Jiwa yang senja. Aku terlunta di jalanan kehidupan. Serupa di persimpangan yang tidak kukenal ke mana arah, aku terjebak dalam kesendirian. Bagai di antara siang dan malam, antara gelap dan terang, jiwaku benar-benar bagai senja yang buram.
Hendak aku menengadah pinta penunjuk Tuhan. Yang berdetak dalam dada adalah tanya ‘sudahkah engkau insafkan segala salah’. Hingga suatu ketika dengan penuh debar, di depan terang lampu altar dengan hati bagai bunda aku menunduk gemetar.
Dengan tangan pada dada kutangiskan kisah memar sebagai insaf. Air mata basuh dosa. Jiwaku lepaskan salah. Segenap tubuhku menengadah meminta pengampunan. Sungguh, mata tubuhku nanar.
Di Jiwa yang senja hatiku terbuka menganga bagai mulut lapar. Pada ketika itu ada sebuah sabda bahwa dosaku pudar. Perlahan lepas pecah berantakan. Bagai rantai-rantai yang lepas terpental. Aku bebas.
Kini, kuyakin sungguh sebagai manusia dengan tubuh baru, aku berlangkah ke muka, ke tepi senja, dengan jiwa makin tegar kusenyumkan salam mawar pada sahabat dan semua. Sungguh cinta Tuhan tiada takar.











































1 tanggapan kepada “Nyanyi Senja”
cicit sheikh
Agustus 3rd, 2011 pada 14:35
jgn berhenti berdoa. Doa mendekatkan kita pada KudratNya..