Apakah anda pernah dibenci oleh seseorang atau sahabat terbaik anda? Atau sekurang-kurangnya pernah tidak disukai oleh mereka? Anda diabaikan dalam berelasi, dikucilkan dalam komunikasi dan bahkan dianggap bukan siapa-siapa lagi. Dalam praksisnya misalnya, anda tidak pernah lagi mendapat pesan pendek ‘Hay apa kabar?” atau sekedar sebuah “Hay” ketika berpapasan di jalan.
Anda dan juga saya pernah mengalaminya bukan? Ketika kita dibenci dan tidak disukai, kita merasa menjadi makhluk yang terasing dan sendiri. Kadang menggerutu tanpa tepi, mengumpat sendiri dalam sepi, namun tidak pernah menemukan apa pangkal dan intisari soalnya. Lantas kita mengadu kepada Tuhan “Tuhan mengapa aku sendiri?”
Tuhan tidak akan pernah memaklumi doa-doa serupa itu. Mengapa tidak, Sekalipun kita meyakini Tuhan akan membantu dan menolong setiap kesusahan kita. Namun jika kita tidak pernah berusaha menyudahi masalah yang kita hadapi, karena sesungguhnya bisa diatasi maka niscaya Tuhan pun membiarkan kita menderita dalam kesendirian. Itu keyakinan pribadi saya.
“Kebencian yang dibalas dengan kebencian akan meruntuhkan seluruh bangunan relasi, tidak hanya relasi anda dengan orang lain, tetapi juga anda dengan diri anda sendiri”
Well…namun, kita tidak perlu mencemaskan itu secara berlebihan. Kebencian dan ketidaksukaan dalam sebuah bangunan relasi adalah hal yang penting dan positif. Kebencian sesungguhnya memiliki energy yang postip. Ketika kita dibenci dan atau tidak disukai oleh seseorang dan atau sahabat terbaik kita, asalinya bukan karena kebencian itu sendiri atau mereka memang ingin membenci kita. Tetapi sebaliknya merupakan wujud dari kehendak untuk membuat penyesuaian-penyesuaian dan keinginan untuk menemukan kesepakatan-kesepakatan.
Sesungguhnya ketika kita dibenci atau tidak disukai, atau ketika kita semakin dibenci dan tidak disukai pada saat yang sama sebenarnya kita sudah sedang diperhatikan. Orang yang membenci kita tidak hanya melihat dengan mata dan mengarahkan matanya kepada kita, tetapi dengan segenap energinya. Mereka tidak hanya akan meluluhlantakkan kita secara fisik, tetapi ruang mental kita pun diobok-obok. Lantas kita sembunyi did lam ketakutan dan dalam kesendirian dan diam.
Inilah ‘dosa’ yang selalu sering kita buat. Kelemahan terbesar dari kita adalah ketika menanggapi kebencian atau ketidaksukaan dengan berlari menjauh, kemudian mengutuk kebencian itu sebagai yang tidak baik atau buruk. Padahal sebaliknya, jika kebencian itu ditanggapi dengan baik, ditemukan solusi untuk menemukan kesepakatan-kesepakatan maka sudah barang tentu kebencian itu akan berubah menjadi cinta.
Dan hanya satu hal yang dapat membuat perhatian yang mewujud kebencian itu berubah menjadi cinta, yakni ketika kita harus mengatakan siapa kita yang sesungguhnya, mengatakan kita sejujurnya kepadanya. Itu saja. Kita harus bertanya ‘siapakah saya sebenarnya?’ di hadapan kebencian dan ketidaksukaan itu. Catat pernyataan ini: Kebencian yang dibalas dengan kebencian akan meruntuhkan seluruh bangunan relasi, tidak hanya relasi anda dengan orang lain, tetapi juga anda dengan diri anda sendiri.










































2 tanggapan kepada “Jangan Sembunyi Ketika Dibenci”
amirul
Juni 7th, 2011 pada 11:42
terus kalau ndak sembunyi, harus ngapain dunk????
Bambang Sp
Juni 11th, 2011 pada 22:35
bagai mana jika jalan keluarnya hanya ADA satu, dan jalan keluar itu akan membuat mereka yang tdk mnyukai kita akan semakin MEMBENCI kita !
Di satu sisi, itu baik bagi kita. Tapi di sisi lain, itu merupakan bomerang bagi kita sendiri !
”tlg sarannya ya kak”