Suatu ketika saya ditanya oleh seorang kawan di Padang-Sumetera Barat “Apakah kalian di Flores punya nama berdasarkan marga seperti di Batak?” Agak kerepotan saya menjawabnya “Saya tidak tahu persis apakah ada marga atau tidak, tapi yang pasti bahwa di dua wilayah di Flores khususnya Sikka dan Flores Timur terdapat nama-nama yang sebelumnya ‘diimport’ dari Portugis seperti family da Costa, atau da Gomes atau da Cunha” Kemudian dia melanjutkan pertanyaan “Kalau di kabupatenmu?” spontan saya menjawab “Kalau di daerahku di Nagekeo pesisir selatan, saya kira sebagian di daerah Ngada dan sebagian lagi di daerah Lio pemberian namanya sangat unik”
Mendengar jawaban itu, kawan saya sedikit mengernyitkan dahi tanda penasaran. Kemudian saya melanjutkan bahwa “Benar-benar unik kawan, karena ada sebagian keturunan kelurga di daerah kami yang menggunakan nama belakangnya dengan nama-nama pohon, binatang dan laut” Kawan saya terperanjat.
Saya melanjutkan “Ada sebagian keturan yang menggunakan nama ‘sawu’ dan sawu itu sama persis dengan nama laut sawu. Ada juga sebagian keturunan yang menggunakan nama ‘jara’ dan jara itu adalah kuda. Ada sebagian lagi yang menggunakan nama ‘kedi’ dan kedi itu adalah gunung, ada sebagian lagi yang menggunakan nama ‘muku’ dan muku itu adalah pisang, ada sebagian lagi yang menggunakan nama ‘kaju’ dan kaju itu adalah kayu, ada sebagian lagi yang menggunakan nama ‘watu’ dan watu adalah batu, dan masih banyak lagi termasuk nama saya sendiri ‘bheda’ yang artinya guntur/petir”
Kawan saya terkekeh-kekeh. Tapi kekehannya berhenti ketika saya menjelaskan alasan pemberian atas nama-nama itu bahwa sadar atau tidak ini bagian dari hubungan kedekatan antara manusia dengan alam. Ada relasi yang masih terjaga dengan baik antara manusia dengan alam. Bahwa antara manusia dan alam, di antara keduanya saling ‘menamai’ dan ‘memberi tanda’.
Dalam hati kecil, sebenarnya saya tidak tahu persis historiologinya mengapa nenek moyang orang Nagekeo (sebagian di Bajawa dan sebagian lagi di Lio) memberikan nama-nama itu secara turun-temurun. Tapi saya mencoba berasumsi bahwa semuanya beralasan kosmologik. Ini benar atau tidak memang masih bisa diperdebatkan dan dibuka ruang diskusi.












































1 tanggapan kepada “Menyoal Nama-Nama Orang Nagekeo-Flores, Sebuah Catatan Pinggir”
jelly gamat
September 13th, 2011 pada 19:05
share yang sangat bagus dan banyak manfaatya..
thanks gan