Sebuah pesan puitik, mungkin juga syair lagu atau kata nada dikirimkan sahabat berjudul ‘Flobamora Memanggil’. Sekuplet dari pesan puitik itu bernada memohon “Flobamora memanggilmu untuk kembali, tidakkah kau peduli tinggalkan kami sendiri, jika benar kau tidak kembali, maka menarilah di rantau negeri sejejak Ja’i atau alun-dendangkan Bale Nagi,”
Membaca pesan puitik itu, saya menjadi terharu, serentak itu juga sadar bahwa sahabatku bukan sekedar mengirimkan sebuah ajakan biasa, atau sebuah harapan yang juga kebetulan. Tetapi sebuah letupan dari endapan rasa perihal sesuatu yang entah, yang mungkin hilang atau mencemaskan. Namun, untuk tidak larut dalam keharuan dan hendak menguatkannya dari rantau negeri terjauh, saya membalas harapannya ‘Ke mana Nagi hendak berlari, jika bukan ke dalam hati. Bagaimana Ja’I hendak menari jika bukan dari kaki-kaki kita ini, sudah kami rasa Flobamora merindu kembali, dan kami janji dengan cara kami, kami pasti kembali”
Itu kisah setahun yang lalu perihal pinta seorang sahabat untuk para sahabatnya di perantauan agar dengan caranya masing-masing kembali mengingat-kenang-bangun bumi Flores-Sumba-Timor-Alor dan ratusan pulau kecil lainnya di Nusa Tenggara Timur ini. Pertanyaannya adalah mengapa ada kecemasan, dan selanjutnya bagaimana kami di perantauan bisa memberi andil. Tidak sulit memang untuk menjawab dua pertanyaan itu. Karena selain akan melahirkan banyak jawaban juga jawaban-jawaban tersebut mungkin saja hanya berangkat dari kemasan kesan-kesan.
Dua baris kalimat dari pesannya, pada ketika itu, coba saya tafsirkan. Pertama adalah ‘Tidakkah kau peduli tinggalkan kami sendiri’ dan kedua adalah ‘maka menarilah di rantau negeri sejejak Ja’i atau alun-dendangkan Bale Nagi’. Saya menduga di balik dua baris kalimat itu ada ‘beban’ yang tidak tuntas ditanggungnya. Dan itulah yang menjadi jantung pesannya dalam pesannya ketika itu.
Sebaris kalimat pertama mengandung makna ajakan untuk bersatu, saya kira tidak lebih dari itu. Di mana pun putra dan putri Flobamora berada, baik di bumi Flobamora maupun di negeri perantauan kebersamaan dan persatuan harus tetap terjaga. Dengan cara apakah hal itu menjadi mungkin? Jawabannya ada pada baris kalimat kedua ‘menarilah di rantau negeri sejejak Ja’i atau alun-dendangkan Bale Nagi’.
Well, bukan aspek sosio-politik yang memungkinkan putra-putri Flobamora bersatu secara lebih nyaman, akrab dan solid tetapi faktor sosio-kultural-lah yang memungkinkan kita disatupungutkan dalam satu nama besar Flobamora. Kongkretnya dalam dan melalui kekhasan dan keunikan produk-produk budaya, seperti musik dan tarian serta atribut kebudayaan lainnya. Dalam dan melalui itu kita menjadi percaya diri bahwa kita adalah putra dan putri Flobamora.
Dan tentang, dalam dan dari aspek itu kita percaya sungguh. Sekarang tinggal kita mengasah kepekaan dan kepedulian pada jati diri kita sebagai putra-putri Flobamora: dalam dan melalui produk budaya manakah kita mesti lambungkan nama sehingga kita selalu merasa terpanggil untuk kembali dan kembali mengingat dan membangun titirasa kita tercinta ini.
Dua pekan terakhir, saya bersentuhan dengan sebuah kelompok/grup dalam facebook yang bagi saya sangat ‘revolusioner’ yang bernama ‘Anak NTT Bermusik Independen (ANBI)”. Disebut revolusiner karena mengusung garis ‘Independen’. Sebuah makna kata yang tidak hendak diperkosai oleh kepentingan lain selain kepentingan kultural Flobamora. Makna lebih dari misi-visi tersebut tergambar dalam jati dirinya seperti yang dicatat oleh Boy Carvalho Clemens dalam Anak NTT Bermusuk Independen, why? (part 2/Doc)
“….Di sinilah, pilihan cerdas menggunakan istilah Anak NTT saya akui. Ini menembus batas-batas primordial suku-budaya-bahasa di NTT, serat menembus batas geografis di mana kita kini berdiam. Istilah Anak NTT membuat kita bisa merasa sebagai satu keluarga, bahkan juga bisa merangkul mereka yang juga menjadi keluarga karena mencintai NTT atau menikah dengan Anak NTT, seperti sebagian kita yang terlibat di grup ini. Ikatan darah membentuk ikatan kasih. Anak-anak kita pun nanti, di manapun mereka lahir, bisa tetap dengan bangga menegakkan kepala mereka sebagai orang NTT juga, karena di tubuh mereka juga mengalir darah yang sama. Anak NTT, atau tidak sama sekali!
Lalu, kenapa Bermusik? Sebagian telah disampaikan dalam postingan terdahulu, saya hanya menambahkan beberapa hal. Pengalaman hidup di NTT bisa dengan mudah menunjukkan bahwa banyak hal lebih gampang memecah-belah daripada mempersatukan. Konflik tanah bisa dengan gampang memicu perang-tanding. Proses politik-seperti Pilkada-bisa membuat orang dikotak-kotakkan berdasarkan suku, agama, atau kampong asalnya. Pembangunan lebih banyak menghasilkan kesenjangan daripada mensejahterakan. Bahkan konflik bisa terjadi akibat pemekaran daerah yang yang lebih berdasarkan kepentingan sesaat oknum politisi lokal dengan memanfaatkan sentiment primordial, ketimbang kesejahteraan masyarakat. Belum lagi ikutan masalah sosial yang kini mengemuka di NTT, seperti kasus HIV/AIDS, Narkoba, mabuk, kemiskinan, pengangguran, putus sekolah, dan segudang masalah lain. Ini semua lebih dari cukup untuk membunuh seseorang bahkan sebelum dia bangun dari tidur!
Apa yang bisa dilakukan musik? Bahwa musik adalah budaya, telah saya sampaikan sebelumnya. Tapi, lebih dari sekedar budaya, musik menghadirkan hal yang sangat kita butuhkan: HARAPAN! Harapan bahwa masih ada cinta yang bisa kita dapatkan. Bahwa masih ada peluang untuk menemukan kebaikan. Bahwa masih ada orang tua, saudara, kampung halaman yang menunggu kita untuk pulang. Bahwa masih ada alasan untuk bersyukur dan bersukacita.
Musik juga membentuk rasa. Mengisi kekosongan jiwa yang penat terhimpit hidup yang keras. Musik membuat kita masih punya hati. Ini sumbangan yang sangat bernilai untuk membangun semangat juang, mengobarkan harapan, menghargai nilai hidup, yang tentu saja sangat berarti bagi pembentukan karakter manusia. Ya, musik akhirnya menjadi modal yang sangat ampuh untuk membangun hidup yang lebih bermakna, di manapun kita berada. Ini sumbangan musik yang paling luar biasa bagi kita, bagi NTT!”
Akhirullkalam, marilah kita membunuh semua kepentingan yang tidak penting. Sudah saatnya kita membuat hal-hal yang lebih penting dari sekedar mengejar kepentingan yang sesaat. Marilah kita mengasah rasa, tajamkan kepedulian dalam syair dan nada. Hanya dengan memaknai garis tradisi, budaya dan bahasa daerah kita, kita dapat menemukan keotentikkan diri kita sebagai orang Flobamora.











































1 tanggapan kepada “Flobamora Memanggil”
amirul
Agustus 23rd, 2011 pada 13:18
ini baru cerminan bangsa kita, alat musik yang diwariskan oleh leluhur kita..