Namaku Ratna Manggali. Aku dibesarkan oleh seorang ibu yang selalu mengharapkan agar aku dapat menjadi wanita terindah dalam hidup. Di desa Dirah (teks lain menyebut Girah), tempat aku dilahirkan dan dibesarkan, aku dikenal sebagai gadis yang paling cantik. Namun, kecantikanku hanya sebentar dikenang kaum lelaki. Mereka menjumpaiku kemudian pergi meninggalkanku sambil melepas keluh ‘Dia putri janda Calon Arang, maka sulit bagi kami untuk jatuh cinta’.
Dua laki-laki terakhir yang menjumpaiku ketika aku sedang menghibur diri di taman adalah Gumal dan Gading. Gumal, pemuda pendatang di desa Dirah sempat mengagumiku, tetapi Gading sahabatnya memintanya untuk melupakanku. Kecantikanku lepas lalu dan larut bersama air mata. Aku benar-benar sebatang kara. Setiap selalu rasaku memuncak hendak dibelai jari-jari lembut sang kekasih, selalu jari-jari itu menjauh. Mereka pergi setelah mengetahui siapa ibuku.
Aku putri semata wayang janda Calon Arang. Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terkemuka Indonesia dalam ceritanya menyebut ibuku sebagai wanita pemusnah kemanusiaan. Apa yang dikatakan Ananta Toer ada benarnya, ibuku selalu membuat ulah. Kesaktiannya disalahgunakan untuk menebar teror dan ancaman, bahkan bala dan penyakit. Ibuku adalah hantu yang sesungguhnya tidak hanya bagi warga desa Dirah, tetapi juga bagi seluruh warga Mataram.
Lantaran ibuku yang serupa itu, kecantikanku raib. Aku dipenjara dalam bayang-bayang ketakutan semua orang. Melihat wajahku serupa melihat wajah ibuku. Melihat senyumku serupa melihat murka ibuku. Berjumpa denganku serupa berjumpa dengan malaikat maut. Apalagi menyentuhku. Menyentuhku berarti mati.
Hingga aku benar-benar lelah. Luluh berjibaku dengan waktu. Berseteru dengan ruang rumah yang tidak seberapa luas. Membuncah dalam dadaku benci kepada ibu kandungku sendiri. Ibuku adalah pecundang. Kepada siapa aku harus mengadu. Bunga-bunga di taman tidak menghiburku. Kecantikan mereka sama sepertiku. Mekar kemudian layu dan mati. Hanya selalu setiap setiap hari aku mengadu kepada para dewa “Duhai Dewa yang Agung, dosa apakah kiranya yang menimpa diri hamba hingga mengalami nasib sesial ini?”
Serupa terjawab doaku, dan atau mendengar ratapanku yang berulang para dewa mengirimkan kepadaku seorang pemuda bernama Tantular (teks lain menyebut Bahula) untuk mempersuntingku menjadi istrinya. Namun, aku sesungguhnya adalah korban tipu muslihat. Aku dipersunting pemuda suruhan Raja Airlangga itu hanya supaya dapat menidakan ibuku. Seharusnya aku benci dengan lelaki serupa itu, tetapi pada saat yang sama, aku pun membenci ibuku.
Aku dibesarkan tanpa cinta, karena ibuku tidak memahamiku sungguh bahwa aku manusia biasa yang punya rasa dan cinta. Demikian juga aku dipersunting Tantular tanpa cinta, karena aku hanya dijadikan jalan menuju akhir dari cerita sesungguhnya. Karena nyatanya. Sebelum ibuku dibunuh Tantular karena telah mengetahui kelemahan ibuku, aku lebih dulu tewas dihujam tombak ibuku sendiri. Aku tewas bersimbah darah dalam pelukan Tantular. Pelukan terakhir di ujung hidupku pada dada seora lelaki. Pada ketika itu baru aku mengalami cinta yang sesungguhnya yakni kematian untuk kehidupan semua orang.
Leganda Janda Dari Dirah
Langit Bali merayap mendekati tengah malam. Suasana magis dan mencekam meruap melingkupi Pura Dalem Tegeh Bumi, Denpasar, yang temaram. Seorang pria berpakaian putih-putih berdiri menantang di halaman pura yang disulap menjadi arena pertunjukan dramatari lakon Calon Arang. “Ayo, para leak datanglah, jangan malu-malu,” pekiknya lantang, dalam bahasa Bali. Ber-kali-kali lelaki itu menegaskan, ia tak gentar menghadapi kesaktian ilmu hitam para ahli pengleakan.
Dramatari pun bergulir memasuki babak yang -ki-an- mencekam: prosesi merawat orang mati, dari me-mandikan hingga menguburkan. Dua “mayat”-yang dimainkan warga setempat-dimandikan dan dika-fani, lalu diusung sepasang tandu bambu ke kubur-an di sebelah pura. Peran sebagai mayat itulah yang paling- ditakutkan, karena sangat mengundang risiko. Pemainnya, yang kesadarannya telah dimatikan, bisa benar-benar tewas lantaran serangan ilmu leak.
Tapi, malam itu tak satu pun leak muncul. Ketegang-an yang merambati ribuan penonton, sebagian besar penyungsung (jamaah) pura, itu perlahan-lahan mencair. Bahkan mereka kian terhibur ketika babak bebondresan hadir sebagai selingan. Ini semacam goro-goro dalam pergelaran wayang kulit Jawa yang menampilkan empat punaka-wan. Babak sarat humor itu berlangsung sekitar setengah jam.
Ya, Ahad malam pengujung April lalu, Calon Arang kembali muncul di Pulau Dewata. Ia hadir dalam sebuah lakon dramatari yang dimainkan perguruan Sandhi Murti, Denpasar. Pergelaran itu merupakan- puncak dari rangkaian upacara perbaikan- Ratu Ayu, boneka raksasa simbol Betari Durga (di Bali biasa- disebut rangda), yang telah digelar sejak sekitar empat- bulan lalu. Dan pentas dramatari itu bertepat-an dengan piodalan, ulang tahun pura, pada malam Kajeng Kliwon saat bulan mati. “Terakhir drama ini pernah dipentaskan pada 1997,” kata Ketut Purna, kelian (pengurus) Pura Dalem Tegeh Bumi itu, menjelaskan.
Lakon malam itu dibuka dengan tarian Barong Ket, barong berbentuk singa. Setelah itu, muncul Calon Arang dan murid-muridnya yang terbakar amarah. Wajah mereka menyeramkan, rambut terurai berantakan. Sang janda dari Dirah itu dan sebagian murid-nya yang berkain putih penutup kepala kemudian menjelma menjadi rangda. Tiap rangda menari-nari seolah tengah menyebarkan wabah penyakit. Adegan itu, di mata penonton awam, sering disebut sebagai praktek ilmu pengleakan. Namun, karena ini dramatari, tentu penarinya tak punya ilmu hitam itu.
Setelah itu, mestinya ada sejumlah adegan, seperti dukun yang mati ketika berusaha menangkal wabah penyakit yang disebarkan. Tapi Ngurah Harta, pini-sepuh perguruan Sandhi Murti, sengaja memotong adegan itu demi mempersingkat waktu. Yang muncul- kemudian adegan Mpu Baradah mengutus Mpu Bahula menemui Calon Arang. Bahula diminta- Baradah- mencuri kitab mantra rahasia janda itu dengan berpura-pura bersedia menjadi suami anak Calon Arang, Diah Ratna Manggali. Misi itu sukses, dan Bahula- menyerahkan kitab rahasia kepada Baradah. “Ini adalah simbol persaingan tak sehat dalam politik,” kata Ngurah Harta.
Pertarungan Baradah-Calon Arang pun tak ter-elakkan. Puncaknya, Calon Arang kembali menjelma- menjadi rangda. Pemeran rangda kemudian kesu-rupan hingga berlarian ke jalanan. Sampai di sini, cerita menjadi tak jelas arahnya karena sebagian penonton juga mengalami trance. Teriakan-teriakan dan ceracau membuncah.
Di bagian penutup, Tu Rah-sapaan akrab Ngurah Har-ta yang berusia 43 tahun-kembali mengubah a-lur cerita. Seharusnya barong muncul kembali di -ak-hir cerita. Tapi dramatari itu berakhir dengan sen-di-ri-nya ketika rangda yang kerasukan dibawa ke pura un-tuk disadarkan pendeta dengan percikan air suci. Se-telah itu, rangda disimpan kembali di tempat suci di dalam pura.
Menurut Tu Rah, penampilan mereka malam itu di-sesuaikan dengan lokasi pementasan. Karena di -Denpasar, unsur magisnya dikurangi. Malah unsur humor dalam bebondresan lebih dominan. Alasannya, kepercayaan masyarakat perkotaan pada hal-hal berbau magis kini telah menipis. Itu berbeda jika mereka tampil di daerah pedesaan, seperti di wilayah Karangasem, yang masyarakatnya masih kental dengan- unsur-unsur magis. “Elemen-elemen magis da-lam pementasan lebih dominan,” ujarnya.
Para penonton pun, kata Tu Rah, bersedia terlibat- to-tal dalam pementasan dengan mengikuti alur ceri-ta-. Kalau diminta jangan ikut ke kuburan, mereka a-kan me-nu-ru-ti dan hanya melihat dari jauh. “Tidak se-per-ti dalam pementasan malam itu, warga masih- i-kut berbondong-bondong ke kuburan,” Tu Rah men-je-las-kan.
Memang, selama sepuluh tahun belakangan, pentas dramatari Calon Arang di Bali mengalami pergeseran. Menurut Guru Besar Institut Seni Indonesia, Denpasar, I Wayan Dibia, yang paling mencolok adalah perubahan suasana pertunjukannya. Sajian dramatari yang serius bergeser menjadi penuh humor. Malah, kini semakin sering pementasan dramatari Calon Arang yang menonjolkan adegan bondres dengan menampilkan sejumlah pelawak populer.
Pameran kekebalan juga kian menonjol dalam pementasan lakon Calon Arang belakangan ini. Misalnya, adegan nusang-nusangan, upacara penguburan mayat, dengan prosesi lengkap. Adegan ini membutuhkan dua-tiga orang yang berperan sebagai mayat. Demi menjaga keselamatan orang mati itu, dilibatkan sejumlah “orang pintar”. Akibatnya, “Pertunjukan Calon Arang pun menjadi ajang adu kekuatan batin,” Dibia menerangkan.
l l l
Legenda Calon Arang dipercaya berkembang dari sebuah wilayah terpencil di Kediri, Jawa Timur, berabad silam. Akhir April lalu, Tempo mencoba mene-lusuri jejak-jejak sang janda yang kerap dilukiskan sebagai tokoh perempuan jahat itu. Sinar matahari yang merambah siang menyirami potongan sejumlah batu yang dipercaya masyarakat setempat sebagai bekas rumah Calon Arang. Lokasinya di Dusun Butuh, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah.
Seperti di Bali, kisah Calon Arang juga sangat popu-ler di kalangan masyarakat setempat. “Semua warga di sekitar sini sangat tahu tentang Calon Arang,” kata Wak Jito, 50 tahun, warga Gurah. Dan masyarakat di sana sangat peduli dengan pemeliharaan situs itu. Secara bergantian mereka membersihkannya. Meski hanya berupa potongan batu, situs itu tertata rapi, dan kondisinya sangat terawat baik.
Berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Ke-diri, situs itu terletak di tengah-tengah perkebunan tebu. Terhampar di atas tanah seluas sekitar 10 x 12 meter dan dinaungi dua pohon besar. Terdapat dua batu andesit yang diyakini merupakan ambang pintu rumah. Batu pertama berukuran panjang 135 senti-meter, lebar 56 sentimeter, dan tebal 29 sentimeter-. Batu kedua berukuran panjang 137 sentimeter, lebar- 38 sentimeter, dan tebal 23 sentimeter. Keduanya- dalam kondisi baik. Pada sisi atas di kanan dan kiri terdapat dua lubang segi empat dan lingkaran. Kemung-kinan, ini dipakai sebagai tempat pilar penyangga semacam kusen pintu.
Ada juga empat umpak dari batu andesit. Ukuran-nya, panjang sekitar 50 sentimeter, lebar 45 sentimeter-, dan tinggi 50 sentimeter. Keempat umpak berbentuk prisma itu diperkirakan fondasi penyangga empat- sudut rumah. Yang lainnya, ada dua balok batu andesit. Pertama berukuran panjang 62 sentimeter, lebar- 40 sentimeter, dan tinggi 17 sentimeter. Balok kedua, panjang 67 sentimeter, lebar 47 sentimeter, dan tebal 18 sentimeter.
Menurut pengamat sejarah Calon Arang di Kediri, Soetjahjo Gani, situs itu pernah didatangi sebuah tim yayasan milik Wayan Mertha Suteja dari Bali. Rencananya, di atas tanah di sekitar sana akan didirikan- bangunan sebagai tempat kegiatan pemeliharaan situs itu. Yang jelas, kata Gani, kedatangan tim itu mengindikasikan, kalangan budayawan Bali juga menyepakati bahwa kampung halaman Calon Arang memang di Kediri.
Dalam sejumlah literatur disebutkan, Calon Arang adalah seorang janda yang hidup di Kerajaan Daha, kini bernama Kediri, Jawa Timur. Latar kisahnya- tergelar sekitar abad ke-12. Saat itu raja yang berkuasa- Prabu Airlangga. Calon Arang, yang memi-liki puluhan murid, dikenal sebagai pemuja Betari Durga. Ia memiliki seorang anak yang cantik: Diah Ratna Manggali.
Calon Arang ditakuti penduduk Daha karena -meng-uasai ilmu teluh. Lantaran putrinya tak kunjung a-da yang meminang, Calon Arang pun melampias-kan ke-marahan dengan menebarkan penyakit dan kemati-an-. “Calon Arang adalah pemusnah kemanusiaan,” tu-lis Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya, Cerita Calon Arang.
Raja Airlangga kemudian mengutus Mpu Baradah- un-tuk menaklukkan Calon Arang. Dengan siasat- me-nga-win-kan muridnya, Mpu Bahula, dengan Manggali-, jan-da dari Desa Dirah itu kemudian dikalahkan.
Dari Kediri, cerita Calon Arang kemudian men-jalar ke Bali. Menurut sejumlah sejarawan, kisah tersebut dibawa pemeluk Hindu di Jawa yang lari ke Bali demi menghindari desakan Islam. Akhirnya, Calon Arang menjadi lebih populer di Bali daripada di Jawa sendiri.
Dalam perjalanannya, di Pulau Dewata kisah janda- i-tu muncul dalam berbagai bentuk kesenian, seperti- dra-matari dan wayang kulit. Inilah yang kemudian men-jadikan legenda dari Kediri itu kemudian ma-syhur- di sejumlah negara. Dan yang menjadi sumber in-spirasi para seniman itu adalah naskah kuno Calon Arang yang ditulis pada tahun Saka 1462. Di Bali, teks yang aslinya berbahasa Jawa Kuno itu tumbuh se-bagai tradisi sastra pertapaan pada abad ke-16.
l l l
Di Bali, kini lakon Calon Arang memang tengah bergeser. Yang mencolok, pergeseran suasana pertunjukannya: dari sajian dramatari serius menjadi sarat humor. Lalu pameran kekebalan juga kian menonjol. Belakangan pertunjukan juga menjadi semakin “ngebyar” karena diiringi gamelan gong kebyar.
Menurut I Wayan Dibia, sebenarnya bentuk pertunjukan Calon Arang itu intinya sebuah dramatari total. Para pemainnya harus menari, berakting, de-ngan dialog berbentuk bahasa tembang. Dan sebagai pembuka pementasan, ada yang diawali dengan ta-rian Barong, ada juga yang tanpa tarian.
Tema sentral lakon itu adalah perselisihan dua kubu: kebajikan dan kejahatan. Pihak pertama diwakili Prabu Airlangga dan Mpu Baradah. Sedangkan pihak kedua, Calon Arang atau Walunateng Dirah dengan para pengikutnya. Dalam pertunjukan, tokoh Calon Arang selalu ditampilkan dengan matah gede, artinya peran wanita yang dibawakan oleh laki-laki. Dan pada akhir pertunjukan, ia berubah wujud menjadi tokoh sejenis raksasa wanita berwajah menakutkan, rangda (janda).
Di kalangan masyarakat Bali, pementasan lakon Calon Arang selalu dianggap sebagai pertunjukan angker. Bahkan kadang-kadang menakutkan, karena selain melibatkan benda-benda sakral seperti barong dan rangda, ia juga membeberkan rahasia ilmu hitam dan ilmu putih. Makanya, setiap pertunjukan kerap dijadikan ajang pameran ilmu hitam, termasuk pa-meran kekebalan.
Meski tak ada teks khusus sebagai dasar pementas-an dramatari, selama ini terdapat empat episode Calon Arang yang biasa dipentaskan. Pertama, Katundung Ratna Manggali. Episode ini berkisah tentang pengembalian Diah Ratna Manggali dari Daha. Sebab, sang raja memutuskan membatalkan upacara pernikahan Mpu Bahula dan putri Calon Arang itu. Episode kedua, Iyeg Rarung Melawan Madri. Cerita-nya tentang pertarungan anak buah andalan Calon Arang, Rarung, dengan patih andalan Kerajaan Daha, Madri.
Yang ketiga, Bahula Duta. Ini mengisahkan Mpu Bahula yang diutus ke Dirah, mencuri pusaka Calon Arang dengan berpura-pura bersedia menjadi suami anaknya, Ratna Manggali. Terakhir adalah episode Pengesengan Bingin, bercerita tentang pertarungan Calon Arang-Mpu Baradah. “Pertarungan itu menggunakan sarana pohon beringin yang tumbuh di kuburan,” Dibia menjelaskan.
Gamelan pengiringnya juga bermacam-macam. -Biasanya diiringi, antara lain, gamelan semar pagu-lingan, gamelan bebarongan, dan gamelan gong kebyar. Yang jelas, gamelan apa pun yang dimainkan, akan ada jenis-jenis tabuh khas pacalonarangan yang harus dimainkan. Misalnya, gending ampih lukun sebagai pengiring sisia, anak buah Calon Arang. Lalu gending tunjang yang mengiringi matah gede, dan gending biakalang untuk tokoh Patih Taskaramaguna. Khusus di daerah Tabanan, dramatari ini diiringi gamelan tektekan-ensambel kentongan bambu. Dan belakangan ada juga yang melibatkan gamelan angklung atau gong luwang, dan okokan (kentongan kecil yang biasa dikalungkan di sapi).
Lalu struktur gerak tariannya, menurut Dibia, umum-nya diambil dari tari klasik pagambuhan dan palegongan. Ada kalanya, jika para tokoh sentral diambil dari peran-peran arja, peran-peran pengikut Calon Arang juga mengambil unsur arja. Arja sering disebut sebagai “opera khas Bali”-karena pemainnya menari sembari menyanyi.
Kadek Suardana, Direktur Yayasan Arti Founda-ti-on, berpendapat lain. Menurut dia, sebagai tarian- rak-yat-, tak ada pembakuan dan pakem tertentu dalam per-tunjukan Calon Arang. Yang dijaga hanya pada to-koh- tertentu dalam dramatari itu. Misalnya, bentuk pe-nampilan Prabu Airlangga dipengaruhi struktur ta-ri panji. Jadi, pemain lakon Calon Arang tak terikat- pa-kem pegambuhan, palegongan, maupun arja.
Suardana mengatakan, itu berbeda dengan gambuh. Sebagai tari produk kerajaan, gambuh memiliki struktur tari dan musik yang baku. Sehingga gambuh disebut sebagai ibu perkembangan kesenian Bali. Toh, meski sebagai tarian rakyat, Calon Arang menem-pati tempat yang khusus dalam masyarakat Bali.
Uniknya, kata Suardana, meski tak memiliki struk-tur baku, dramatari Calon Arang mempunyai bebe-rapa gerakan khas. Misalnya, adegan tarian murid-murid Janda Dirah ini. Karena merupakan bagian ilmu pengleakan, maka ada ketentuan khusus bagi pemainnya. Misalnya, kain di bawah lutut dan penutup kepala harus kain putih. Juga gerakan ngraja-singa (seperti singa yang siap menerkam). Ujung kaki menjadi tumpuan lutut, lalu tangan ke depan. “Gerak-annya terkesan primitif dan angker,” ujar pria yang bergelut dalam pelestarian dan pengembangan tari Bali itu.
Sayangnya, dramatari ini oleh masyarakat Bali cenderung dibawa ke unsur mistis. “Sebagai sebuah drama, sebenarnya itu menjadi kurang menarik,” kata Suardana, yang pernah menyutradarai gambuh dengan lakon Machbeth itu. Dan secara umum, akibat kecenderungan mistis itu, eksplorasi cerita se-bagai drama maupun tariannya menjadi terabaikan.
Lantas, apakah dramatari Calon Arang termasuk sakral? Menurut Suardana, sebenarnya itu tontonan murni dan bukan syarat sahnya sebuah prosesi keagamaan. Memang ada barong dan rangda yang disakralkan. “Tapi Calon Arang ini murni tarian sebagai sebuah tontonan,” katanya. Jika kemudian dimainkan di pura-pura dan terkait dengan upacara, itu masalahnya sederhana saja. “Di pedesaan Bali, kita memang tak mempunyai gedung kesenian yang memadai,” katanya.
Nurdin Kalim, Rofiqi Hasan (Bali), Dwidjo U. Maksum (Kediri)/Majalah Tempo/18 Juni 2006.
Itulah kisahku. Ratna Manggali. Hidupku adalah ratapan panjang, lamentasi tanpa henti. Cinta dibungkam ulah ibu kandungku sendiri. Karena aku ingin dicintai dan mencintai seseorang, aku tidak hanya harus mengorbakan banyak air mata, tetapi juga nyawaku sendiri. Air mataku yang terakhir adalah darah. Pemberianku terakhir adalah jasadku. Semuanya tanpa ada cinta. Aku benar-benar gadis cantik yang tidak akan pernah ditiru oleh gadis mana pun di dunia, selain aku meniru diriku sendiri, agar tidak ditiru oleh siapa pun.











































2 tanggapan kepada “Air Mata Ratna Manggali”
Naniec Florezy
April 20th, 2011 pada 16:42
benar-benar cinta yang tidak membahagiaakan…artikelnya menarik bang
qatabathin
April 23rd, 2011 pada 18:08
bgus..menrik..menyenth