Kata seorang kawan, tarian perang apa pun gerak dan karakternya merupakan kekerasan yang terstruktur-kemas dalam dan mengatasnamakan seni. Hal itu bisa dimaklumi jika dilihat dari resiko fisik yang diderita oleh para penari. Para penari tidak hanya terluka atau tersayat karena disabet ujung tali pelecut atau karena dilempar tombak bambu dan beling yang ditinju, tetapi juga lantaran resiko itu dirayakan sebagai yang baik.
Jika ditelisik dari sisi itu, tidak hanya akan melahirkan debat panjang, tetapi juga terlalu dangkal untuk dimaklumi. Sebab, sebagai sebuah produk budi dan daya manusia, tarian perang merupakan hasil dari sebuah proses yang panjang yang dalam perkembangannya tidak hanya sekedar mengenang kegagahannya, tetapi juga mengedepankan perayaan perjuangan dan kemenangan (social politik) solidaritas dan kebersamaan (moral sosial), serta puji dan syukur kepada yang Mahakuasa (teologis).
Di belahan Nusa Tenggara Timur tarian perang yang mengedepankan unsur-unsur di atas muncul dalam berbagai bentuk dan ragam. Di Sumba ada Pasola, di Nagekeo ada Tarian Etu dan di Manggarai Raya Caci. Namun pada kesempatan ini saya hanya hendak menampilkan beberapa foto yang menunjukkan keelokan tarian perang yang bernama Caci dari Manggarai Raya. Dari gambar-gambar ini pembaca bisa menafsirkannya sendiri sesungguhnya seperti apa budaya itu diwariskan dan dihargai.

PARA PETARUNG.Sejarah tarian Caci adalah sebuah bentuk tarian perang yang dibawakan oleh dua orang penari laki-laki. Secara etimologi tarian caci berasal dari dua suku kata ‘ca’ berarti satu dan ‘ci’ berarti uji.

Diringi musik dari Gong dan Gendang, dalam foto ini tampak sebagian besar pemusiknya adalah kaum hawa

Seklompok orang memainkan DANDING, mereka bukan sembarang kelompok tetapi mereka adalah paduan penyemangat yang melejitkan syair-syair heroik

Penonton yang menyaksikan Tarian Caci pun kadang larut dalam tarian, tidak hanya penonton lokal, wisatawan asing pun 'berjingkrak'

Belajar Mewarisi Tradisi. Di luar arena, sekelompok bocah memeragakan Caci. Mereka tidak sedang mewarisi kekerasan, tetapi menanamkan tradisi dalam ingatan mereka.

















































1 tanggapan kepada “Gagahnya Tarian Caci (Foto-Foto), Catatan Perjalanan 2”
xamthone plus
September 6th, 2011 pada 13:02
wah sangat membahayakan nie kalo bukan ahli nya