Selalu pada setiap malam, setiap pulang kerja, ayah yang satu itu membawakan anaknya oleh-oleh. Sesuatu atau sebuah oleh-oleh yang direngek anaknya pada malam hari sebelum tidur. Seperti biasa anak dan ibu sudah menunggu di ruang tamu. Setiap bel pintu rumah berbunyi, anak dan juga ibu berhamburan ke mulut pintu utama, bersiap berebut plastik yang di dalamnya berisikan oleh-oleh. Entah. Selalu seperti itu.
Seperti anjing Pavlov sang anak telah terkondisikan untuk menanggapi ucapan selamat malam sang ayah sebagai oleh-oleh. Seperti anjing Pavlov sang ibu sudah terkondisikan untuk menemani sang anak menunggu sang ayah yang pulang kerja. Dan serupa anjing Pavlov pula, sang ayah akan menghadirkan diri di tengah rindu anak dan ibu dengan oleh-oleh.
Tragis memang, jika sebuah keluarga tercipta dan diciptakan, tersituasi dan disituasikan, terkondisi dan dikondosikan serupa karakter anjing Pavlov. Dimana situasi keluarga dibangun tanpa sentuhan afeksi. Sebaliknya, kehadiran diri, hati dan cinta digadaikan dalam dan melalui barang berupa oleh-oleh. Sehingga, bukan kasih sayang yang menjadi kebutuhan dasar yang mempertemu-satukan penghuni keluarga, tetapi oleh-oleh atau hadiah.
Tipe dan karakter sang ayah yang demikian, dengan ibu yang serupa itu, pun anak yang begitu, kini kian menjamur. Sadar atau tidak sadar situasi dan kondisi keluarga yang tercipta laksana karakter anjing Pavlov bukan mustahil ada di sekitar kita bahkan dalam keluarga kita sendiri. Salah satu contoh kongkret adalah ketika kita menciptakan sebuah gejala yang aneh yang disebut ‘anak yang mengharap’ dan atau ‘keluarga yang mengharap’ pada kehadiran dan sentuhan material, bukan pada jamahan kasih sayang dan cinta.
Kawan saya berkisah bahwa temannya sering sekali memukul ibu kandungnya, lantaran ibunya tidak memberikan ‘sesuatu’ seperti yang diminta. Ketika masih hidup, Sang ayah, katanya, selalu memanjakan anaknya dengan hadiah-hadiah. Namun, setelah ayahnya meninggal dunia, kebiasaan itu tidak pernah didapatkannya. Gambaran kebaikan ayah dalam dan melalui barang/hadiah selalu menjadi ukuran, sementara sang ibu yang yang mencoba mengubah pola laku itu dianggap sebagai yang buruk. Hingga suatu saat sang ibu bertanya ‘apakah itu kasih sayang?’
Kasih sayang, kehadiran diri sebagai pribadi dalam keluarga adalah keutamaan. Mengabaikan sisi afeksi, yakni kasih sayang dan cinta kasih dalam dan melalui kehadiran diri dalam membangun keluarga yang harmonis akan berakibat fatal. Perceraian, perselingkuhan, anak memukul orang tua, orang tua memukul anak, dan seterusnya yang disebut ‘konflik dalam rumah tangga’ sebagian besar disebabkan karena sisi afeksi yang tidak tersentuh.
Ivan Petrovich Pavlov
Ivan Petrovich Pavlov (bahasa Rusia: Иван Петрович Павлов) (14 September 1849 – 27 Februari 1936) ialah fisiolog, psikolog, dan dokter Rusia.
Ia dilahirkan di sebuah desa kecil di Rusia tengah. Keluarganya mengharapkannya menjadi pendeta, sehingga ia bersekolah di Seminari Teologi. Setelah membaca Charles Darwin, ia menyadari bahwa ia lebih banyak peduli untuk pencarian ilmiah sehingga ia meninggalkan seminari ke Universitas St. Petersburg. Di sana ia belajar kimia dan fisiologi, dan menerima gelar doktor pada 1879. Ia melanjutkan studinya dan memulai risetnya sendiri dalam topik yang menariknya: sistem pencernaan dan peredaran darah. Karyanya pun terkenal, dan diangkat sebagai profesor fisiologi di Akademi Kedokteran Kekaisaran Rusia.
Karya yang membuat Pavlov memiliki reputasi sebenarnya bermula sebagai studi dalam pencernaan. Ia sedang mencari proses pencernaan pada anjing, khususnya hubungan timbal balik antara air ludah dan kerja perut. Ia sadar kedua hal itu berkaitan erat dengan refleks dalam sistem saraf otonom. Tanpa air liur, perut tidak membawa pesan untuk memulai pencernaan. Pavlov ingin melihat bahwa rangsangan luar dapat memengaruhi proses ini, maka ia membunyikan metronom dan di saat yang sama ia mengadakan percobaan makanan anjing. Setelah beberapa saat, anjing itu — yang hanya sebelum mengeluarkan liur saat mereka melihat dan memakan makanannya — akan mulai mengeluarkan air liur saat metronom itu bersuara, malahan jika tiada makanan ada. Pada 1903 Pavlov menerbitkan hasil eksperimennya dan menyebutnya “refleks terkondisi,” berbeda dari refleks halus, seperti. Pavlov menyebut proses pembelajaran ini (sebagai contoh, saat sistem saraf anjing menghubungkan suara metronom dengan makanan) “pengkondisian”. Ia juga menemukan bahwa refleks terkondisi akan tertekan bila rangsangan ternyata terlalu sering “salah”. Jika metronom bersuara berulang-ulang dan tidak ada makanan, anjing akan berhenti mengeluarkan ludah.
Pavlov lebih tertarik pada fisiologi ketimbang psikologi. Ia melihat pada ilmu psikiatri yang masih baru saat itu sedikit meragukan. Namun ia sungguh-sungguh berpikir bahwa refleks terkondisi dapat menjelaskan perilaku orang gila. Sebagai contoh, ia mengusulkan, mereka yang menarik diri dari dunia bisa menghubungkan semua rangsangan dengan luka atau ancaman yang mungkin. Gagasannya memainkan peran besar dalam teori psikologi behavioris, diperkenalkan oleh John Watson sekitar 1913.
Pavlov amat dihormati di negerinya sendiri — baik sebagai Kekaisaran Rusia maupun Uni Soviet — dan di seluruh dunia. Pada 1904, ia memenangkan Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran dalam penelitiannya tentang pencernaan. Ia adalah orang yang terang-terangan dan sering bersilang pendapat dengan pemerintah Soviet dalam hidupnya, namun karena reputasinya, dan juga karena bangganya penduduk senegerinya kepadanya, membuatnya terjaga dari penganiayaan. Ia aktif bekerja di laboratorium sampai kematiannya dalam usia 86.
sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Ivan_Pavlov










































1 tanggapan kepada “Anakmu Bukan Anjing Pavlov”
amirul
Mei 18th, 2011 pada 09:40
ayahnya termasuk juga gag mas kris?