Apa yang anda bayangkan tentang Indonesia, tentang Nusantara jika anda sudah sedang berada di tepi danau Singkarak di Sumatera Barat, atau ketika sudah sedang berada di kaki Brahmana di Prambanan Jawa Tengah, atau ketika sudah sedang meringkuk di balik lontar sembunyikan diri dari buas Komodo di Rinca, atau ketika sudah sedang berada di atas puncak tertinggi danau tiga wanarna Kelimutu Flores atau lebih ke timur ketika sudah sedang meliuk berenang di antara gugusan pulau-pulau di Raja Ampat Papua?

Apa yang sudah sedang (atau akan) anda bayangkan tentangIndonesia? Jika mau jujur anda hanya akan diam termangu, penuh kagum, bangga dan bahkan mungkin saja akan bercampur marah. Mengapa tidak?Indonesiaini indah, nusantara ini penuh pesona. Keindahan dan kekaguman kita pada pesona alam Nusantara membuat kita bangga akan keberadaan tanah air kita.

Namun juga, jika mau jujur, pada saat yang sama kita mengumpat. Mengapa keindahan dan pancaran pesona alam nusantara tidak pernah membekas dalam hati dan sanubari anak bangsa sebagai ‘Panduan Alam’. Seharusnya kita belajar dari keindahan alam tentang keramahtamahan, belajar dari sejuk dan segarnya tentang ketulusan, belajar dari ketenangannya tentang perdamaian, dan belajar dari hijau dan birunya tentang keakraban dan persaudaraan.

Rupa-rupanya kita belum menyentuh hakikat terdalam dari ‘Panduan Alam’ nusantara yang sebenarnya mengajarkan banyak hal tentang nilai-nilai universal seperti cinta, perhatian, kepedulian social, solidaritas, toleransi, perdamaian, penghargaan atas hak asasi dan seterusnya. Kita rupa-rupanya terjebak dalam egoisme ‘kemanusiaan’ dan atau ‘kemakhlukan’ kita bahwa hanya manusialah satu-satunya otoritas tertinggi dalam menentukan kehidupan ini.

Padahal, sesungguhnya tidak. Alam adalah, jika tidak hendak disebut sebagai yang penting dan utama, sesungguhnya adalah salah satu alternatif nilai, guru kehidupan dan sumber inspirasi untuk didalami, dihayati dan selanjutnya diamalkan dalam kehidupan kita setiap hari.

Percayalah, sadar atau tidak sadar, terbukti atau tidak, jika kita secara berulang sudah sedang berada di tepi danau Singkarak di Sumatera Barat, atau ketika sudah sedang berada di kaki Brahmana di Prambanan Jawa Tengah, atau ketika sudah sedang meringkuk di balik lontar sembunyikan diri dari buas Komodo di Rinca, atau ketika sudah sedang berada di atas puncak tertinggi danau tiga wanarna Kelimutu Flores atau lebih ke timur ketika sudah sedang meliuk berenang di antara gugusan pulau-pulau di Raja Ampat Papua, nisacaya kita akan, tidak hanya menjadi sangat Indonesia, tetapi juga murid terbaik dari alam kita sendiri. Pada saat yang sama, keindonesiaan kita tidak tergadai, dan kita akan semakin sadar bahwa kebaikan dan kebenaran adalah di atas segalanya.