William Wallace, pahlawan Skotlandia itu harus tewas dipenggal kapak algojo. Bersama rakyatnya ia berjuang mempertahankan Skotlandia dari jajahan kerajaan Inggris. Setelah dia ditangkap, berulang kali suruhan kerajaan Inggris memintanya mengakui Inggris sebagai satu-satunya penguasa. Namun, Wallace menolak. Hingga akhirnya ia memilih mati, ketimbang harus mengkianati tanah leluhurnya. “Freedom” adalah kata-katanya yang terakhir, sebelum satu kali ayunan kapak algojo kerajaan Inggris menghabisi nyawanya. Tragis memang jika harus memilih kematian serupa itu, tapi begitulah kematian yang indah. Kematian yang menyelamatkan dan membebaskan. Sebuah kematian yang menghidupkan.

Demikian Braveheart (1995), sebuah film laga/drama bersejarah yang diproduksi dan disutradarai oleh Mel Columcille Gerard Gibson atau yang biasa disebut Mel Gibson, yang juga membintangi film tersebut. Dalam film ini Gibson memerankan orang skotlandia legendaris William Wallace. Film ini memenangkan lima Academy Awards pada tahun 1996 termasuk Film Terbaik dan Sutradara Terbaik. Film ini diproduksi oleh Icon Productions untuk Paramount Pictures dan 20th Century Fox, membawa sukses yang membangkitkan kembali film-film berjenis sejarah kepahlawanan, seperti GladiatorThe Patriot, AlexanderTroyKingdom of Heaven, dan 300. Film ini pun pernah bersaing untuk mendapatkan award Best Picture di Oscar, mengalahkan empat film lain seperti Troy dan Babe.

Dalam Braveheart, saya menemukan perjuangan, penderitaan dan kematian yang sesungguhnya dari seorang pemimpin untuk dan demi keluarga, bangsa dan tanah airnya. Wiliam Wallace adalah gambaran yang sesungguhnya perihal tokoh dan figure pahlawan kemanuasiaan. Totalitas penyerahan diri yang utuh dengan merelakan dirinya dianiaya dan mati adalah hakikat dari perjuangan meraih kebebasan yang sesungguhnya.

Gibson, menurut saya, sebagaimana yang ditampil-gambarkan dalam Braveheart, percaya bahwa kebebasan dan kemerdekaan adalah hakikat kehidupan itu sendiri. Untuk sampai kepada kebebasan tersebut, penderitaan dan bahkan kematian harus direlakan sebagai yang baik dan benar pula. Agar kebenaran, kebebasan yang diperjuangkan mendapat tempat yang bermartabat dalam kehidupan.

Pada 2004, dari Mel Gibson lahirlah The Passion of the Christ (terjemahan bebas: “Penderitaan Kristus”). Bagi saya, film yang didasari atas kisah-kisah Kitab Suci mengenai penangkapan, pengadilan, penyaliban dan kebangkitan Yesus Kristus - peristiwa-peristiwa yang secara umum dikenal sebagai masa penderitaan Yesus ini merupakan tafsiran teologis atas perjuangan dan kebebasan versi Gibson yang sesungguhnya.

Film yang  memperoleh rating “R” (Restricted atau ada batasan bagi yang ingin menontonnya) oleh badan Motion Picture Association of America karena “rentetan gambaran kekerasan” dengan dialog dalam bahasa Aramaic, Bahasa Latin dan Bahasa Ibrani ini membuat saya yakin bahwa sengsara dan penderitaan mendapat tempat yang sangat bermartabat dalam pribadi seorang Gibson. Gibson tidak hanya melukiskan perjalanan Yesus menuju kematian-Nya secara ngeri, seperti tampilan adegan-adegan yang detail-tergambar melalui kepulan debu tanah, percikan darah, sibakan sobekan kulit tubuh dan ketakberdayaan, tetapi juga meletakkan penderitaan Yesus melampaui yang tercatat dalam Kitab Suci. Hal ini menunjukkan dengan amat jelas, bahwa sengsara, penderitaan dan kematian sesungguhnya bermakna.

Secara teologis, Gibson mau mengatakan inilah sesungguhnya kematian dan penderitaan Tuhan dalam upaya untuk menyelematkan dosa segenap umat manusia. Dalam penderitaan Tuhan, kita menemukan kekuatan. Dalam kesengsaraan-Nya, kita menemukan kesalamatan. Gibson sudah melukis-gambarkan itu dengan amat luar biasa dalam The Passion of the Christ. Lalu kita? Apakah kita hanya cukup menitihkan air mata dan berbela rasa terhadap penderitaan Tuhan? Rupa-rupanya tidak. Melampaui dari sekedar iba, sesungguhnya kita dipaksa untuk berulang merendah panjatkan istiqfar. “Sungguh Dia adalah Anak Allah” dan bertobatlah!

“Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa. Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda”

Demikian sepenggal kesaksian Jim Caviezel, pemeran utama (menjadi tokoh) Yesus dalam ‘‘The Passion of Christ’’ arahan sutradara Mell Gibson.

Sumber catatan: