Beberapa hari terakhir ini, tanpa banyak yang tahu sebenarnya bangsa kita sedang bersedih. Kita nyaris kehilangan salah satu asset yang menjadi sendi peradaban bangsa. Andai rakyat tidak sigap menanggapinya, sudah barang tentu kita sebagai bangsa akan benar-benar kehilangan sesuatu itu untuk selamanya.
Sesuatu itu – asset yang menjadi satu sendi peradaban itu – adalah sebuah perpustakaan milik Yayasan Budaya Sulawesi Selatan (YBSS) yang berdiri sejak tahun 1949 di Makassar. Seperti dilukiskan Kompas.com (27/03/2011) perpustakaan tersebut nyaris tidak terawat. Di sana hanya tertinggal Muhamad Salim, ahli bahasa Bugis, dan seorang pembantu bernama Ikhsan yang setia datang.
“Bau apak tiba-tiba menyergap begitu pintu sebuah perpustakaan milik yayasan dibuka. Sudah lama listrik dan telepon di situ tidak menyala. Lemari-lemari buku tampak berdebu dan buku-buku yang usianya ratusan tahun sudah melapuk. Sebuah peradaban yang perlahan hancur” kisah-telusur Kompas.com.
“Bung Karno! Kau dan Aku Satu Zat…”
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin djandji
Aku sudah tjukup lama dengar bitjaramu
dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu
Dari mulai tgl 17 Agustus 1945
Aku melangkah kedepan berada rapat disisimu
Aku sekarang api, aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat, satu urat
Di zatmu, di zatku, kapal2 kita berlajar
Di uratmu, di uratku, kapal2 kita bertolak & berlabuh
Kutipan di atas adalah puisi karya penyair Chairil Anwar (1922-1949) berjudul Perdjandjian Dengan Bung Karno yang ditulis tahun 1948. Naskah asli tulisan tangan sang penyair itu masih tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.
Dalam versi aslinya itu, kata ”lama” pada baris kedua tertulis mencuat dan terjepit di antara kata ”tjukup” dan ”dengar”. ”Aku sudah cukup ”lama” dengar bitjaramu….” Di bawah kata itu terdapat contrengan. Ada kesan kata ”lama” sempat lupa tercantumkan. Tentu ini hanyalah penafsiran atas teks asli. Yang jelas, begitulah naskah asli puisi disimpan dan bisa kita nikmati sebagai dinamika zaman perjuangan yang terekam lewat puisi, yang oleh HB Jassin kemudian digolongkan sebagai Angkatan ’45.
Gelegak revolusi itu terekam benar lewat tulisan tangan Chairil. Dan di sanalah, di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, gelegak ”api” dan ”laut” Chairil itu tersimpan. Sungguh memprihatinkan dokumentasi semangat zaman itu dalam kondisi merana terbengkalai sekarang.
Sesudah Chairil Anwar meninggal tahun 1949, karyanya menjadi rebutan para penerbit. Namun, Chairil sudah mengumpulkan sendiri karya-karya sajaknya dan diserahkan kepada PDS HB Jassin.
Surat cinta Motinggo
PDS HB Jassin tidak sekadar menjadi ”gudang” karya sastra, tetapi juga dinamika kehidupan para pelaku sastra dari zaman ke zaman. Jassin memang rajin mengumpulkan tulisan tangan, catatan kecil dan surat-surat yang ditulis para penulis. Surat pernyataan Motinggo Boesje yang asli dengan judul ”Saya Menolak Hadiah Sastra 1962” masih tersimpan di PDS HB Jassin.
Surat pernyataan yang ditulis bulan Januari 1953 itu berisi penolakan Motinggo atas hadiah sastra yang diberikan untuk cerita pendeknya. Menurut dia, ukuran keberhasilan karya sastra tidak dapat diukur dari penghargaan-penghargaan yang diperoleh.
Kisah hidup penulis flamboyan ini juga terungkap dari catatan-catatan kecil yang dikirimkan Mas Mot (panggilan untuk Motinggo Boesje) kepada beberapa perempuan. Dalam catatan itu, Mas Mot menulis puisi cinta lengkap dengan lukisan sketsa ketika sedang rindu, menyesal, atau kangen kepada sang kekasih.
Mari kita baca puisi Motinggo Boesje yang juga ditulis tangan, lengkap dengan ilustrasi bunga-bunga. Kita kutip bait pertama dan terakhir dari puisi karya novelis, cerpenis, dan sutradara itu. Di bawah puisi itu tertera angka tahun 1988.
”Inilah buah indah rasa bersalah/Penyesalan ibarat memindah dua gunung/Masih saja membayang tangismu pagi itu/Air matamu membasuh hati yang berdebu…”
”Sudahlah. Kesekian kali kumohon maafmu/Matamu bagaikan malam dengan dua lampu.”
Jassin menyimpan naskah-naskah yang dikirimkan para pengarang ini dengan takzim, seolah itu amanat yang tidak bisa diabaikan. Sungguh ironis jika kemudian kita membiarkannya tanpa arti, bahkan menganggapnya sebagai coretan berdebu tak bermakna. Dan pengelola PDS HB Jassin, Endo Senggono, mengaku belum semua naskah asli itu disimpan dalam bentuk digital. ”Belum. Masih dalam map begitu saja,” katanya.
Tidak hanya karya sastra. Jassin juga menyimpan dokumen, seperti undangan perkawinan Motinggo dengan Lashmi Bachtiar pada 2 September 1962. Pada keterangan ”Djam” dan tempat tertulis: ”Djam 12.00 s/d 15.00 siang di Djalan Salemba Tengah II No 7 Djakarta”. Nama Motinggo dalam undangan tertulis sebagai Bustami Djalid. Di belakang nama itu tercantum nama senimannya, Motinggo Busje (ejaan sesuai dengan aslinya).
HB Jassin tidak hanya menyimpan, tetapi juga mencatat dengan sangat detail peristiwa berkait dengan sastra dan para pelakunya. Kita tengok bagaimana sepotong kehidupan Pramudya Ananta Toer tercatat dalam buku harian.
Pada hari Kamis 1 Maret 1954, misalnya, HB Jassin menulis, kunjungan Pramudya Ananta Toer pada pukul 19.30-20.15 di rumah Jassin. Pramudya yang baru pulang dari Blora, Jawa Tengah, ini membawa naskah cerita perjalanan. Dari catatan harian itu tergambar dinamika kehidupan penulis Pramudya atau Pram pada masa lalu. Ceritanya, Pram sedang butuh uang segera. Ia sudah memasukkan tulisan perjalanan ke majalah Mimbar, tetapi majalah itu tidak bisa segera membayar honornya. Tulisan Pram itu dirasa Jassin cocok untuk majalah Zenith, tetapi majalah ini sering terlambat terbit.
Setidaknya kita bisa merekonstruksi, betapa pilihan hidup sebagai pengarang seperti Pram penuh dengan kenyataan pahit. Sesungguhnya celaka jika nasib dokumentasi mereka pun kini kita abaikan.
Merana
Dokumen kebudayaan itu tersimpan di antara buku-buku sastra, prosa dan puisi, naskah drama, catatan biografi, tulisan tangan, dan surat-menyurat sastrawan besar di Tanah Air. Sebagian dokumen tersimpan di rak yang berderet memenuhi ruangan, sebagian lagi dibiarkan menumpuk begitu saja.
Tumpukan koran dan majalah tua berjubel di sela-sela rak buku yang sudah tidak muat lagi menyimpan tambahan koleksi. Kondisinya berdebu. Kertasnya sudah lapuk dan berwarna kuning kecoklatan. Benda-benda itu seperti benda bekas yang sudah usang. Sementara di dalamnya tersimpan jejak sejarah yang mencerminkan cara berpikir intelektual kita pada masa lalu.
Di antara tumpukan tadi masih bisa ditemukan majalah yang terbit di Indonesia pada awal Perang Dunia II (tahun 1940), seperti Pujangga Baru dan Panji Pustaka. Ada juga majalah Jawa Baru dan Kebudayaan Timur yang terbit di Indonesia pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Koleksi lain yang lebih tua, seperti Kumpulan Sastra Melayu Tionghoa terbitan tahun 1900-1940, tersimpan di dalam sebuah lemari kaca.
Dengan ribuan buku, suasana pusat budaya itu sangat pengap. ”Sudah biasa kalau pengatur suhu udara di sini dimatikan. Dulu ketika pertama kali pusat dokumentasi ini resmi didirikan tahun 1977, enam bulan kemudian kami tidak mampu membayar listrik sehingga AC harus dimatikan total,” kata Harkrisyati Kamil atau Yati, yang pernah menjadi Kepala Dokumentasi PDS HB periode 1979-1983 mengenang.
Agar suhu di ruang dokumentasi tidak panas, Yati dan teman-temannya selalu membuka jendela lebar-lebar, lalu menyalakan kipas angin. ”Untungnya, waktu gedung itu dibangun, saya minta Pemerintah DKI Jakarta membuatkan jendela-jendela berukuran besar,” tutur Yati. Menurut Yati, gedung PDS HB Jassin yang dibangun pada masa Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta itu awalnya dirancang tanpa jendela.
Dirintis
Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dirintis oleh penulis, penyunting, dan kritikus sastra almarhum Hans Bague (HB) Jassin. Penulis kelahiran Gorontalo, 13 Juli 1917, ini mengumpulkan dokumentasi sejak tahun 1930. Pada waktu ia masih berusia 13 tahun, HB Jassin gemar menyimpan buku-buku harian, buku-buku sekolah, karangan-karangan yang pernah ditulis di kelas, hingga surat dan foto pribadinya.
Kini pusat dokumentasi itu menyimpan 16.316 judul buku fiksi, 11.990 judul buku nonfiksi, 457 judul buku referensi, 772 judul buku/naskah drama, 750 map berisi biografi pengarang, 15.552 map kliping dari berbagai sumber, 610 lembar foto pengarang, 571 judul makalah, 630 judul skripsi dan disertasi, serta 732 kaset rekaman suara dan 15 kaset rekaman video dari para sastrawan Indonesia. Jumlahnya terus bertambah karena pengelola selalu memperbanyak koleksi. Boleh dibilang, PDS HB Jassin adalah pusat dokumentasi sastra modern Indonesia terlengkap. Bahkan, ada yang menyebutnya terlengkap di dunia, tetapi kenapa nasibnya begitu mengenaskan?
(Lusiana Indriasari/Luki Aulia/Putu Fajar Arcana/Frans Sartono)
Sumber:
http://oase.kompas.com/read/2011/03/27/08595062/.amp.Bung.Karno.Kau.dan.Aku.Satu.Zat.amp.
Bayangkan…apa yang bakal terjadi jika perpustakaan/pusat dokumentasi yang disebut sebagian orang sebagai yang terlengkap di dunia. Seperti yang diberitakan Kompas.com, di pusat dokumentasi tersebut tersimpan sekitar 16.316 judul buku fiksi, 11.990 judul buku nonfiksi, 457 judul buku referensi, 772 judul buku/naskah drama, 750 map berisi biografi pengarang, 15.552 map kliping dari berbagai sumber, 610 lembar foto pengarang, 571 judul makalah, 630 judul skripsi dan disertasi, serta 732 kaset rekaman suara dan 15 kaset rekaman video dari para sastrawan Indonesia itu terbengkelai dan tidak diperhatikan?
Tentu saja, kita tidak hanya akan bersedih. Melampaui dari sekedar sedih, kita pun akan berduka karena kehilangan masa lalu, sejarah, catatan perjalanan kehidupan kita sebagai sebagai sebuah bangsa yang besar. Kita akan kehilangan kenangan yang membuat kita selalu dan senantiasa kuat menatap masa depan. Kita kehilangan orientasi, bahkan kita akan kehilangan keadaban. Tragisnya lagi,jika itu sampai terjadi, maka sudah barang tentu kita akan menjadi bangsa yang tidak beradab, lantaran mengabaikan peradaban.
Rencana Pembangunan Gedung DPR Baru
Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan rumah kecil penuh debu berbauk apak yang menyimpang jutaan peristiwa, kenangan, catatan harian dan refleksi perjalanan kehidupan bangsa, di sini, di Jakarta, tepatnya di Senayan, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) justru melanjutkan rencana pembangunan gedung DPR yang baru yang menelan biaya 1,2 Triliun.
Seperti dilansir Kompas.com (27/03/2011), rencana pembangunan gedung DPR baru akan tetap dilanjutkan, kendati memang telah menuai kontroversi sejak pertengahan tahun lalu. Selain lantaran dana Rp 1,2 triliun yang dinilai terlalu besar, sejumlah fasilitas yang akan melengkapi gedung tersebut juga menuai kritik. Akibat derasnya kritik publik, rencana pembangunan yang ditargetkan dimulai pada Oktober 2010 lalu akhirnya ditunda. Namun, melalui Sekretariat Jenderal DPR akhirnya memastikan bahwa proses pembangunan akan dimulai pada 22 Juni 2011. Saat ini, DPR akan memulai proses tender yang diikuti 11 perusahaan yang sudah mendaftarkan diri.
Inilah fakta yang sudah sedang terjadi di bangsa ini. Rupa-rupanya, para elite politik, pejabat dan pemerintah bangsa ini bukan dilahirkan dan dibesarkan di tanah ini. Entahlah, apa yang ada dalam benak para pemimpin dan pejabat kita, apa yang sudah sedang mereka dipikirkan tentang pembangunan bangsa yang sejahtera, adil dan bermartabat? Sederetan pertanyaan lain dapat kita ajukan: Apa yang menjadi prioritas untuk pembangunan bangsa ini? Kesenangan sekelompok elite politik ataukah kebutuhan warga bangsa? Mana yang mesti diselamatkan, peradaban dan jati diri bangsa atau popularitas dan kekuasaan?
Sastra Mati di Gudang Sejarah
Bau apak tiba-tiba menyergap begitu pintu sebuah perpustakaan milik yayasan dibuka. Sudah lama listrik dan telepon di situ tidak menyala. Lemari-lemari buku tampak berdebu dan buku-buku yang usianya ratusan tahun sudah melapuk. Sebuah peradaban yang perlahan hancur….
Jelas sekali perpustakaan milik Yayasan Budaya Sulawesi Selatan (YBSS) yang berdiri sejak tahun 1949 di Makassar terbengkalai. Hanya tertinggal Muhamad Salim, ahli bahasa Bugis, dan seorang pembantu bernama Ikhsan yang setia datang.
Sampai tiga tahun terakhir hanya bisa didata 2.809 buku penelitian berbahasa Belanda dan 100 lontarak (naskah di daun lontar) asal Sulsel. Masih begitu banyak koleksi yang belum terdata sehingga jumlah pastinya juga tidak pernah diketahui.
Sejak Ketua Yayasan YBSS Fachruddin Ambo Enre meninggal tahun 2008, kata Salim, yayasan seperti tanpa nakhoda. Tidak ada lagi kepengurusan. Salim bahkan bekerja tanpa honor selama tiga tahun terakhir. Di tempat berdebu dan usang itu sesungguhnya masih tersimpan terjemahan Alkitab dari bahasa Jerman ke bahasa Makassar yang terbit tahun 1892. Ada juga Injil Matius berbahasa Makassar cetakan tahun 1863! Bahkan seorang Belanda bernama Benjamin Frederik Matthes membawa karya sastra terpanjang di dunia, I La Galigo, ke Belanda setelah mendapatkannya dari seseorang.
Terbengkalai
Deretan daftar situs pendokumentasian dan perpustakaan yang notabene menyimpan pengetahuan dan jejak peradaban yang terbengkalai bisa cukup panjang. Belum hilang dari ingatan kita bagaimana Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin harus tertatih-tatih menjalani hari-harinya yang berat. Ketua Dewan Pembina Yayasan PDS HB Jassin Ajip Rosidi bahkan sudah melansir pernyataan akan menutup gudang sejarah itu.
Nasib Perpustakaan Bung Hatta di Jalan Adisutjipto, Yogyakarta, bahkan lebih memilukan. Perpustakaan yang berdiri sejak 1953 itu sudah ditutup tahun 2006. Gedungnya kini bocor di sana-sini, seperti rumah hantu. Menurut Ketua Dewan Pembina Yayasan Hatta Sri Edi Swasono, setidaknya Perpustakaan Hatta menyimpan lebih dari 40.000 buku. Kini buku-buku itu dititipkan di Perpustakaan Universitas Gadjah Mada. ”Semua buku diikat, entah bagaimana perawatannya,” ujar Edi Swasono.
UGM kemudian membuka Hatta Corner di perpustakaan universitas untuk menyelamatkan koleksi buku-buku Bung Hatta. Padahal, di salah satu koleksi buku Hatta ada Asia karya Alonso Viloa yang diterbitkan tahun 1561.
PDS HB Jassin yang di pelupuk mata saja bernasib mencemaskan, apalagi tempat seperti Museum Negeri Sulawesi Tenggara di Kendari. Sekitar 5.000 koleksi benda kuno, termasuk di antaranya 100 naskah tua, boleh dikata sudah rusak karena tak terurus. Sudah sekitar satu dekade museum tidak lagi dapat anggaran perawatan dan pemeliharaan. ”Sejak otonomi daerah tahun 2001, baru sekali dapat anggaran,” kata Kepala Seksi Bimbingan Edukasi Museum Negeri Sultra Rustam Tombili.
Bali yang begitu dikenal dengan perawatan tradisi karena dianggap memiliki nilai ekonomis juga tidak terhindar dari sikap menyepelekan peninggalan peradaban masa lalu. Banyak naskah tua yang tertulis di atas daun lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya, Singaraja, Bali, pelan-pelan menuju kehancuran. Rayap-rayap bahkan mulai menggerogoti sebagian naskah.
Sastrawan Dewa Gede Windhu Sancaya yang pernah mendata naskah-naskah di situ menemukan kenyataan ada koleksi yang hilang. ”Koleksi yang hilang itu sulit sekali dilacak,” ujarnya.
Dalam kondisi begitu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Buleleng Putu Tastra Wijaya mengatakan, semua koleksi Gedong Kirtya sudah terawat baik. Tastra membantah bahwa ada naskah tua yang dimakan rayap. ”Itu cuma isu. Koleksi kami terawat dengan baik,” katanya.
Perlu komitmen
Menurut Doktor Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Bandung, Ninis Agustini Damayanti, perpustakaan dan dokumentasi harus ditangani ahli. Selama ini ada kesan pengelola perpustakaan disamakan dengan penjaga buku. ”Itu persepsi yang sangat keliru,” kata Ninis.
Komitmen pemerintah untuk mendanai kegiatan perpustakaan, katanya, belum kuat. Dananya belum menjadi prioritas. Dokumen dan naskah tua membutuhkan perawatan dan tempat penyimpanan yang layak. ”AC harus dinyalakan tujuh hari seminggu dan 24 jam sehari, tidak boleh mati,” tuturnya.
Di daerah tropis, suhu ruangan dipatok pada angka 20 plus minus 3 derajat celsius. Sementara kelembaban udara pada angka 50 plus minus 3 rh (relative humidity).
Menyaksikan pembiaran terhadap nasib peradaban ini, sekelompok anak muda bergerak cepat lewat jejaring sosial Twitter dan Facebook untuk menggalang solidaritas. Mereka membentuk tim #koinsastra yang dalam waktu cepat memobilisasi kepedulian ke berbagai daerah. Salah satu pencetus #koinsastra, Khrisna Pabhicara, mengatakan, kelompok ini tidak sabar menunggu kehancuran. ”Karena itu, lebih baik kita bergerak menyongsong badai,” katanya.
Setelah melakukan audiensi dengan pengurus Yayasan PDS HB Jassin, mereka sepakat melakukan digitalisasi naskah serta menggalang donasi dari para simpatisan. ”Kami sudah mengumpulkan enam komputer dan dua scanner dari para donatur. Masih kurang empat lagi,” tutur Ahmad Makki, pencetus #koinsastra lain.
Pertanyaannya, apakah dokumen-dokumen tua yang menyimpan peradaban masa lalu harus selalu meruapkan bau apak hingga napas kita sesak? Bukankah di situ dipertaruhkan identitas dan martabat bangsa? Mau apa dan ke mana sebenarnya kita ini…. N(SIN/RIZ/WKM/TOP/DEN/ENG/IND/BSW/CAN)
Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/03/27/03153970/sastra.mati.di.gudang.sejarah.
Catatan ini tidak menawarkan solusi, saya cukup diri mengajukan pertanyaan-pertanyaan di atas untuk direfleksikan bersama. Namun yang pasti bahwa membangun bangsa yang beradab, bermartabat dan berbudaya tanpa berkaca pada lembaran-lembaran masa silam yang sudah membangun dan mengokohkan peradaban bangsa adalah mustahil. Gedung DPR baru itu penting, tetapi bukan prioritas lantaran itu tidak mendesak. Tetapi membangun peradaban bangsa adalah selalu dan kapan saja. Jika tidak jangan pernah salahkan masa depan.












































