Beragam cara mengajar sang buah hati agar kelak menjadi pribadi yang berperilaku dan berkhlak baik. Lazimnya orang tua mengajari anak dengan nasehat dan atau memberi teladan. Namun kadang, model pengajaran yang demikian mengandaikan seorang anak sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang sesuatu, secara khusus tentang pemahaman moral: mana yang baik dan mana yang tidak baik.
Lalu bagaimana jika si buah hati masih berusia di bawah satu tahun? Di Nanggroe Aceh Darusallam (saya kira di tempat lain juga ada) terdapat kebiasaan bagi seorang ibu untuk memberikan nasehat kepada bayi-bayi mereka melalui syair-syair yang disebut do daidi. Sebuah syair peninabobo bayi, semacam syair sejuk pengantar tidur.
Bentuk syair dan tujuannya beragam. Sebagai misal dalam masa perjuangan merebut kemerdekaan dari tangan penjajahan asing (dan saya kira sampai masa konflik) sang buah hati dinasehati dan diajak untuk menjadi pribadi yang sabar, kuat, tangguh dan bahkan diharapkan bisa memanggul senjata untuk berperang melawan para penjajah. Salah satu contoh syair tersebut adalah ‘Do Daidi-Nyawoung’ yang dilantunkan Cut Aza Riska.
Saya mengutip sekuplet dari syair tersebut yang kurang lebih bermakna mengajak sang buah hati agar kemudian hari dapat bersama-sama pergi berperang membela bangsa/negara. Totalitas dalam berjuang dan bahkan Kematian adalah suatu keharusan. Dan itu harus direlakan.
“…..Tajak bantu prang tabela nanggroe/Wahèe aneuk bek taduek lee/Beudoh saree tabela bangsa/Bek ta takot keudarah ilèe/Adak pih matee poma ka rela”
Do Daidi- Nyawoung
Cut Aza Riska
Allah hai do do daidi
Boh gadông bi boh kayee uteun
Rayeuk si nyak hana pue ma bri
Ayèeb ngon keuji ureung dônya kheun
Allah hai do do daida
Seulayang blang kaputoh talo
Beurinjang rayeuk muda seudang
Tajak bantu prang tabela nanggroe
Wahèe aneuk bek taduek lee
Beudoh saree tabela bangsa
Bek ta takot keudarah ilèe
Adak pih matee poma ka rela
Jak lon tak the
Meujak lôn tak the
Beudoh hai aneuk tajak u Aceh
Meubèe bak ôn
Ka meubee timphan
Meubee badan
Bak sinyak Aceh
Alla hai po ilahonha
Gampông jarak hantrok lon wo
Adakna bulèe ulôn tereubang
Mangat rijang troh u nanggroe
Allah hai jak lôn timang preuk
Sayang riyeuk disipreuk pante
Ôh rayeuk sinyak yang puteh meupreuk
Toh sinaleuk gata boh hatèe
Do daidi selain mengandung nasehat perjuangan, juga terdapat nasehat agar sang buah hati dapat berperilaku baik dan mampu mengamalkan nilai-nilai kesantunan, tenggang rasa, dan kepekaan social. Salah satu contoh syair do daidi tersebut adalah ‘Do Daidi Damee’ yang dilantunkan oleh seorang seniman perempuan Aceh Barat, Syech Po.
Dalam dan melalui syair Do Daidi Damee tersebut, Syech Po (dan saya kira ajakan untuk semua ibu) mengajak, menasehati dan mengajari sang buah hati untuk bersekolah, dan selanjutnya jika menjadi pemimpin jadi pemimpin yang sanggup mengurus bangsa, tidak melakukan tindakan korupsi, bijaksana melahirkan kebijakan serta mampu menciptakan perdamaian dan keharmonisan.
Do Daidi Damee
Syech Po-Meulaboh Aceh Barat
Jak kudodi kudodi ayon/Pergi saya dodi-dodi ayun
Taboh talo pon naleng kom-kom ma/Pasang tali pertama rumput ilalang
Talo jih syah dat ayon kalimah/Tali syhadat ayun kalimah
Tuan patimah yang pupon baca/Siti fatimah yang mulai baca
Bebagah rayek anek lon sayang/cepatlah besar anakku sayang
Sabouh peusan aneuk bak poma/Satu pesan dari ibu pada anak
Karayeuk gata aneuk badan/Jika kamu besar nanti
lam pendidikan gata poma ba/Ibu antar kamu ke sekolah
Wahe aneuk janton hate nan/Wahai anak kesayangan ibu
jeut kepemimpinan pengurus bangsa/Jadi pemimpin mengurus bangsa
Bekna korupsi oh, jabatan/Jika ada jabatan jangan korupsi
salah bak Tuhan hana ampon dosya/Tidak diampuni dosa oleh Tuhan
Beu ek bahgia orou ngon malam/Bahagia siang dan malam
ke aneuk badan, doa bak poma/Ibu berdoa untuk anak
Ngon bijak sana ta ato program/Dengan bijaksana mengatur program
lam perdamian kenam tacipta/Ciptakanlah perdamaian
Bena taingat janton hate nam/Suatu saat nanti ingatlah ibu
Getimang-timang gata le poma/Diberi kasih sayang oleh ibu
Geupeuh ngon bu gejampu pisang/Nasi campur pisang
Jedodi sayang sajan ie mata/Sambil dodaidi menitikan airmata
Menarik untuk disimak dan apalagi diwaris-temurunkan tradisi dan kebiasaan sehat ini. Sebuah kebiasaan yang mungkin oleh sebagian orang tidak penting, tetapi menjawab keresahan dan kecemasan public perihal jalan mana yang efektif untuk menuntaskan persoalan bangsa dan Negara seperti korupsi, konflik dan perang kepentingan, mungkin dan adalah baik jika sejak dini kita mengajar bayi dan anak kita lewat syair-syair do daidi.










































