Berkelebat mata itu menatapku tajam. Menghujam hingga iga. Memantul pendar dalam dada jadi rindu. Melayang-layang dalam mimpi-mimpi malam. Bahkan kadang hadir dalam sepi dan sendiri. Membuat kedua belah bibirku mekar selalu. Aku benar-benar bagai sekuntum bunga paling indah di tengah taman. Walau sesungguhnya aku sudah ada yang punya, seorang lelaki yang karena tampannya memapah-pelukku jadi wanita terindah.
Entah, rasa apa itu. Berkelebat sepasang mata yang lain tiba-tiba hadir dalam sendiriku. Ya, sepasang mata dari seseorang dengan tubuh tinggi, berambut tipis, berkulit cerah. Senyumnya itu yang telah menyiksaku. Tatapannya itu yang telah membunuhku. Tuturnya santun walau sedikit jenaka telah merebut hatiku. Hadirnya benar-benar telah membuat tewas dalam kisah cinta yang bernama entah.
Engkau mungkin menyebutnya sebagai selingkuh atau sebagai cinta terlarang. Tetapi mengapa aku mengalaminya sebagai yang terindah dan membahagiakan. Jika aku mau jujur, aku adalah perempuan paling berbahagia. Mengapa tidak. Kelembutan dan kelemahanku telah sanggup merebut cinta-cinta mereka. Merebut hati kekasihku yang satu, dan menyandera kekasihku yang lain. Seperti mereka yang sudah sedang merebut kekasih mereka masing-masing.
Dalam dada kami masing-masing, kami, rupa-rupanya tahu jika kami memiliki kekasih idaman masing-masing. Bagi kekasihku yang satu, mungkin aku bukan kekasih idaman, maka dia mencoba untuk merebut hati wanita yang lain. Bagi kekasihku yang lain, mungkin aku juga bukan kekasih idaman, maka pada tangannya yang satu ia menggenggam tangan lembut yang lain. Demikian juga aku, bagiku seperti sudah sedang berada di antara pilihan-pilihan, aku pun sudah sedang menunggu yang terindah.
“Selingkuh mengajari kita untuk hanya setia pada satu pilihan. Bukan sebaliknya menghianati pilihan dan apalagi membunuh cinta”
Selingkuh itu indah, cinta terlarang itu bahagia. Jika antara kita memang saling memahami bahwa yang terindah, idaman, paling bahagia adalah sebuah pencarian yang panjang. Aku, mungkin, katamu, adalah perempuan paling kurang ajar, karena telah mendua. Demikian juga, katamu, kekasih-kekasihku yang lain adalah yang biadab, karena telah mengabaikan cintaku. Tetapi entah serupa apa rasa ini, aku sudah sedang mengalaminya sebagai yang bahagia dan indah.
Maka tak lelah aku selalu berdoa “Tuhan aku seperti antara Engkau dan Setan. Aku seperti tidak bersalah, karena aku mencintai-Mu, tetapi setan pun mencintaiku dengan sungguh. Engkau memangsaku, serupa itu setan. Aku mencoba untuk belajar merebut hati-Mu, tetapi kadang aku pun belajar merebut hati setan. Maka dengan tunduk hingga debu, aku meminta dari-Mu, ajarilah aku jatuh cinta seperti yang Engkau kehendaki”











































