Duel El Clasico Jilid IV yang juga semifinal pertama Liga Champions, Real Madrid kontra Barcelona yang dihelat pada Kamis (28/4/) dinihari WIB ternyata melahirkan beragam kisah.

Kisah paling kontroversi adalah  kalimat pedas yang terlontar dari manajer Madrid, Jose Mourinho, bahwa kekalahan tim besutannya, termasuk kartu merah yang diberikan wasit Stark kepada pemainnya Pepe serta pengusiran atasnya keluar dari bans pelatih/cadangan di pinggir lapangan merupakan buah dari sebuah konspirasi. Menanggapi tuduhan itu kubu Barcelona tidak tinggal diam. Club Catalunya itu bahkan ‘memperkarakan’ Mourinho ke UEFA.

Tidak hanya itu, seperti berbalas pantun para pemain kedua tim pun saling melempar kata-kata marah. Christiano Ronaldo mengagumi Messi dengan sindiran. Adebayor menyebut pemain-pemain Barcelona cengeng. Sementara dari kubu Barcelona, Pique menilai bahwa Real Madrid sebenarnya tidak ada niat untuk bermain bola, selanjutnya Xavi dan Villa mengatakan bahwa Barcelona memang pantas menang, karena data statistic ball possision menujukkan Barcelona jauh lebih baik dari Madrid.

Di tengah bara silang pendapat itu, para fans kedua kubu justru menunjukkan diri sesungguhnya sebagai supporter sejati. Mereka seperti menunjukkan diri bahwa mereka menjadi fanatic hanya dalam waktu 90 menit ketika laga dihelat. Sebelum dan sesudah waktu itu, fans kedua kubu adalah rakyat Spanyol dan pencinta sepak bola yang cinta damai.

Jose Cabezas, fotografer AFP sempat merekam adegan terelok yang membuat kita bangga menjadi supporter sepak bola, yakni rekaman kamera adegan ciuman sepasang kekasih dari San Salvador, El Savador setelah El Clasico di Madrid berakhir untuk kemenangan sang tamu Barcelona. Si laki-laki adalah penggemar El Real, dan  perempuan adalah fans El Barca.

Contoh kongkret ini tampak sangat sederhana dan terlalu berani untuk diangkat-bicarakan sebagai pembelajaran. Namun jauh dari sekedar  ‘cipokan’, pencinta sepak bola tanah air mestinya belajar bagaimana sesungguhnya menjadi penonton sepak bola yang baik, supporter yang suportif dan fans yang cinta damai.

Mengapa penting? Penonton, supporter dan atau fans sepak bola adalah 1) kekuatan ke-13 dalam sebuah tim sepak bola yang selalu memberikan aura dan warna, semangat dan gempita perjuangan sebuah tim sepak bola. 2) adalah factor penting dalam pencitraan iklim sepak bola. Berekasi atas kekalahan dengan jiwa besar menunjukkan suportifitas dalam sebuah permainan, sebaliknya melakukan tindakan anarkis merupakan gambaran ketidakdewasaan dan bahkan kekolotan. Citra kepribadian pun seseorang pun bisa diukur dari sini, sejauh mana seseorang menanggapi kekalahan dalam perjuangan, mempertahankan kemelut social, pun melalui berbagai rintangan hidup dan kehidupan yang sesungguhnya tidak ringan.

Demikianlah sesungguhnya kita, selalu harus belajar dan terus belajar bagaimana menonton dan menjadi penonton sepak bola yang baik. Kerusuhan antar supporter sepak bola tidak hanya mencoreng citra sepak bola yang menjunjung tinggi suportifitas di dalam dan di luar lapangan, tetapi juga meresahkan dan mencederai stabilitas social. Mencederai diri dan kepribadian kita sebagai bangsa yang disebut sebagai bangsa yang beradab.

Akhir kata, selamat belajar menjadi penonton yang setia, menjunjung tinggi suportifitas dan cinta damai, sekalipun tidak harus menggantikan perang batu hingga merusak kaca kereta api dan rumah warga dengan ber-cipok-an pada sebelum dan seusai lagai. Viva fans Indonesia.

Catatan: sebelumnya sudah saya  posting di Blog Soccermania