Ketika saya (seorang seumando) memegang rapai dan mencoba menabuhnya, tampaknya saya seperti seorang bocah 5 tahun yang tidak peduli pada apa dan siapa, walau suasana sekitarnya tampak kacau. Bayangkan saja demikian: sesekali terdengar suara palu menimpa paku. Juga bunyi gergaji besi mengerat kawat. Juga pecahan suara teriakan orang. Juga bunyi  kendaraan bermotor yang nyaris simpang siur tiada henti.

Dalam ketidaktahuan, seperti seorang bocah, saya mendekatkan jarak kuping ke arah rapa’i, kemudian menabuhnya secara perlahan. Tampaknya memang tidak ada suara lain yang merasuk kuping, selain irama rapa’i ciptaan saya sendiri. Ya, hanya rapa’i yang saya dengar. Ekspresi begitu mendalam. Tabuhannya walau tanpa irama, tetapi saya begitu menikmatinya.

Kesan sebagian orang yang mungkin kebetulan menyaksikan peristiwa itu adalah ‘namanya anak kecil, pasti main-main’. Atau sebagian yang lain ‘anak-anak suka ikut-ikutan’. Atau yang lain lagi ‘Biasa, anak-anak kan nakal’. Dan seterusnya. Ya, saya seperti bocah.

Tetapi saya mencoba untuk meresapi kedalaman ekspresi sendiri, saya  menemukan kesan yang lain, bahwa sesungguhnya saya, sebagaimana halnya sang bocah tidak sedang bermain-main. Dalam dunianya sendiri, dalam dunia sejauh yang dipandang, dilihat dan dialaminya, sang bocah sesungguhnya sudah sedang belajar mengenal dan menyelami kebiasaan.

Menyelami kebiasaan baik, mencoba belajar untuk menerus-wariskan sebagai yang baik pula. Sebab yang terngiang di kuping, tabuhan rapa’i tidak hanya mengundang siapa pun untuk berdecak kagum, tetapi juga pada saat yang sama mengajak siapa pun (agama mana pun) untuk menengadah kepada Sang Khalik yang empunya segala keindahan dan kasih yang melimpah.

Alhamdulilah Pujo Keu Tuhan Nyang Peujeut Alam Langet Ngon Donya Teuma Seulaweut Ateuh Janjongan Panghulee Alam Rasul Ambiya… (Segala Puji kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan dunia, selawat dan salam pada junjungan penghulu alam Rasul Ambiya)

Nanggroe Aceh nyo Tempat loun lahee Bak Ujoung Pantee Pulo Sumatra Dilee Baroo Kon Lam jaro Kaphe Jino Hana lee Aman sentosa…(Daerah Aceh ini Tempat lahirku di ujung pantai pulau sumatera. Dulu berada di tangan penjajah Kini telah aman dan sentosa)

Rapai adalah salah satu alat tabuh seni dari Aceh. Nama Rapai diadopsi dari nama Syeik Ripai yaitu orang pertama yang mengembangkan alat musik pukul ini. Syair yang dibawakan tergantung pada Syahi. Hingga sekarang syair-syair itu banyak yang dibuat baru namun tetap pada fungsinya yaitu berdakwah. Salah satu kutiban syair adalah seperti yang saya kutib di atas.