Mardiyem sangat marah apabila dikatakan bahwa dirinya adalah pelacur. Mardiyem tahu dan sadar betul bahwa dia adalah gadis baik-baik. Kendatipun dibesarkan sebagai yatim piatu, namun Mardiyem tidak sudi menjual tubuhnya hanya demi setumpuk nafsu. “Aku bukan pelacur” Marah Mardiyem jika dia disamakan sebagai pelacur. Mardiyem adalah korban, meminjam istilah Promoedya Ananta Toer sebagai ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’
Mardiyem – Momoye
Itu kisah Mardiyem puluhan tahun silam yang kembali diangkat-berita Radio Netherland dengan judul “Jugun Ianfu: Kesaksian Mardiyem” pada edisi 28 Maret 2007. Ketika itu tahun 1943, Mardiyem masih seorang remaja berusia 13 tahun. Ia telah yatim piatu pada waktu itu. Ibunya meninggal ketika ia masih bayi dan ayahnya menyusul sepuluh tahun kemudian. Mardiyem kecil yang hobi menyanyi ini menyangka akan diajak masuk dalam kelompok sandiwara ketika tentara Jepang melakukan pendaftaran untuk anak-anak perempuan. Mardiyem kecil tidak merasa curiga ketika ia harus menjalani pemeriksaan kesehatan.
Mardiyem bersama 48 anak perempuan lainnya dibawa ke Kalimantan atau Borneo pada waktu itu. Seminggu sesampainya di Banjarmasin Mardiyem tidak dipekerjakan di kelompok sandiwara tapi dimasukkan ke hotel Tlawang yang sebenarnya adalah rumah bordil. Mardiyem ditempatkan di kamar nomor 11 dan iapun diberi nama baru, nama Jepang ‘Momoye‘. Baru Mardiyem menyadari bahwa ia dan teman-temannya dijadikan apa yang disebutnya ‘orang nakal’.
Puluhan Ribu ‘Momoye’ Yang Lain
Pada era 40-an, persisnya masa penjajahan, Mardiyem tidaklah seorang diri yang menjadi korban cengkeraman nafsu militer Jepang yang biasa disebut sebagai Jugun Ianfu.
Menurut riset yang dilakukan oleh Dr. Hirofumi Hayashi, seorang profesor di Universitas Kanto Gakuin, sebagaimana didata Wikipedia, jugun ianfu menyebar di berbagai Negara. Negara-negara tersebut adalah Jepang, Korea, Tiongkok, Malaya (Malaysia dan Singapura), Thailand, Filipina, Indonesia, Myanmar, Vietnam, India, Indo, Belanda, dan penduduk kepulauan Pasifik.
Menurut Hayashi, jumlah perkiraan dari jugun ianfu ini pada saat perang, berkisar antara 20.000 dan 30.000 orang. Pengakuan dari beberapa jugun ianfu yang masih hidup jumlah ini sepertinya berada di batas atas dari angka di atas. Kebanyakan rumah bordilnya berada di pangkalan militer Jepang, namun dijalankan oleh penduduk setempat, bukan militer Jepang. Sementara itu, menurut riset yang lain, Dr. Ikuhika Hata, seorang profesor di Universitas Nihon. Orang Jepang yang menjadi jugun ianfu ini sekitar 40%, Korea 20%, Tionghoa 10%. Dan 30% sisanya dari kelompok lain.
JUGUN IANFU
Wanita penghibur beralih ke halaman ini. Untuk artikel mengenai pelacuran silakan melihat prostitusi
Jugun ianfu adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada wanita penghibur (bahasa Inggris comfort women) yang terlibat dalam perbudakan seks selama Perang Dunia II di koloni Jepang dan wilayah perang.
Jugun ianfu merupakan wanita yang dipaksa untuk menjadi pemuas kebutuhan seksual tentara Jepang yang ada di Indonesia dan juga di negara-negara jajahan Jepang lainnya pada kurun waktu tahun 1942-1945.
Menurut riset oleh Dr. Hirofumi Hayashi, seorang profesor di Universitas Kanto Gakuin, jugun ianfu termasuk orang Jepang, Korea, Tiongkok, Malaya (Malaysia dan Singapura), Thailand, Filipina, Indonesia, Myanmar, Vietnam, India, Indo, Belanda, dan penduduk kepulauan Pasifik. Jumlah perkiraan dari jugun ianfu ini pada saat perang, berkisar antara 20.000 dan 30.000. Pengakuan dari beberapa jugun ianfu yang masih hidup jumlah ini sepertinya berada di batas atas dari angka di atas. Kebanyakan rumah bordilnya berada di pangkalan militer Jepang, namun dijalankan oleh penduduk setempat, bukan militer Jepang.
Menurut riset Dr. Ikuhika Hata, seorang profesor di Universitas Nihon. Orang Jepang yang menjadi jugun ianfu ini sekitar 40%, Korea 20%, Tionghoa 10%. Dan 30% sisanya dari kelompok lain.
Penelitian sejarah ke dalam pemerintah Jepang mencatat beberapa alasan untuk pendirian rumah bordil militer. Pertama, penguasa Jepang mengharapkan dengan menyediakan akses mudah ke budak seks, moral dan keefektivan militer tentara Jepang akan meningkat. Kedua, dengan mengadakan rumah bordil dan menaruh mereka di bawah pengawasan resmi, pemerintah berharap dapat mengatur penyebaran penyakit kelamin. Terakhir, pengadaan rumah bordil di garis depan menyingkirkan kebutuhan untuk memberikan ijin istirahat bagi tentara.
Pada tahap awal perang, penguasa Jepang mengambil pelacur melalui cara konvensional. Iklan yang menawarkan pekerjaan sebagai pelacur muncul di koran-koran yang terbit di Jepang dan koloni Jepang di Korea, Manchukuo, dan daratan Tiongkok. Banyak yang menanggapi iklan ini dahulunya merupakan pelacur dan menawarkan jasa mereka sukarela. Yang lainnya dijual oleh keluarga mereka kepada militer karena kesulitan ekonomi.
Namun, sumber ini dengan cepat mengering, terutama dari Jepang. Menteri Urusan Luar Negeri menolak pengeluaran visa perjalanan bagi pelacur Jepang, karena merasa akan mencemari nama Kekaisaran Jepang. Militer kemudian mencari wanita penghibur di luar Jepang, terutama dari Korea dan Tiongkok. Banyak wanita dibohongi dan ditipu untuk bergabung ke rumah bordil militer. Lainnya diculik. Pelacur Jepang yang tetap tinggal di rumah bordil militer sering menjadi karayukisan, atau manajer rumah bordil, menyisakan wanita penghibur non-Jepang menjadi korban pemerkosaan beruntun.
Militer juga mengumpulkan wanita penghibur dari daerah setempat. Di wilayah perkotaan, iklan konvensional melalui orang ketiga digunakan bersama dengan penculikan. Namun, di garis depan, terutama di negara di mana orang ketiga jarang tersedia, militer secara langsung pemimpin lokal untuk menyediakan wanita untuk rumah bordil. Situasi ini menjadi buruk ketika perang berlanjut. Di bawah tekanan usaha perang, militer menjadi tidak bisa menyediakan persediaan yang cukup untuk tentara Jepang; sebagai tanggapan, tentara Jepang meminta atau merampok persediaan dari daerah setempat. Terlebih lagi, ketika orang setempat, terutama Tiongkok, dianggap berbahaya, tentara Jepang mengadakan kebijakan pembersihan (dalam bhs. Jepang:燼滅作戦, dalam bhs. Tionghoa 三光作戰), yang termasuk penculikan dan pemerkosaan penduduk setempat.
Menurut wanita penghibur yang masih hidup menggambarkan rumah bordil Jepang tempat yang mengerikan. Wanita dibagi menjadi tiga atau empat kategori, tergantung lamanya pelayanan. Wanita yang paling baru yang lebih tidak mungkin terkena penyakit kelamin ditempatkan di kategori tertinggi. Namun, dengan berjalannya waktu, wanita penghibur diturunkan kategorinya karena kemungkinan terkena penyakit kelamin lebih tinggi. Ketika mereka dianggap terlalu berpenyakit untuk digunakan lebih lanjut, mereka diabaikan. Banyak wanita melaporkan uterus mereka membusuk dari penyakit yang diperoleh oleh ribuan lelaki dalam waktu beberapa tahun.
Ketika usaha perang mengalami kemunduran dan militer mengevakuasikan posisi mereka di Asia Tenggara, wanita penghibur non-Jepang ditinggalkan. Banyak wanita penghibur mati kelaparan di pulau-pulau yang ditinggalkan ribuan mil dari rumah mereka. Beberapa dapat kembali ke tempat asalnya di Korea atau timur laut Tiongkok.
Bagaimana Dengan ‘Momoye’ Indonesia?
Para perempuan Indonesia biasanya direkrut menjadi jugun ianfu berdasarkan paksaan (diambil begitu saja di jalan atau bahkan di rumah mereka), diiming-imingi untuk sekolah ke luar negeri, atau akan dijadikan pemain sandiwara (seperti yang terjadi pada ikon perjuangan jugun ianfu asal Indonesia, Ibu Mardiyem). Sampai saat ini, para mantan jugun ianfu masih merasakan trauma psikologis dan gangguan fungsi fisik akibat pengalaman pahit yang pernah mereka alami. Belum lagi masyarakat yang tidak memperoleh informasi dengan benar, justru menganggap mereka sebagai wanita penghibur (tanpa paksaan) dan atau pelacur.
Selain image buruk sebagai pelacur, beban psikologis dan gangguan fisik yang mendera perempuan korban nafsu tentara Jepang, sampai saat ini, seperti dilansir Media Indonesia (30/03/2011) terdapat puluhan, bahkan ratusan Jugun Ianfu yang mengalami nasib buruk, terlunta-lunta dan bahkan tidak diperhatikan.
Namun sayangnya, mereka terlunta dan tidak diperhatikan bukan lantaran diabaikan oleh sang pembuat masalah ‘tentara-tentara Jepang’ tetapi oleh pemerintahan Indonesia sendiri. Hilde Janssen, seorang peneliti berkewarganegaraan Belanda mengatakan bahwa para Jugun Ianfu Indonesia tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Padahal, mereka mendapatkan hak uang kesejahteraan dari Jepang. Uang kesejahateraan yang tadinya mau diberikan kepada Jugun Ianfu, diambil alih pemerintah melalui departeman sosial, dengan alasan untuk melakukan pengelolaan agar nantinya bisa untuk membela dan membantu korban Jugun Ianfu. Tapi, bantuan itu tidak pernah sampai ke tangan para korban Jugun Ianfu.
“Sebenarnya Jepang sudah menawarkan bantuan dengan memberikan uang kesejahteraan bagi para perorangan korban Jugun Ianfu, tapi Indonesia tidak ingin itu kepada peroragan, dan di minta dikasihkan pemerintah,” tutur Jansen seperti dilansir Media Indonesia. “Mereka frustasi besar, disamping stigmatisasi yang diberikan masyarakat tidak pernah hilang. Mereka juga kehilangan uangnya yang diambil pemerintah Indonesia,” kata Jansenn lebih lanjut.
Aku Bukan Pelacur
Momoye bukan pelacur. Momoye-Momoye yang lain pun demikian. Puluhan ribu Jugun Ianfu itu hanyalah korban dari cengkeraman nafsu tentara Jepang. Namun yang disayangkan adalah bahwa stigamatisasi bahwa mereka adalah pelacur masih melekat hingga kini. Tidak hanya itu, Negara yang seharusnya melindungi hak-hak korban justru mengabaikan dan tidak mempedulikannya. Seperti sudah jatuh tertimpa tangga, Jugun Ianfu kian terlunta-luka. “Mereka tidak bersalah, mereka hanya korban yang tidak bisa memilih, harusnya pemerintah Indonesia mengerti itu,” kata Hilde Jansen.












































4 tanggapan kepada “Aku Bukan Seorang Pelacur”
iiNgreeN
April 4th, 2011 pada 20:04
thx infonya.. Saya suka baca sejarah begini..
Kris Bheda Somerpes
April 11th, 2011 pada 16:05
terim ksh ya dh mau ngunjung ke gubuk ini…..inilah salah satu sejarah masa lalu bangsa kita yang nyaris kita lupakan aplagi peduli
Ady Novanta
April 20th, 2011 pada 16:39
sejarah yang bagus..pentin untuk diketahui, agar generasi muda dapat memberikan citra yang baik bagi bangsa dan negara
Jeky
Maret 5th, 2012 pada 12:37
Bener banget tuh.kalo dipikir2 lebih kejam orang indonesia daripada jepang.udah orang susah.ditambah lagi jd sekarat.