Wabah ulat bulu yang sebelumnya menyerang warga tujuh desa di Probolinggo, Jawa Timur akhirnya meluas sampai ke Bali, Jawa Barat dan bahkan Jakarta. Fakta yang terjadi, tak hanya ribuan, bahkan jutaan ulat bulu tersebut dapat membuat gatal, bergelantungan di pepohonan, dan terancam masuk ke rumah-rumah warga.

Bagi Profesor Bulu Kuduk, ancaman wabah ini justru melahirkan inspirasi dan berkah. Tak disangka, design atau rancangan gedung DPR Baru yang dibuatnya dengan bahan dasar Ulat Bulu akhirnya disetuju oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI sebagai pemenang lomba design untuk gedung DPR baru.

Namun demikian sang professor tidak besar kepala, walaupun sebelumnya beliau sudah menduga bahwa designya akan menjadi pemenang. Menurut professor kelahiran hutan belantara Nusantra ini dengan design yang uptodate, berkesan modern dan futuristik justru membuat bangsa kita dipandang sebagai bangsa yang memiliki gedung DPR paling ramah lingkungan. Inilah nilai plus-nya.

“Ya, ini konsep design teranyar yang sama punyai, saya mengharapkan supaya DPR menggunakan design saya. Design ini sangat ramah lingkungan dan murah meriah”. Katanya ketika diwawancarai www.bulu.com. Tidak hanya itu, professor Bulu Kuduk pun menepis jika dana yang digunakan untuk membangun gedung DPR sampai menelan triliunan rupiah.

“Ah, itu gossip, tanya saja ke pak Marzuki Ali, design saya tidak mahal koq. Masa DPR mau mengeluarkan uang banyak hanya untuk bangun gedung DPR. Anggota DPR kita sangat bijakasana dalam hal ini. Mereka tahu mana yang menjadi prioritas pembangunan bangsa. Bahkan gedung baru DPR ini dianggap paling murah, lantaran semuanya didesign berbahan dasar kulit ulat bulu atau bulu-bulu ulat”

Selain ramah lingkungan, gedungan DPR yang baru ini yang berbentuk U terbalik berlantai 36 itu memberikan kenyamanan tersendiri bagi anggota parlemen kita ketika sedang menajalankan aktivitasnya. Seperti yang dibocorkan sang professor bahwa rancangan tersebut membuat anggota parlemen lebih peka terhadap diri sendiri.

“Ya, dengan design tersebut dihrapkan supaya anggota parlemen menggunakan jari-jari mereka untuk menggaruk-garuk tubuh mereka sendiri. Bukankah itu lebih bermanfaat ketimbang harus menggunakan jari-jari mereka untuk meng-click vitur-vitur porno ketika siding sedang berlangsung?”

Hmm…masuk akal…tapi maaf ya, tulisan ini hanya fiktif belaka.

Marzuki Alie: Gedung Baru DPR Lebih Murah dari Gedung MK

 

TEMPO InteraktifJakarta – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Marzuki Alie, mengatakan harga konstruksi bangunan setiap ruangan gedung DPR yang baru sudah terbilang murah. Menurut dia, informasi ini didapatnya dari Kepala Biro Pemeliharaan Bangunan dan Instalasi Sekretariat Jenderal DPR, Sumirat.

“Saya sudah mendapat penjelasan Pak Sumirat bahwa harga konstruksi bangunan Rp 4,5 juta per meter persegi sudah paling murah. Dibandingkan dengan gedung MK, Kementerian Perdagangan,” kata dia di kantornya, Senin (28/3).

Menurut Marzuki, Setjen DPR menjelaskan ada beberapa gedung baru yang harganya jauh di atas jumlah yang dianggarkan DPR, seperti gedung Mahkamah Konstitusi hitungannya sekitar Rp 9-10 juta per meter persegi. “Kami Rp 7 juta lebih. Itu lengkap dengan electrical, mecanical, semuanya, termasuk lift, tapi konstruksi saja Rp 4,5 juta lebih,” ujarnya.

Masih menurut Sumirat, kata dia, harga tersebut sama dengan bangunan empat lantai milik pemerintah di kecamatan. “Bagi orang-orang teknik silakan saling menguji, kami kan bukan orang teknik. Bandingkan saja dengan gedung-gedung negara yang lain. Kalau dibilang 800 juta mahal, ya saya no comment, karena itu tergantung luas, berapa penghuni, rencananya kan dihuni 7-8 orang,” kata dia.

Jika pihak-pihak tertentu ingin membandingkan, tambah Marzuki, haruslah membandingkan dengan bangunan yang sejenis dengan rancangan gedung baru tersebut. “Kalau dibandingkan dengan (bangunan) rumah sangat sederhana (RSS), ya, berbeda, konstruksinya semuanya (berbeda). Kalau mau membandingkan, ya, tentu bandingkan (dengan) yang wajarlah,” ujarnya.

 

MUNAWWAROH