Saya tersintak ketika seorang sahabat yang mengatakan bahwa perlu ada ‘celana besi’ untuk kaum perempuan. Ia mengajukan ‘ide gila’ itu lantaran, katanya, terlalu lelah membaca berita surat kabar yang sepertinya tiada hari tanpa ada berita pemerkosaan dan atau pelecehan seksual. Dia juga menambahkan, jika bukan ‘celana besi’ maka ‘raja kecil’ kaum lelaki harus dipindahkan ke dahi, agar semua orang tahu karena banyak mata memandang, termasuk maka sang pemiliknya.
***
Anjuran sahabat saya termasuk kategori ringan. Ada sebuah kisah klasik, mytos mengisahkan tentang ‘Vagina Dentata’ atau tentang perempuan dengan ‘vagina bergigi’. Ini tentu saja lebih mengerikan, sekalipun sekedar mytos. Tentang ‘Vagina dentata’, Erich Neumann meringkaskannya dalam The Great Mother-nya (1955), di mana “seekor ikan mendiami vagina Wanita Monster; sang pahlawan adalah pria yang mengalahkan wanita tersebut, mematahkan gigi-gigi dalam vaginanya, dan membuatnya menjadi seorang wanita.
Pesan moral yang mau disampaikan dalam dan melalui ‘Vagina dentata’ adalah agar setiap laki-laki tidak ‘main-main dengan alat kelaminnya’ dengan dan pada saiapapun perempuan. Hal lain dimaksudkan adalah sebagai ‘tamparan’ bagi kaum laki-laki agar tidak melakukan aksi dan atau tindakan pemerkosaan. Sebab, apabila berani melakukan tindakan tersebut, maka bersiap-siaplah kaum laki-laki kehilangan ‘raja kecilnya’ lantaran akan direnggut kunyahan barisan gigi ‘ tuan putri’.
***
Sepintas, anjuran gila sahabat saya, pun mytos ‘Vagina dentata’ dipandang sebagai kisah yang ‘ada-ada saja’, menggelikan dan tidak masuk akal, namun jika dicerna-pikirkan secara saksama, sesungguhnya anjuran dan mytos tersebut lahir sebagai ledakan atas endapan kemarahan yang ditutupi sedemikian panjang dan lama. Sebuah amukan situasi yang benar-benar parah. Sebuah pemberontakan ‘terakhir’ setelah semua cara untuk mempertahankan indentias, keberadaan dan martabat kaum perempuan ‘dinyatakan gagal’.
Tepatlah sejarah mencatat bahwa perempuan menjadi objek yang diremeh-sepelekan sudah setua umur dunia. Sudah sejak Hawa disebut sebagai biang dari dosa asal, hingga hawa-hawa baru yang selalu distigma sebagai biang dari nafsu. Anekdot yang menyebutkan bukan Adam yang menjadi sumber birahi, tetapi Hawa serupa sebuah pembenaran. Nafsu lahir dari hawa, maka disebut hawa nafsu, bukan dari adam sehingga menjadi adam nafsu. Anekdot itu tidak hanya sekedar lucu, tetapi juga menjadi bukti bahwa kaum perempuan selalu saja dicederai.
‘Pemberontakan’ pun lahir. Upaya untuk itu pun sudah setua umur dunia. Segala seruan dan gerakan moral dikumandangkan untuk mencegah dan bahkan melawan berbagai ketimpangan dan penindasan terhadap kaum perempuan. Namun sayang, persoalan itu tidak pernah sudah dibahas dan diperjuangkan hingga hari ini dan mungkin hingga entah waktu. Pertanyaanya adalah apakah mytos ‘vagina dentata’ harus sungguh menjadi nyata agar segala soal tentang penindasan perempuan menjadi sudah?
***
Tentu saja tidak. Sebab pelecahan terhadap kaum perempuan tidak hanya melulu akibat nafsu birahi, bahwa perempuan adalah objek seksual semata. Tetapi lebih dari itu adalah bahwa stigmatisasi dan habituasi perilaku yang menempatkan perempuan sebagai objek yang selalu diremeh-sepelekan sudah melekat, membekas dalam ingatan jadi budaya. Sebagai misal adalah pertama, adanya anggapan yang memandang bahwa perempuan itu irasional, emosional, maka ia tidak bisa memimpin dan oleh karena itu harus ditempatkan pada posisi yang tidak penting sehingga melahirkan apa yang disebut Women Exclusion. Women Exclusion dapat dimaknai sebagai upaya dalam kebijakan yang terlihat “meminggirkan kaum perempuan” dalam banyak aspek.
Kedua adanya marginalisasi terhadap kaum perempuan. Marginalisasi berarti sama juga dengan proses kemiskinan dan pemiskinan. Meskipun dalam definisi umum dipahami bahwa kemiskinan merupakan pengalaman hidup yang dialami oleh siapa saja, namun dalam konteks ini, pemiskinan secara sistemik justru dialami oleh jenis kelamin tertentu, yaitu perempuan. Kebijakan negara, keyakinan dan tradisi, tafsir agama, atau asumsi-asumsi ilmu pengetahuan, bisa jadi merupakan biang keladi dari penistaan kaum perempuan ini.
Ketimpangan-ketimpangan inilah yang mesti dibongkar. Upaya pembongkarannya dimulai dengan dan dari dalam diri sendiri, keluarga, sekolah, lingkungan social dan agama kita. Bukan sebaliknya memproduksi ‘celana besi’ dan apalagi menghadir-adakan ‘Vagina dentata’.












































1 tanggapan kepada “Vagina Dentata”
naniecflorezy
April 26th, 2011 pada 13:43
God………….
Tentu saja tidak. Sebab pelecahan terhadap kaum perempuan tidak hanya melulu akibat nafsu birahi, bahwa perempuan adalah objek seksual semata. Tetapi lebih dari itu adalah bahwa stigmatisasi dan habituasi perilaku yang menempatkan perempuan sebagai objek yang selalu diremeh-sepelekan sudah melekat, membekas dalam ingatan jadi budaya. Sebagai misal adalah pertama, adanya anggapan yang memandang bahwa perempuan itu irasional, emosional, maka ia tidak bisa memimpin dan oleh karena itu harus ditempatkan pada posisi yang tidak penting sehingga melahirkan apa yang disebut Women Exclusion. Women Exclusion dapat dimaknai sebagai upaya dalam kebijakan yang terlihat “meminggirkan kaum perempuan” dalam banyak aspek.
Kedua adanya marginalisasi terhadap kaum perempuan. Marginalisasi berarti sama juga dengan proses kemiskinan dan pemiskinan. Meskipun dalam definisi umum dipahami bahwa kemiskinan merupakan pengalaman hidup yang dialami oleh siapa saja, namun dalam konteks ini, pemiskinan secara sistemik justru dialami oleh jenis kelamin tertentu, yaitu perempuan. Kebijakan negara, keyakinan dan tradisi, tafsir agama, atau asumsi-asumsi ilmu pengetahuan, bisa jadi merupakan biang keladi dari penistaan kaum perempuan ini.
Ketimpangan-ketimpangan inilah yang mesti dibongkar. Upaya pembongkarannya dimulai dengan dan dari dalam diri sendiri, keluarga, sekolah, lingkungan social dan agama kita. Bukan sebaliknya memproduksi ‘celana besi’ dan apalagi menghadir-adakan ‘Vagina dentata’.