Ada femomena menarik yang terjadi sementara ini di Labuan Bajo, tepi barat pulau Flores. Semua orang sedang ramai berebut ‘view’. Semua berlomba menaruh jejak pada tebing-tebing dan puncak-puncak bukit, hanya untuk satu hal yang mengangumkan yakni memanjakan mata menikmati indahnya bening arus selat yang meliuk di antara ratusan pulau dan teduhnya bias senja yang pecah di atas atap-atap kapal.
Tebing-tebing curam, di tepi barat pulau Scorpio itu, dua puluhan tahun silam bukan sesuatu yang menjanjikan. Bahkan sampai dengan sepuluh tahun lalu Labuan Bajo masih tergolong kota mati. Pada ketika itu, tebing-tebing dan puncak-puncak bukit hanya menjadi tempatnya satwa liar seperti monyet, sapi dan kambing.
Namun, setelah Manggarai Raya dipilah menjadi tiga kabupaten sejak delapan tahun silam, dan setahun belakangan digencarnya promosi ‘Vote Komodo’ sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia, semuanya menjadi berubah.
Puncak-puncak bukit dan tebing-tebing curam di Labuan Bajo menjadi sasaran serbuan para ‘pemodal’ baik lokal maupun asing. Sebagian wilayah pada tebing-tebing di pesisir Labuan Bajo bahkan dibeli oleh warga asing dengan harga melambung untuk dijadikan sebagai villa, hotel dan resto.
“Dulu, kami kasih-kasih saja tanah di pesisir itu untuk orang-orang Bajo, Bugis dan Bima, sekarang ternyata tanah yang ada di tebing-tebing itu harganya ratusan sampai miliaran rupiah” aku seorang penduduk lokal. “Sekarang kami baru menyesal, kami kira tanah-tanah yang ada di tebing-tebing itu tidak ada manfaatnya” Lanjutnya.
Sumber gambar: http://forum.vivanews.com/showthread.php?p=1627630










































