, tidak segulita yang dilihat, tidak sepekat yang dipandang, pun tidak sesepi-sunyi-sendiri sebagaimana yang dialami. Sebab jauh di kedalaman malam-gelap ada terang yang tak terkatakan. Terang yang jauh lebih terang dari sesuatu yang disebut terang sebagaimana yang dibayangkan, dilihat atau dipandang mata. Terang yang lebih terang dari siang.
Lantaran itulah pada sesuatu yang disebut malam selalu ada rahasia yang tersingkap, selalu ada misteri yang tersibak.
Ada dua kisah tentang malam, tentang gelap-gulita yang menahbiskan makna besar yang pernah kita dengar dan baca, bahkan kita yakini sebagai malam-gelap yang menyelamatkan. Yakni gulita di puncak Kalvari dan kisah tentang malam Lailatul Kadar.
Tepat pukul tiga petang hari, pada ketika Yesus selesai mengucapkan ‘Selesailah sudah’ bumi berguncang dan semesta menjadi gulita. Pada ketika itu semesta menjadi sadar bahwa Yesus adalah sungguh ‘Anak Allah’. Dalam gulita yang mencekam segenap semesta mengakui ke-Tuhan-an Yesus. Itu kisah tentang sebuah gelap yang menyibakkan makna besar.
Selanjutnya adalah kisah tentang gulita yang bernama Malam Lailatul Qadar. Sebagaimana yang dilukiskan dalam Al-Qadr 1-5 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”
Mengapa harus malam-gelap? Tidak ada jawaban yang tuntas. Tafsiran teologis pun tidak cukup menjawabnya. Namun, di balik dua kisah di atas saya dan juga anda bias membayangkan bahwa hanya pada ketika malam-gelap segenap semesta menyadari bahwa ada sesuatu yang lain yang lebih besar dari apa dan siapapun dalam semesta. Sesuatu yang besar, yang melampaui alam semesta itulah hakikat-nya malam-gelap.
Kepada yang melampaui segenap semesta itu kita mengadu, kita bersandar, kita panjatkan harapan-harpan, pun pada saat yang sama kita dikarunia insaf, kita menerima anugerah keselamatan. Kita diselamatkan. Inilah peristiwa di balik rahasia malam-gelap. Bahwa puncak refleksi kita tentang malam-gelap selalu menjumpakan kita dengan terang yang tak terkatakan. Terang yang jauh lebih terang dari sesuatu yang disebut terang sebagaimana yang dibayangkan, dilihat atau dipandang mata. Terang yang lebih terang dari siang.
Maka, jadikanlah malam-malam kita sebagai malam yang menyelamatkan. Selamilah kedalaman gelap, suluklah ke kedalaman gulita dalam refleksi-renung yang khusuk-nikmat. Dalam kesendirian kita menemukan kekuatan. Dalam kegelapan kita menemukan terang. Dalam malam kita temukan cahaya.
Kekuatan-terang-cahaya yang membuat kita kian bermartabat dalam kehidupan, bukan untuk siapa dan apa, tetapi untuk (memulai dari) diri kita sendiri agar selanjutnya menjadi berarti kini dan dalam kehidupan yang lain.










































