Alam (darat, laut, udara dan semestanya) tidak pernah sudah memberikan kekayaan dan atau hartanya kepada manusia baik berupa kekayaan secara material maupun pesan pembelajaran dan atau makna yang tersembunyi di dalamnya. Alam tidak memberikan apa-apa selain keluasan dan kedalamannya untuk dimanfaatkan, dijaga dan dirawat secara baik dan benar. Selanjutnya ia pun tidak pernah meminta sekalipun kita mengambilnya semampu dan sekuat kita.

Namun satu pesan yang selalu ‘disabdakan’ alam kepada manusia adalah menjaga dan melindunginya sebagaimana kita melindungi diri kita sendiri. Diri dan kepribadian kita adalah gambaran mini dari tubuh semesta. Menjaga dan melindunginya adalah melindungi diri dan kepribadian kita sebagai manusia, demikian juga sebaliknya menjaga dan merawatnya adalah memberikan kehidupan kepada diri sendiri, tidak hanya kini tetapi untuk selanjutnya. Bergenerasi.

Melukai alam semesta sama dengan melukai diri sendiri. Menyakitinya adalah menyakiti diri kita sendiri. Mehancurkan alam sama dengan memangkas usia kehidupan kita. Kebahagiaan yang kita alami sekarang dari yang kita peroleh setelah mengambil dan mengeruk kekayaan alam secara paksa tidak hanya merusak ekosistem kehidupan, tetapi juga akan menghancurkan anak cucu kita kelak. Atau dengan lain kata, kita secara tidak langsung telah membunuh generasi masa depan kita. Membunuh keberlangsungan kehidupan umat manusia dan alam semesta.

Catatan kecil ini menyoal pentingnya relasi dan atau hubungan kedekatan manusia dengan penghuni alam semesta yang lain dalam dan melalui kisah cerita rakyat atau dongeng. Tiga cerita yang diangkat sebagai missal adalah kisah yang sudah kita kenal yakni Kisah Sangkuriang dari Parahiyangan (Priangan) Jawa Barat,  kisah Sungai Berkawat Emas dari Kalimantan Barat serta satu kisah dari Rongga Flores Nusa Tenggara Timur yakni Kisah Anak Yang Hilang.

Mendengar dan selanjutnya membaca cerita-cerita rakyat nusantara, sekurang-kurangnya melalui ketiga kisah yang disebutkan di atas, kita menjadi yakin bahwa bukan tanpa maksud para leluhur dan nenek moyang kita mewarisi kisah-kisah bermakna itu. Selain ada pesan langsung yang mau disampaikan berupa perubahan kepribadian, perbaikan diri dan pola perilaku. Secara tidak langsung, jika menyimak kisah-kisah cerita rakyat ada makna tersirat yang hendak disampaikan, sebagai missal perihal kedekatan dan keakraban kita dengan alam dan segenap makluk hidup, juga perihal bangunan relasinya yang harmonis dan damai.

Yang Mengejutkan Dari Sangkuriang

Kisah pertama sebagai missal adalah kisah asal mula Gunung Tangkuban Perahu. Pesan yang mau disampaikan dalam kisah tersebut adalah bahwa dalam sejarah dan peradaban kita perkawinan incest (sesama saudara sekandung) tidak hanya dilarang tapi juga tabu. Kengototan Sangkuriang untuk menikahi ibu kandungnya Dayang Sumbi tidak diizinkan dan direstui alam. Maka usahanya untuk mendapatkan Dayang Sumbi pun gagal. Perahu setengah jadi ditendangnya lantas menjadi Gunung Tangkuban Perahu, selanjutnya Dayang Sumbi hilang lenyap ditelan ledakan dasyat dan gelombang laut. Roh Dayang Sumbi inilah yang hingga kini diyakini sebagai Nyi Roro Kidul.

Di samping pesan langsung yang mau disampaikan dalam dan melalui Sangkuriang, kita menemukan ada makna yang tersirat, yakni kedekatan manusia dengan alam dan makhluknya. Banyak plot dan tokoh yang mengejutkan kita, lahir dari kisah tersebut. Sebagai missal Air kencing Prabu Galuga yang diminum babi betina bernama Celeng Wayungyang akhirnya menimbulkan kehamilan lantas melahirkan seorang bayi perempuan cantik bernama Dayang Sumbi. Selanjutnya Dayang Sumbi pun menikah dengan Si Tumang, yang tidak lain adalah seekor anjing jelmaan sampai dikaruniai seorang putra bernama Sangkuriang.

Kisah Sangkuriang ini, sengaja saya angkat selain mau menunjukkan pentingnya bangunan relasi cinta manusia dengan manusia yang lain, juga antara manusia dengan alam. Bahwa relasi cinta itu bermartabat dalam kehidupan. Tampaknya memang tidak logis dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara akal sehat jika mmbaca karakter tokoh, alur dan plotnya, namun jika dicermati secara linguistis imajinatif sesungguhnya ada maksud tersembunyi yang hendak disampaikan para pencetus/penutur mula-mula kisah ini. Bahwa tidak mengejutkan memang antara manusia dengan binatang, manusia dengan alam sesungguhnya terbangun naluri dasar alamiah yang sama yang disebut kehendak untuk hidup.

Kehendak untuk hidup dan bertahan hidup bukan hanya menjadi hak dasariah manusia, tetapi juga penghuni alam semesta yang lain seperti binatang. Selanjutnya kemistisan, ke-tidak-masuk-akal-an yang dilukiskan dalam kisah Sangkuriang menggambarkan tentang  daya dan kekuatan yang lain yang sesungguhnya membangun-eratkan jalinan relasi. Inilah yang mengejutkan dari kisah Sangkuriang. Dalam perpesktif ini, kita boleh menafsirkannya demikian.

Alam Memberikan Dirinya Sesuai Kebutuhan

Tidak mengherankan jika alam sesekali menunjukkan dirinya dalam murka. Gempa bumi, tanah longsor, banjir, erosi, abrasi, serangan sekawanan gajah, harimau mnggigit manusia, ular menerkam hewan peliharaan, dan seterusnya dari yang sering terjadi sampai yang dianggap ganjil menunjukkan bahwa relasi dalam kehidupan sudah sedang terganggu. Tidak mustahil memang bahwa akibat kerakusan dan kelobaan manusia-lah bangunan relasi antara manusia dengan alam, manusia dengan habibat dalam sebuah ekosistem kehidupan yang lain menjadi tidak harmonis.

Salah satu kisah dongeng yang sengaja diangkat untuk melukis-jelaskan tentang kelobaan manusia itu adalah kisah dari Kalimantan Barat, kisah ‘Asal Mula Sungai Kawat’. Kisah ini melukiskan seorang nelayan di salah satu anak Sungai Kapuas yang rakus dan loba. Kemiskinan secara ekonomi membuat sang nelayan banting mincing, lempar pukat siang malam di anak sungai tersebut. Suatu ketika, mata kail-nya menyangkut pada kawat di dasar sungai yang ternyata adalah kawan emas. Melihat di hadapannya adalah emas, dengan senang ia menairiknya ke permukaan sampan. Ia menariknya terus hingga sampan dan tubuhnya tenggelam dan hanyut. Sudah sejak itu, anak sungai Kapuas itu disebut sungai Kawat.

Ada pesan langsung yang mau disampaikan dalam dan melalui kisah di atas, yakni alammemberikan dirinya sesuai dengan kebutuhan manusia dan tidak lebih dari itu. Jika memaksanya untuk lebih, maka kecenderungannya adalah kehancuran bagi diri kita sendiri. Sebagai missal, dengan cukup sang petani mengambil lima meter saja kawat emas tersebut, sudah barang tentu ia akan kaya raya. Tetapi desakan nafsu dan loba membuatnya lupa diri. Ia mengambilnya lagi dan lagi, hingga alam pun mengambilnya di ujung cerita.

Dongeng dan legenda Sungai Kawat ini dalam faktanya bukan sekedar dongeng. Kita menyaksikan banyak fakta di belahan wilayah Nusantara ini yang masyarakat dan penduduknya lantas menjadi korban akibat ulah manusia yang lain. Kisah teranyar adalah kasus teluk Buyat dan kisah lumpur Lapindo Brantas. Karena kelobaan manusia untuk mengeruk hasil bumi, sang manusia tidak memikirkan manusia yang lain. Desakan nafsu, kekebutuhan yang melampaui daya tampung manusia membuat manusia lain menjadi korban.

Ini hanya sebagian fakta yang tergambar, bahwa alam memberikan dirinya sesuai dengan kebutuhan manusia, tidak lebih. Melawan kodrat tersebut akan melahirkan mala petaka, tidak hanya alam itu sendiri, tetapi juga bagi diri kita sendiri, dan penghuni semesta yang lain.

Bantuan Sang Landak

Dengan dan dalam caranya masing-masing penghuni alam semesta ini berupaya untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis. Dalam dan pada setiap habitat dan ekosistem kehidupan tidak hanya menggambarkan kehidupan, tetapi juga bagiaman sesungguhnya relasi itu dibangun. Manusia dan segenap penghuni alam semesta semestinya saling memaknai eksistensi kehidupan itu dalam dan melalui saling menjaga keutuhan, merawat keberlangsungannya, dan tidak saling mengganggu atau melukai.

Dengan caranya masing-masing hewan dan atau binatang menjadi plengkap keterbatasan manusia, kelebihan manusia menjadi kebutuhan yang mesti diperoleh oleh tumbuh-tumbuhan, demikian juga sebaliknya kelebihan-kelebihan yang ada dalam tetumbuhan menjadi pelengkap bagi keterbatasan/kekuarangan makhluk hidup yang lain. Inilah siksus kehidupan yang dibangun secara alamiah, yang mesti dijaga dan dirawat.

Namun faktanya menjadi berbeda ketika manusia menafsirkan bahwa kebutuhannya untuk hidup menjadi lebih penting dan bermartabat dari mahkluk hidup yang lain. Manusia mengambil dengan semena-mena apa yang sesungguhnya bukan haknya. Ia merebut eksistensi dan keberadaan makhluk hidup lain. Manusia dalam praksisnya tidak hanya merusak ekosistem kehidupan hanya demi pemuasan kebutuhan hidupnya, tetapi juga membantai habitat kehidupan yang lain.

Penebangan hutan secara serampangan dan perburuan secara illegal menunjukkan secara jelas fakta tentang kelobaan dan egoisme manusia dalam membangun kehidupan. Manusia seakan-akan menjadi satu-satunya penentu kehidupan dan keberlangsungan alam semesta. Manusia menganggap dirinya satu-satunya sebagai mahkluk yang paling bermartabat di hadapan makhluk-makhluk yang lain. Lantaran itu demi nafsu dan kehendak pribadinya manusia berani meniadakan (kebutuhan untuk hidup dari) makhluk yang lain.

Sebuah kisah dari Rongga Manggarai Flores Nusa Tenggara Timur yang berjudul ‘Anak Yang Hilang’ sengaja diangkat untuk menampar ketidaksadaran manusia itu. Bahwa manusia dapat hidup dan bertahan dalam alam semesta ini bukan lantaran karena kekuatan manusia itu sendiri, tetapi sebaliknya karena peran dan keberadaan makhluk hidup yang lain.

‘Anak Yang Hilang’ yang mengisahkan tentang seorang gadis yang bernama Nona Milo yang hilang.  Kemudian dalam pencariannya ditemukan oleh orang tuanya, setelah diberitahukan oleh Kera, bahwa Nona Milo disembunyikan oleh orang hutan di sebuah lubang batu. Kera yang menjadi pemberi informasi dan penunjuk jalan serta kedua orang tua Nona Milo sudah mengerahkan sekuat tenaga namun hasilnya sia-sia. Pintu batu tidak dapat dibuka. Lantas orang tua Nona Milo meminta Kera mencari bantuan teman-temannya dengan imbalan akan diberikan istana bagi siapa pun yang bisa mengeluarkan Nona Milo dari lubang batu tersebut.

Bantuan pertama datang dari Kerbau tetapi si kebaru tidak dapat menggeser batu tersebut. Selanjutnya adalah Kuda. Namun hasilnya sama. Dan barulah atas bantuan si Landak pintu batu dapat dirobohkan setelah secara perlahan mengorek tanah di sekitarnya. Nona Milo pun berhasil dikeluarkan dari lubang itu dan diapun selamat. Karena Landak berhasil, dia diberikan hadiah berupa istana dalam tanah. Itulah sebabnya sampai sekarang mengapa babi landak suka tinggal dalam lubang batu atau pun tanah.

Perhatikan kisah ini dengan saksama, bahwa bukan manusia, kera, kuda dan atau kerbau yang bisa menggulingkan batu, tetapi landak. Tidak masuk akal memang jika harus landak, kalau melihat postur dan mungil tubuhnya. Tetapi demikianlah kisah dan legenda, selalu ada pesan yang tersirat bahwa segenap makhluk punya kemampuan dan kapasitasnya masing-masing dalam mempertahankan kehidupan. Lantaran itu sebagai makhluk yang berakal dan ber-asa, manusia sesungguhnya lebih memahaminya ketimbang binatang. Bukan sebaliknya.

About these ads