Sejak gempa dan tsunami 2004 hingga memasuki pertengahan tahun ke-enam (2010) setelah peristiwa traumatis itu, pesisir Meulaboh Aceh Barat tampaknya hanya ‘nyaman’ bagi para nelayan dan segelintir orang yang punya hobby memancing. Jika pun ada yang melepas penat (dengan sekedar berekreasi) dalam rentang waktu itu hanya disaksikan segelintir orang yang duduk-duduk sambil menghabiskan penganan ringan.
Namun, memasuki tahun ke-enam akhir (2010) dan hingga memasuki tahun ke-tujuh (2011) pasca tsunami, pesisir Meulaboh menjadi berubah. Kian hari, pada setiap sore hari Sabtu dan Minggu, warga kian tumpah ruah untuk ‘mandi laut’ (demikian warga Meulaboh menyebutnya).
Di sana, di tepi tanggul persis di teluk dermaga Ujung Karang, ratusan warga Meulaboh, Laki-laki dan perempuan, anak-anak dan remaja tampak cerah ceria bermain air. Kegembiraan itu tidak hanya melepas-lupakan peristiwa gempa dan tsunami 2004 yang menelan ratusan ribu korban jiwa, tetapi juga melepas-hilangkan kepenatan yang selama seminggu dikekang oleh berbagai aktivitas sekolah dan kantor.














































