Catatan kecil ini tidak panjang, hanya selembar kertas A4 satu setengah spasi. Catatan ini pun dibuat tergesa-gesa, tepatnya adalah merupakan percikan spontanitas semata. Dia berkelebat dalam benak, kemudian mencoba untuk dipasang-sambungkan dengan aneka peristiwa, lantas dicoba-rangkai jadi sebuah catatan. Di bawah judul ‘Oh Bahayanya Radang Payudara Melinda Dee’ saya mencoba untuk sedikit ‘meremas-remas’ payudara itu dalam kata.
Tahukah anda bahwa ‘Radang Payudara Melinda Dee’ adalah potret yang tepat untuk melukiskan kasus korupsi yang menimpa bangsa kita.
Mula-mula dibayangkan demikian. Payudara adalah ‘barang vital’, (dan tentang ini tidak terbantahkan kebenarannya). Dia adalah bagian dari salah satu mahkota terindah milik kaum perempuan selain keperawanan (demikian kata orang, yang juga tidak terbantah kebenarannya). Tetapi ketika ‘barang vital’ itu diterjang sakit karena ulah yang disengaja (pasang silikon agar payudara tampak kencang), bukan hanya sang perempuan yang akan kehilangan keindahan dan mahkota, tetapi juga bisa menyebabkan kehilangan nyawa (mati).
Nah…lantaran sakit dan radang payudara itu menimpa Melinda Dee, tersangka penilapan duit nasabah Citibank, maka untuk melukiskan ‘radang payudara’ sebagai ‘Radang korupsi’ yang menimpa bangsa kita menjadi elok untuk dibicarakan. Mengapa tidak?
Korupsi itu adalah sakit akut yang diderita bangsa ini yang dibuat dengan tahu dan mau (menilap uang agar dompet pribadi tambah kencang). Dan sakit yang disengaja itu menyengat serta membuat luka sendi paling vital dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yakni keindahan dan mahkota moralitas kita sebagai Indonesia yang berbudaya, beragama dan beradab. Jika moralitas kita sebagai Indonesia yang berbudaya, beragama dan beradab diterjang sakit yang demikian, bukan hanya ke-Indonesia-an kita yang kehilangan keindahannya, tetapi juga bisa menyebabkan kehancuran identitas.
Akan melahirkan bahaya bukan? Tentu saja sangat berbahaya. Menarik kan membahas topik seperti ini, tentu saja menarik.
Namun demikian, ketertarikan saya untuk membahas topik ini bukan hanya soal ‘Radang payudara’ dan ‘Radang korupsi’ yang sudah sedang terjadi baik menimpa Melinda Dee maupun menimpa Indonesia. Ketertarikan saya yang lain adalah soal bagaimana proses ‘penyembuhannya’. Tentang hal ini, tampak agak timpang. Bangsa kita rupa-rupanya tidak melihat dan tidak pernah mau melihat bahwa moralitas kehidupan berbangsa itu sebagai sebuah barang vital dan atau mahkota. Lantaran itu, bukan hanya lamban menangani masalah korupsi, tetapi juga tampak melakukan pembiaran-pembiaran sehingga sakit dan radang itu menjadi akut. Ini repotnya.
Padahal kita sudah punya contoh kongkret bagaimana proses menyembuhkan ‘Radang payudara Melinda Dee’. Bagaimana pihak rumah sakit dan kepolisian bergerak cepat dalam proses penyembuhannya.
Dicacat portal berita Detik.news (Selasa, 07/06/2011) bahwa Rumah Sakit Pusat Polri RS Soekanto merapatkan rencana operasi terhadap tersangka kasus penilapan duit nasabah Citibank. Rapat juga membahas tim dokter yang akan diturunkan nanti. “Secara pasti kapan operasi dilakukan terhadap Malinda belum ditentukan, hari ini baru akan dirapatkan,” kata Kepala Bidang Pelayanan RS Polri, Kombes Ibu Hajar, kepada wartawan, Selasa (7/6). Kondisi Malinda sendiri sampai dengan hari ini masih dalam tahap pemantauan tim dokter. “Masih dicek terus kondisinya,” ujar Ibnu.
Rapat hari ini yang juga dihadiri Kepala Rumah Sakit, selain mengagendakan jadwal operasi terhadap Malinda, juga akan dibahas tim dokter yang akan turun tangan terkait penyakit yang diderita Malinda. “Siapa saja dan apa saja timnya akan disampaikan juga dirapat nanti. Kita harus persiapkan secara profesional,” tutur Ibnu. Ibnu memastikan tim dokter yang akan terjun menangani operasi Malinda didatangkan dari dalam negeri. “Semuanya dari Indonesia. Tidak ada dari luar,” katanya.
Bayangkan….coba bayangkan….kalau tentang ‘Payudara’ bangsa ini bergerak cepat: rapat mendadak, tim dokter khusus dan secara serius ditangani oleh tim medis dalam negeri. Tetapi alamak…coba saja kalau soal ‘korupsi’ lelet kan? Tapi mudah-mudahan bukan karena ‘Payudara’ yang membuat bangsa kita bergerak cepat, tetapi proses penyembuhannya yang segera agar Melinda Dee dapat segera pula diproses secara hukum. Semoga sembuh Melinda Dee, semoga sehat bangsaku. Amin










































1 tanggapan kepada “Radang Payudara, Radang Moralitas”
risky maulana
Juni 10th, 2011 pada 20:09
wow…………….its good article