Berproses bersama komunitas atau masyarakat menuju kemandirian dan kedaulatan – dimana komunitas menentukan nasibnya sendiri dari mana dan ke mana pembangunan itu diarahkan setelah menimbang dan melihat potensi, kekuatan, kemampuan dan kesanggupan, resiko atau tantangan dan peluang mereka – merupakan tujuan mendasar dan utama bagi lembaga atau orang pribadi mana pun yang concern berperan dalam membangun komunitas atau masyarakat.
Ada tiga pengandaian dasar yang memungkinkan proses pembangunan berciri di atas dapat berhasil. Pertama-tama tujuan harus benar-benar menjawab kebutuhan dasariah komunitas atau masyarakat. Dan kebutuhan akan perubahan ke arah yang lebih baik itu tidak hanya menyoal satu hal tetapi mencakup semua hal: ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan dan agama.
Sebagai suatu system, suatu komunitas atau masyarakat itu adalah ‘suatu tubuh’. Lantaran merupakan ‘tubuh’ berbagai aspek pembangunan dalam masyarakat memiliki jejaring dan ‘urat saraf’ yang antara satu dan lainnya saling menguatkan, melengkapi dan mendukung. Tujuan pembangunan yang dilihat secara komprehensif berdasarkan kebutuhan komunitas itu sebagai suatu ‘tubuh’ merupakan hal yang pertama dan utama jika kita hendak berproses bersama komunitas atau masyarakat menuju kemandirian dan kedaulatan.
Berangkat dari tujuan di atas komunitas atau masyarakat sesungguhnya merupakan pelaku pembangunan itu sendiri. Komunitas secara bersama-sama tidak hanya berjalan bersama mewujudkan tujuan, tetapi juga menemukan dan merancang program pembangunan tersebut. Inilah hakikat pemberdayaan masyarakat, dimana komunitas atau masyarakat mengembangkan kemampuan mereka sendiri agar berdaya dan dapat berdiri sendiri untuk mengatasi masalah mereka sendiri. Meletakkan komunitas sebagai pelaku aktif pembangunan merupakan pengandaian yang kedua jika hendak berproses bersama komunitas atau masyarakat.
Pengandaian ketiga adalah harus turut ambil bagian dan berperan serta dalam proses tersebut. Terlibat dan melibatkan diri dalam dan di tengah komunitas atau masyarakat merupakan gagasan kunci bagi setiap lembaga atau orang pribadi yang concern berperan membangun komunitas atau masyarakat. Kita tidak hanya hadir, tetapi juga ada bersama. Dalam ‘ada bersama’ tersebut kita harus mengambil peran ganda. Pertama, menjadi bagian dari komunitas karena keterlibatan kita. Kedua, dalam keterlibatan kita harus bisa hadir menjadi ‘vitamin’ yang memampukan oragnisme sel-sel hidup dalam tubuh social masyarakat atau komunitas tetap hidup, tumbuh dan berkembang dengan baik tanpa merusak jaringan system yang ada.










































1 tanggapan kepada “Strategi Membangun Komunitas”
Robert Latumahina
Januari 29th, 2012 pada 22:46
Saya suka dengan tulisan ini Bro,,,,
Kita selaku motivator maupun fasilitator supaya komunitas itu menjadi komunitas yang sadar hak dan dengan begitu mereka menjadi berdaya.
Komunitas adalah komunio = persekutuan, dan peran kita harus mengambil peran ‘menjadi serupa’ atau ‘menjadi sama’,,,, saya melihat akan roh-nya adalah ‘mengosongkan diri’ yaitu datang untuk menjadi sama, melayani = bekerja bersama-sama dengan komunitas yang adalah juga subyek pemberdayaan.
Dan hasilnya pasti… LUAR BIASA…!!!
Selamat Bro,,,,
tulisan-tulisan seperti ini selalu jadi inspirasi kami untuk terus terampil dalam pemberdayaan komunitas.