Bocah-bocah di Padang Sumatera Barat pasti mengenal sosok anak durhaka yang bernama Malin Kundang. Bocah-bocah di Parahiyangan Jawa Barat pasti kenal betul sosok Sangkuriang dalam dongeng asal muasal gunung Tangkuban Perahu. Bocah-bocah di Silahan Tapanuli Utara pasti mengenal sosok Datu Dalu dan adiknya Sangmaima dalam kisah asal mula danau Si Losung dan Si Pinggan. Demikian juga dengan bocah-bocah dari Madura, mereka pasti kenal dengan prajurit tangkas dan tampan yang akhirnya dinobatkan oleh raja Majapahit menjadi adipati Sumenep yakni Joko Tole.
Itu hanya sebagian kecil cerita rakyat dan atau kisah dongeng yang kita kenal. Menariknya adalah bahwa semua dongeng dan cerita rakyat yang tumbuh di bumi nusantara selalu mengandung pesan dan makna yang mendalam bukan hanya tentang keyakinan dalam berelasi antar sesama manusia, dalam membangun motivasi, memupuk semangat perjuangan, kerekatan social, memupuk nilai kemanusiaan, dan lingkungan hidup, tetapi juga perihal bangunan personal dalam relasi manusia dengan Sang Pencipta. Lantaran kaya akan makna itulah para orang tua merasa penting untuk mendongeng.
Saya mencatat ada empat manfaat yang didapat seorang bocah ketika mendengar sang ibu atau bapak mendongeng dan atau mengisahkan cerita-cerita rakyat: Pertama, tujuan pertama dan utama, yang lazim dilakukan para orang tua adalah agar bocah segera menutup mata dan tidur lebih awal. Kedua, adalah agar si bocah dapat menangkap maksud cerita selanjutnya melaksaksanakan pesan yang hendak disampaikan.
Ketiga, mendongeng adalah bentuk investasi akademik bagi seorang bocah. Pada ketika bocah, sang bocah mungkin tampak hanya merekam ‘sambil lalu’ tentang apa yang dikisahkan, namun jika diurai secara psikologis, sebenarnya secara perlahan terpola dalam kepala sang bocah perihal gagasan-gagasan cerita, alur dan jalan cerita, konflik dan penyelesaiannya serta relevansinya. Apalagi jika mendongeng dalam keluarga dilakukan sebagai kegiatan yang rutin dan berulang, bukan tidak mungkin pada saat yang sama sang bocah sudah sedang diajarkan bagaimana cara membaca dan menuliskan kisah, menangkap gagasan dan mengisahkannya kembali.
Keempat adalah agar warisan dan tradisi ‘bertutur’ tidak segera hilang. Mendongeng selain menjadi media ajar dan penyampai pesan, juga merupakan gelanggang pewarisan tradisi bercerita dan berkisah secara lisan. Di tengah arus globalisasi, dimana mata lebih banyak bekerja untuk menonton dan memperhatikan, mendongeng menjadi penting untuk penyeimbang agar para bocah dilatih-ajar untuk lebih banyak mendengarkan dan selanjutkan mempraktikan (melaksanakan).
Kelima, tentu saja dalam dan melalui dongeng dan mendongeng, sang bocah lebih menghargai martabat bangsa, menghormati budaya dan tradisi, ringkasnya menjadi pribadi yang berwawasan nusantara. Dalam dan melalui dongeng anak-anak dihantar-ajak mengelilingi rimba pesan dan warisan makna budaya bangsa. Bocah-bocah dihantar-ajak membuka pandangan untuk tidak hanya mengelilingi tempat-tempat di berbagai pelosok nusantara, tetapi juga pada saat yang sama menghargai perbedaan budaya dan tradisi sehat bangsa.
Itulah lima tujuan yang menurut hemat saya menjadi kekuatan utama dalam dongeng dan mendongeng. Melampaui dari sekedar penyampaikan pesan, sebagai bocah saya dihantar-ajak mengelilingi rimba tradisi dan budaya, adat dan kebiasaan sesama saudara saya di berbagai pelosok dan belahan Nusantara.
Akhir kata, sebagai penutup catatan ini, saya hendak membagikan dua kisah atau dongeng dari Rongga Manggarai Flores Nusa Tenggara Timur yang saya salin kembali dari NUNU NANGE NGAJA RONGGA (CERITA BAHASA RONGGA/STORIES FROM RONGGA) yang disunting-sari oleh I Wayan Arka dam Ivan Ture, (Diterbitkan pertama kali tahun 2007 oleh Departemen Linguistik, Research School of Pacific and Asian Studies, The Australian National University, Canberra ACT 260, Australia).
Ana Ta Pota (Anak Yang Hilang)
Dahulu kala ada sepasang suami istri, dengan anak semata wayang, nona Milo. Mereka tinggal di kebun. Pada siang hari mereka menyiangi rumput. Sedangkan nona Milo tidur sendiri di pondok. Tidak lama kemudian datanglah Orang Utan membawa pergi anak itu. Seekor kera yang berada di pinggiran kebun melihat kejadian tersebut. Karena merasa lapar, suami dan istri itupun pulang ke pondoknya.
Sesampainya di pondok mereka tidak melihat anaknya, lalu mereka mencarinya ke sekeliling kebun. Kemudian mereka bertemu dengan seekor kera. Tanya Kera, “Kalian sedang mencari apa?” Jawab mereka, “Kami sedang mencari anak kami yang hilang”. Jawab Kera, “Tadi saya melihat seorang ibu tua, susunya panjang, sedang menggendong seorang anak gadis menuju ke hutan rimba. Mereka lalu meminta Kera menunjukkan jalan menuju ke hutan yang dimaksud.
Mereka berangkat pagi buta, naik gunung turun gunung. Sampailah mereka di sebuah dataran di sebuah bukit. Di sana ada sebuah batu Rongga yang besar. Dari kejauhan mereka mendengar suara Orang Utan, “Terbukalah kau batu, terbukalah, biarkan anak ini masuk lalu tertutuplah engkau kembali” Setibanya di sana suami istri itu mendapatkan anaknya sudah berada di dalam batu. Merekapun menangis sejadinya, karena itu Kera merasa iba lalu dia berkata, “Saya akan pergi mencari bantuan” “Baiklah”, Kata mereka.
Kera pun lalu pergi meminta bantuan kepada Kerbau, Kuda, dan Landak, katanya kepada mereka, ”Saya datang kemari meminta bantuan kalian untuk menjungkir batu di hutan sebelah sana”. “Untuk apa dijungkir?” Tanya mereka “Ada seorang anak gadis yang diculik oleh Orang Utan dan di masukkan ke dalam liang sebuah batu, yang kemudian batu itu tertutup rapat.” jawab kera itu “Baiklah, tapi apa imbalannya kalau kami bisa melakukannya?” Jawab Kera, “Kata orang tua anak itu, barang siapa yang bisa menyelamatkan anaknya akan di berikan sesuatu yang tidak ada di dunia ini”.
Kemudian mereka diantar untuk bertemu dengan orang tua nona Milo. Orang tua nona Milo merasa sangat senang, lalu berkata, “Tolonglah kami untuk menjungkir batu ini.” Kemudian dilanjutkan dengan nyanyian katanya, “Tuan Kerbau oh tuan Kerbau tolong tandukkan batu ini”. Dengan segenap kekuatanya ditubruklah batu itu, namun sayang gagal. Karena gagal mereka meminta bantuan tuan Kuda. Lalu dia kembali bernyanyi, “Tuan Kuda, oh tuan Kuda tendanglah batu ini” Setelah ditendang-tendang, namun gagal juga. Lalu dilanjutkan oleh Babi yang ternyata gagal juga.
Semua mereka yang ada di situ tidak dapat membantu untuk mencungkil batu itu. Tinggalah landak yang belum melakukannya. Ibu itu meminta bantuan landak sambil bernyanyi, “Tuan Landak, oh tuan landak, cungkilah batu ini” Usaha tuan landak ternyata berhasil. Nona Milo berhasil dikeluarkan dari lubang itu dan diapun selamat. Karena Landak berhasil, dia diberikan hadiah berupa istana dalam tanah. Itulah sebabnya sampai sekarang mengapa babi landak suka tinggal dalam lubang batu ataupun tanah.
Nenek Ete
Suaminya Meo bernama kakek Mbadhu. Ketika kakek Mbadhu pergi berdagang, istrinya hamil tiga bulan. Dia berpesan apabila anak yang lahir perempuan, maka bunuh dia, dan apabila laki-laki peliharalah dia, agar menemani dia berdagang nanti. Sembilan bulan kemudian, Meo melahirkan anak perempuan. Karena sayang anaknya, maka ditukarkan dengan membunuh seekor anjing. Anaknya dititipkan pada nenek Ete yang tinggal di sungai Kia.
Bulan Oktober kakek Mbadhu pulang berdagang. Ketika sampai di rumahnya, dia bertanya kepada Meo, “Kamu melahirkan anak perempuan atau laki-laki”, tanya kakek Mbadhu “E, anak perempuan”, jawab Meo.
Karena lahir anak perempuan kakek Mbadhu marah. Kemudian dia meminta daging anak tersebut. Lalu Meo memberi daging anjing yang ditukarkannya tadi. Karena kakek Mbadhu tidak mengetahuinya, maka langsung dimakannya. Setelah itu, ia terkena penyakit kudis, dan dia tidak lagi pergi berdagang.
Di kemudian hari orang memberitahu Mbadhu, bahwa Meo menukar anaknya dengan daging anjing. Sebelum Mbadhu tahu, anak tersebut sudah menjadi gadis remaja. Ketika Meo datang, Mbadu bertanya dan disertai tamparan. Karena takut ditampar lagi, Meo memberitahukan semuanya. Lalu Mbadhu menyuruhnya untuk memanggil anaknya di rumah Embu Ete. Sesampainya Meo disana dia memanggil, “Hai anakku kesinilah dulu, ayo ikut bersamaku.” Lalu anaknya menjawab “Untuk apa Ibu, saya tidak akan pergi”.
Karena anaknya tidak mau, Meo langsung pulang. Sesampainya Meo di rumah, suaminya sangat marah, lalu Meo dipukuli lagi oleh kakek Mbadhu. Empat belas hari kemudian,. anaknya pulang diantar oleh Embu Ete ke rumah kakek Mbadhu. Melihat kedatangannya, Meo menangis karena kasihan anaknya. Ketika sudah bertemu, mereka langsung pergi mencari tempat untuk membunuh anak tersebut. Waktu dalam perjalanan, anaknya bertanya, “Bapak, tempatnya di sini atau di mana?” “E, di sana pohon mengkudu, di Batu datar”, jawab ayahnya. Sesampainya di Batu datar, anaknya bertanya lagi, “Bapak bagaimana dengan posisi terlentang ataukah telungkup”. Ayahnya menjawab “Tidur terlentang saja”.
Setelah itu, dia membunuh anaknya, dicincang-cincang dagingnya lalu dia mengambil hatinya untuk dimakan. Jasad anaknya dibiarkan begitu saja. Sampai di rumah dia menyuruh Embu Ete untuk pergi mengambil jasad anaknya itu tadi. Tapi Embu Ete mencari burung elang untuk meminta bantuannya, dengan berkata, “Hai burunng elang, bisakah kamu membantu saya untuk mengambil jasad cucuku, di batu yang datar itu?” Burung elang menjawab, “Baiklah, saya akan membantu kamu. Tapi apakah saya bisa atau tidak?”
Burung elangpun mencoba melakukannya. Tapi dia tidak berhasil. Karena burung elang tidak berhasil, embu Ete meminta bantuan elang merah. Burung elang mau membantunya tapi dia meminta imbalan dari Embu ete, katanya, “Saya bisa melakukannya. Tapi apa imbalan untuk saya?” Jawab Embu Ete, “Baiklah, saya akan berikan kamu hadiah, asalkan kamu berhasil dulu.”
Saat itu juga burung elang terbang untuk mengambil jasad yang ada di atas batu datar itu. Diapun berhasil membawa jasat itu, tetapi jasat itu sudah bauh dan membusuk. Kakek Mbadhu terharu melihat jasad anaknya itu dan diapun menangis. Setelah itu Embu Ete mengambil jasad itu dan membungkusnya dengan daun pisang yang sudah disiapkannya. Dia menaruhnya di atas loteng rumah. Agar jasad itu tidak membau lagi, dia membuat api di bawahnya lalu mengipasngipas
jasad tersebut.
Beberapa jam kemudian, dia membuka bungkusan itu. Betapa kagetnya dia saat melihat jasad itu telah berubah menjadi seekor ulat. Dia mengipas terus dan akhirnnya ulat itu berubah menjadi manusia, dan berkata, “Nenek, badan saya panas sekali.” Embu ete memberi pisang kepada anak itu untuk dimakan, tetapi anak itu tidak bisa memakannya. Embu Ete pun membungkus lagi anak tersebut. Dia menjerit kepanasan. Lalu Embu Ete membuka lagi bungkusan itu dan akhirnya anak itu mau memakan pisang dan bubur yang diberikan embu Ete. Embu Etepun memakaikan pakaian kepada anak itu. Ketika anak tersebut sudah dewasa, nenek Ete menyuruh anak itu kerumah orang tuanya. Katanya, “Cucuku, pergilah kamu menengok orang tuamu dulu” Diapun pergi kerumah orang tuanya. Sampai di sana dia hanya menjumpai ibunya. Ibunya sangat senang bercampur kaget. anaknya dan mencuci rambut anak itu sebagai ungkapan rasa syukur.
Saat dia sedang mencuci rambut anaknya, suaminya datang. Anak itu lansung bersembunyi. Saat dia menyuruh istrinya untuk membuatkannya kopi, diam-diam anaknya menaruh racun dalam minuman itu. Beberapa saat kemudian, ayahnyapun mati karena keracunan. Setelah ayahnya meninggal, anak itu tinggal bersama ibunya.
Suatu hari embu Ete datang memberi cincin emas untuk cucunya itu. Selain cincin, embu Ete juga memberikan emas yang banyak. Akhirya cucunya menjadi kaya raya. Beberapa hari kemudian, burung elang merah datang menagih janjinya kepada embu Ete, katanya, “Nek, nenek dulu pernah berjanji akan memberikan saya hadiah kalau saya bisa melakukan tugasku” “Saya ingin memberikan kamu seekor kerbau” Jawab nenek Ete. “Tapi saya tidak punya tangan untuk mengangkatnya”, kata elang itu. “Kalau begitu saya tukarkan dengan padi?”, nenek itu bertanya. Burung elang itu menolaknya karena dia tidak biasa memakan padi .
Akhirnya nenek itu berkata, “Kalau begitu, apa yang kamu inginkan sekarang?” “Saya menginginkan tiga belas ekor anak ayam yang disimpan dalam sangkar”, jawab elang itu Nenek itu mengabulkan permintaannya, tapi dia hanya mampu memberikan sepuluh sangkar ayam saja. Tapi sampai sekarang, tiga sangkar yang sisa itu belum juga diberikan oleh nenek Ete.
Itulah sebabnya mengapa burung elang suka memakan anak ayam, karena embu Ete belum melunasi utangnya, yaitu tiga sangkar ayam anak.











































