Masih ingat kisah Mark David Chapman yang merasa sangat berbahagia setelah revolvernya menyalak menuntas-tewaskan John Lenon pada tahun 1980? Tiga jam setelah Chapman menewaskan suami Yoko Ono itu di depan pintu gerbang Apartemen The Dakota New York, Chapman dengan bangga menahbiskan dirinya “Saya yakin, sebagian besar dalam diri saya adalah Holdem Caufield dan sebagian kecil dalam diri saya adalah setan”

Demikianlah Chapman. Ke mana pun dia pergi dalam saku jacketnya pasti ada The Catcher In The Rye, sebuah buku-novel yang terbit pada tahun 1951 karya sastrawan terkemuka J.D Salinger. Novel tersebut sangat mempengaruhi hidup Chapman sampai ia bahkan menemukan dirinya sama seperti seorang Holdem Caufield, tokoh utama dalam novel Salinger itu. Lalu, siapakah Holdem Caufield yang membuat Chapman begitu tergila-gila?

Karya Sastra Yang Mengguncang Dunia

Leila S. Chudori

Kota New York, 8 Desember 1980, pukul 22.49. Limusin hitam itu meluncur tepat di depan Apartemen Dakota. John Lennon dan Yoko Ono berjalan menuju pintu gerbang seusai sebuah sesi rekaman di studio rekaman Plant. Dari jalanan di muka apartemen, Mark David Chapman melepas buah peluru dari pistol revolver ke tubuh penyanyi legendaris itu.

Sementara orang-orang di sekeliling masih terpaku karena guncangan yang terjadi, Chapman tetap berdiri di dekat jenazah John Lennon. Dia mengeluarkan novel The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger dan membacanya hingga para polisi New York tiba di tempat kejadian perkara. Mark Chapman langsung ditahan tanpa perlawanan. Dan hanya tiga jam setelah peristiwa penembakan itu, Chapman langsung membuat klaim: “Saya yakin, sebagian besar dalam diri saya adalah Holden Caufield (tokoh utama dalam novel The Catcher in the Rye) dan sebagian kecil diri saya adalah setan.”

l l l

Siapakah J.D. Salinger? Dan mengapa novel The Catcher in the Rye begitu berpengaruh dahsyat, bahkan jauh sebelum Mark Chapman membunuh John Lennon? Apa betul sebuah novel bisa mendorong seseorang melakukan tindak kriminal?

Lahir di Manhattan, Kota New York, 1 Januari 1919, Jerome David Salinger adalah putra bungsu pasangan Sol dan Miriam Jilich Salinger.

Dunia sastra mulai dimasukinya ketika dia menjadi mahasiswa Whitt Burnett pada mata kuliah penulisan cerita pendek di Columbia University (1939). Burnett juga redaktur majalah Story, yang kemudian memuat cerpen Salinger pada 1940 berjudul The Young Folks yang dianggap sangat komprehensif, ketat, serta berhasil membangun cerita dan suasana berdasarkan dialog. Setelah berkorespondensi dan mengirim beberapa cerpennya-yang semula ditolak oleh The New Yorker-nama Salinger mulai dilirik ketika cerpen Slight Rebellion off Madison dimuat di New Yorker. Cerita inilah yang menjadi cikal bakal novel The Catcher in the Rye.

Ketika The Catcher in the Rye terbit pada 1951 dunia terguncang. Bukan hanya komunitas sastra, melainkan juga para remaja. Inilah kisah Holden Caufield, remaja lelaki berusia 17 tahun yang baru saja didepak dari Pensy Preparatory School, sebuah sekolah swasta yang mempersiapkan anak-anak sekolah memasuki universitas. Sepanjang novel, kita mengikuti petualangan pemikiran dan langkah kaki Holden. Di mata Holden, dia percaya sesungguhnya manusia terdiri atas cinta dan kebaikan. Tapi yang merusak kebaikan manusia adalah nilai-nilai yang dipegang manusia kelas menengah Amerika yang mempunyai definisi sukses sebagai: uang dan kekuasaan.

Sikap Holden yang sinis terlihat jelas ketika dia mengejek para pengacara yang seharusnya menolong orang-orang yang tak bersalah, tapi terlihat lebih sibuk bermain golf, bridge, atau memborong mobil sembari minum martini agar terlihat keren. Bagaimana mereka bakal menyadari bahwa mereka hanya orang dungu yang palsu (Holden menyebut istilah phoney)? Masalahnya, menurut Holden, mereka tak akan menyadarinya.

Keinginan Holden untuk “kabur” sementara ke New York-setelah dia menertawakan dirinya yang dikeluarkan dari sekolah-malah membawa pertemuan dengan seorang germo, dan berbagai karakter lainnya. Selama petualangan itu, kita melihat di antara gabungan sikap Holden yang sinis, penuh amarah itu sebetulnya masih terselip seuntai optimisme, terutama jika dia membicarakan adik perempuannya, Phoebe; atau kedua kakaknya, DB (yang dalam cerita lain dikenal sebagai Vincent Caufield) dan Allie (yang nama lengkapnya adalah Kenneth Caufield).

Novel ini adalah kisah seorang remaja pemberontak pascaperang; sebuah penolakan terhadap pemujaan materialisme dan ukuran sukses dunia kapitalisme yang sedang membangun dirinya. Ada saat-saat kita tahu, Holden sudah berada di tubir keinginan bunuh diri. Tapi itu tak dilakukannya.

Pertemuannya dengan Phoebe adalah bagian manusiawi yang paling mengharukan. Kita kemudian paham, Holden Caufield berhasil mengatasi kegalauannya yang sering membawanya pada destruksi diri. Dalam novel ini, Salinger sengaja menggunakan bahasa seorang anak remaja lelaki yang cerdas, sinis, dan antisosial. Dia sengaja tidak menggunakan bahasa yang canggih atau bahkan puitis untuk menunjukkan cara berpikir Holden. Tokoh Caufield seenaknya menggunakan kata phoney untuk menggambarkan kedunguan dan banalitas orang-orang di sekelilingnya yang dianggapnya pretensius (hingga akhirnya kata phoney menjadi trademark bagi Salinger) dan ratusan makian ala Holden Caufield.

Kelebihan Salinger, seperti yang dikatakan novelis Richard Yates, adalah, “Salinger menggunakan bahasa sebagai sebuah energi yang dia kontrol dengan sempurna. Dia tahu kapan dia harus berkisah melalui dialog; kapan dia bercerita melalui deskripsi; dan kapan dia bersuara melalui sunyi.”

Inilah keistimewaan Salinger. Dia tidak berpretensi membentuk kalimat “sulit” atau “puitis”. Dia seolah-olah menggunakan bahasa Inggris yang sederhana. Mereka yang tak cukup awas akan menyangka Salinger tidak mengolah bahasa. Tapi sesungguhnya, di antara kesederhanaannya itu, Salinger menyajikan simbol dan berbagai frasa penuh makna. Apa arti The Catcher in the Rye; arti kalimat Raise High the Roof Beam, Carpenters; atau arti fantasi sosok bananafish; hingga sekarang masih menjadi obyek perdebatan pengamat sastra ataupun penggemar Salinger.

Sejak novelnya yang fenomenal ini, Salinger merasa risi dan memutuskan untuk hidup reklusif. Dia tak bersedia ditemui wartawan (apalagi wartawan televisi atau radio); setiap kali ada yang mendengus posisi rumahnya, Salinger langsung memutuskan pindah rumah terus-menerus sepanjang hidupnya. Terakhir dia berdiam di sebuah rumah terpencil di Kampung Cornish, New Haven, dengan para tetangga dan warga sekampungnya yang sangat protektif terhadap sang sastrawan. Mereka langsung tutup mulut jika pers atau turis bertanya-tanya tentang J.D. Salinger. Begitu reklusifnya hingga Salinger juga tak sudi mengizinkan siapa pun mengangkat novelnya ke layar lebar; apalagi untuk datang menghadiri festival-festival sastra, tempat para sastrawan saling pamer ego dan pamer karya.

Mungkin Salinger adalah satu dari sedikit sastrawan dunia yang tak perlu menghadiri acara promosi apa pun; festival sastra di negeri mana pun; dan dia bahkan tak perlu menjadi anggota geng sastra atau komunitas sastra. Dia bisa hidup bersembunyi, terpencil, sedangkan bukunya tetap menjadi pegangan dan berpengaruh di dunia. Hidupnya yang terpencil ini menjadi inspirasi film Finding Forrester (sutradara Gus Van Sant, 2000) yang berkisah tentang seorang penulis besar Amerika yang 30 tahun hidup di apartemennya tanpa ingin bertemu dengan siapa pun.

Karya Salinger lainnya, Nine Stories, Franny and Zooey, Raise High the Roof Beam, Carpenters, Seymour: an Introduction, dan puluhan cerpen lainnya yang tersebar di berbagai media juga membuat namanya semakin melambung dan menjadikan J.D. Salinger sastrawan terkemuka yang paling enigmatis.

Karena Salinger selalu menolak tawaran untuk mengangkat karyanya ke film, orang hanya bisa meminjam “inspirasi” atau “pengaruh”-nya. Ratusan karya sastra, lagu, dan film banyak yang dipengaruhi oleh berbagai karyanya. Menurut sastrawan Harold Brodkey, pemenang penghargaan sastra O Henry, “Karya-karya Salinger adalah karya yang paling berpengaruh dalam sastra Inggris sejak Hemingway.”

Para sastrawan yang mengaku (atau dianggap) banyak dipengaruhi secara langsung dan tak langsung oleh J.D. Salinger, antara lain John Updike, Philip Roth, Haruki Murakami, Carl Hiaasen, Susan Minot, Tom Robbins dan Louis Sachar. Di majalah The New Yorker 2001, Louis Menand menulis bahwa banyak sekali karya kontemporer yang terasa aroma The Catcher in the Rye, hingga bisa dikatakan novel ini memiliki genre sendiri. Novel-novel yang dianggap terpengaruh karya Salinger ini, antara lain The Bell Jar (Sylvia Plath), Fear and Loathing in Las Vegas (Hunter S. Thompson), dan Bright Lights, Big City (Jay McInerney).

Tapi perayaan terhadap karya J.D. Salinger ini memang bagi mereka pencinta seni. Apa boleh buat, dunia yang lebih luas ternyata mengenal nama Salinger setelah peristiwa penembakan Mark Chapman. Setelah pemeriksaan psikiater dan interogasi yang rigid dan ketat, Chapman memang dianggap mengalami gangguan jiwa yang luar biasa. Bahwa dia menggunakan novel karya Salinger sebagai “buku sakti”-nya tak berarti novel inilah penyebabnya. Buku ini sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa serta sudah dibaca oleh ratusan juta penggemarnya, dan yang melakukan tindak kriminal itu adalah seorang Mark Chapman.

Apa boleh buat, setelah peristiwa tragis pada 1980 itu, lahir berbagai lagu dan film, seperti I Just Shot John Lennon, dari the Cranberries (1996); 3 Warning Shots oleh Rick Springfield (2008); The Killing of John Lennon (karya Jonas Ball, 2007); dan sebuah film yang tengah disutradarai Sean Penn tentang peristiwa penembakan ini, yang belum diberi judul, akan menampilkan Mark Linn-Baker sebagai Mark Chapman.

Tapi J.D. Salinger adalah contoh soal terbaik dari apa yang dikatakan “the death of writer” oleh Roland Barthes. Di masa dia hidup, dan di masa dia sudah berpulang, yang lebih banyak berbicara kepada kita adalah karya-karyanya. Bukan persona. Bukan penulisnya. Dan memang demikianlah seharusnya hidup sebuah karya sastra.

Sumber:

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/04/05/IQR/mbm.20100405.IQR133155.id.html

Dia adalah lelaki remaja berusia 17 tahun. Dia adalah remaja drop out dari Pensy Preratory School, sebuah sekolah swasta setingkat Sekolah Menengah Atas. Di mata Holdem, manusia sesungguhnya terdiri atas cinta dan kebaikan. Namun karena uang dan kekuasaan segala kebaikan menjadi rontok, cinta kasih tergadai dan keharmonisan dipisah-pilah oleh kepentingan. Lantaran itu, Holdem tampak sinis dan marah melihat situasi di sekitarnya. Ia lantas tampil menjadi seorang pemberontak yang kristis-cerdas dan antisosial. Dengan tegas ia membenci pemujaan terhadap materialisme dan kapitalisme dan menganggap para pemujanya sebagai pnoney. Sebuah kata umpatan yang menggambarkan kedunguan dan banalitas orang-orang disekitarnya yang dianggapnya prestisius, angkuh, penuh tipu muslihat dan budak dari kekayaan dan kekuasaan.

Inilah ringkas kisah Holdem Caufield. Sederetan pertanyaan pun muncul: Apa yang membuat Mark David Chapman begitu terpesona dengan sosok Holdem? Dan mengapa harus John Lenon yang menjadi tumbalnya? Jika Chapman melihat dirinya sebagai Holdem Caufield dan selanjutnya memandang John Lenon sebagai salah satu dari phoney, maka haruskah revolver itu meledak? Mungkin bagi Chapman, membunuh dengan demikian bukan merupakan tindakan yang salah. Bahkan dia merasa sebagai sebuah keharusan-kewajiban karena melakukannya dengan alasan yang luhur: memperjuangkan nilai kehidupan manusia yakni kebaikan dan cinta.

Bayangkan saja, sementara orang-orang di sekililng masih terpaku karena menyaksikan John Lenon tewas karena buah peluru revolvernya, Chapman justru tetap berdiri di dekat mayat Lenon dan mengeluarkan novel Salinger itu dan membacanya. Ia tidak pergi ke mana-mana sampai polisi datang menjemputnya untuk menginterogasi dan memasukkannya ke dalam bui.

Pertanyaan lain adalah apakah Chapman seorang pengagum Lenon? Sehingga karena kesemasannya yang mendalam atas pengaruh uang dan kekuasaan yang sudah sedang mendera Lenon, maka adalah baik jika Lenon harus diselamatkan. Dan jalan menuju ke sana adalah dengan membunuhnya? (Mungkin) menurut Chapman, Lenon adalah pribadi yang baik dan penuh kasih, sehingga sebelum popularitas, prestise, kekuasaan dan uang membunuh Lenon maka menarik pelatuk revolver adalah pilihan yang terbaik. Bukankah lebih cepat lebih baik. Apalagi yang lebih cepat itu dipandang Chapman sebagai yang baik.

John Lenon

John Winston Ono Lennon (lahir di Liverpool, Inggris, 9 Oktober 1940 – meninggal di New York City, Amerika Serikat, 8 Desember 1980 pada umur 40 tahun) paling dikenal sebagaipenyanyi, pencipta lagu, instrumentalis, penulis, dan aktivis politik yang terkenal di seluruh dunia sebagai pemimpin dari The Beatles. Lennon dan Paul McCartney membentuk partnership pencipta lagu yang paling sukses dan berhasil hingga saat ini. Lennon dengan sinismenya dan mcCartney dengan optimismenya melengkapi satu sama lain dengan sangat baik. Setelah bubarnya The Beatles pada tahun 1970, ia juga sukses dengan karier solonya. Salah satu hitsnya yang hingga kini masih sangat terkenal adalah Imagine, lagu yang kemudian menjadi salh satu himne perdamaian dunia.

Lennon juga menunjukkan sifatnya yang pemberontak dan selera humornya yang sinis dalam film-film seperti A Hard Day’s Night (1964), dalam buku yang ditulisnya seperti In His Own Write, konferensi pers dan wawancara. Ia menggunakan kepopulerannya untuk kegiatannya sebagai aktivis perdamaian, seniman dan penulis.

Lennon dua kali menikah, yaitu dengan Cynthia Powell di tahun 1962 dan seniman Jepang,Yoko Ono di tahun 1969. Ia memiliki dua orang anak, Julian Lennon (lahir tahun 1963) dan Sean Taro Ono Lennon (lahir tahun 1975). Ia meninggal di New York pada usia 40 tahun, ditembak oleh Mark Chapman, penggemarnya yang gila.

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/John_Lennon

Namun bukan sederetan pertanyaan di atas yang menjadi jantung jawaban untuk catatan kecil ini. Pertanyaan-pertanyaan di atas hanya mau merangsang kita, tidak hanya perihal ‘kedekatan’ relasi imajiner antara Holdem dan Chapman, tetapi juga tentang kemampuan Chapman menghidupkan roh Holdem dalam jiwa dan raganya selanjutnya menarik keluar seluruh kisah The Catcher In The Rye menjadi kisah Chapman sendiri. Inilah yang saya kira membuat siapapun penulis, sastrawan termasuk sang Salinger sendiri tidak habis pikir: Mengapa sebuah karya sastra dapat mengguncang dunia, walau sebelumnya (mungkin) ketika sedang menulis karya tersebut sang penulis tidak tahu hendak menulis tentang apa, bagaimana merangkai kata dan mau dibawa ke mana semua kisah dan tokohnya?

Menutup ringkas catatan ini, saya hanya mau mengatakan bahwa sebuah karya ‘kata’ hanya dapat menjadi bernyawa dalam realitas jika dia dapat menciptakan sebuah peristiwa yang mengubah. Mungkin apa yang dilakukan Chapman atas John Lenon karena The Catcher In The Rye dianggap terlalu berlebihan. Tetapi mau apa dikata, bahwa buku pun bisa membunuh. Buku bisa menjadi bom. Sekarang soalnya adalah tinggal bagaimana kita sebagai pembaca menafsirkan sebuah karya ‘kata’. Apakah harus menjadi seperti Chapman? Saya tidak dapat menjawab ya dan tidak, karena pembaca punya beragam latar belakang penafsiran atas sebuah karya sastra.

Mark David Chapman

Mark David Chapman (lahir di Dallas, Texas, Amerika Serikat, 10 Mei 1955; umur 55 tahun) adalah seorang warganegara Amerika & narapidana yang terkenal karena membunuh musisi John Winston Lennon.

Chapman besar di Georgia, dan merupakan penggemar The Beatles sejak pertama kali terkenal. Ia mulai belajar gitar dan ingin menjadi musikus. Namun kemudian ia menjadi orang Kristen fundamentalis, dan pandangan-pandangannya pun berubah. Ia lalu percaya bahwa The Beatles berpengaruh buruk bagi banyak orang, John Lennon khususnya, karena pandangan Lennon pada agama dan negara. Saat Lennon meluncurkan lagunya Imaginepada tahun 1971, banyak tokoh terkemuka yang tak menyukainya. Chapman memparodikanlagu itu dengan “Imagine John Lennon dead.”

Seiring berlalunya tahun, Chapman kurang berhasil dan banyak bermasalah dalam kehidupan pribadinya. Terinspirasi oleh film Around the World in Eighty Days, ia berkelana ke Tokyo, Seoul, Hong Kong, Singapura, Bangkok, Delhi, Israel, Jenewa, London, Paris, danDublin. Ia kembali ke Amerika Serikat, dan kemudian pindah ke Hawaii. Seperti Lennon, ia menikahi seorang wanita Jepang, namun pernikahannya tak bahagia. Chapman bekerja dengan upah rendah, sebagai seorang petugas keamanan.

Pada tahun 1980, setelah beberapa tahun pensiun, John Lennon meluncurkan album baru,Double Fantasy, dengan isterinya Ono Yoko. Chapman mengetahui dari buku di mana tempat tinggal Lennon di New York City, dan tak sulit baginya menemukannya di seluruh kota. Chapman meluruk ke New York beberapa kali yang gagal, berpikir tentang apa yang ingin dilakukannya. Ia berpikir tentang bunuh diri sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membunuh Lennon. Ia merasa bahwa melakukan hal ini akan agak mengurangi beban masalah kehidupannya sendiri.

Pada tanggal 8 Desember 1980, Chapman mengunjungi New York lagi, bertemu Lennon dan Yōko Ono saat mereka meninggalkan rumah untuk pergi ke sesi rekaman. Lennon menandatangani kopian Double Fantasy untuk Chapman, dan seorang fotografer mengambil foto kedua lelaki itu. Chapman menunggu hingga mereka kembali. Saat Lennon memasuki bangunan apartemennya, Chapman mencabut pistol, memanggil Lennon, lalu menembakinya beberapa kali. Lennon jatuh, dan meninggal dalam perjalanan ke RS akibat kehabisan darah.

Chapman tak mencoba angkat kaki, dan sedang membaca buku The Catcher in the Rye, saat polisi datang ke TKP. Mereka menahan Chapman, yang kemudian menyatakan diri bersalah sebagai pembunuh Lennon, berkata di pengadilan bahwa Tuhan telah menitahkannya berbuat demikian. Ia dijatuhi dakwaan pembunuhan tingkat kedua.

Ia dijatuhi hukuman 25 tahun penjara pada tahun 1981. Ia dipenjarakan di Attica State Prison sejak tahun 1981. Ia dipisahkan dari tahanan lain karena masalah kesehatannya. Lalu ia menulis pada Ono Yōko, mencoba meminta maaf padanya dan menjelaskan tindakannya, namun Yoko Ono tak pernah menjawab.

Pada tahun 1985, seorang aktor bernama Mark Lindsay Chapman kehilangan kesempatan untuk memerankan Lennon di sebuah film TV tentang kehidupannya dengan Yoko Ono, karena namanya mirip dengan pembunuh Lennon.

Saat memenuhi syarat untuk dibebaskan, Chapman menggunakannya namun kemudian ditolak. Yoko Ono memberikan pernyataan pada pengadilan, mengatakan bahwa kematian Lennon masih melukainya dan anaknya Sean Lennon tiap hari, dan mereka masih merasa kehilangan. Ia mengingatkan mereka bagaimana tindakan Chapman menjadi salah satu dari banyak keangkuhan dan pembunuhan terkenal, dan bahwa pembebasan Chapman hanya akan mengilhami orang lain untuk berbuat serupa. Pengadilan mendengar kata-katanya, dan pembebasan Chapman terus ditolak. Pada tanggal 8 Desember 2006, pada peringatan ke-26 dari kematian Lennon, Yoko Ono menerbitkan sebuah iklan 1 halaman di sejumlah surat kabar dengan menuliskan bahwa, meski 8 Desember menjadi “hari pengampunan” sekalipun, ia takkan pernah memaafkan Chapman. Pemeriksaan pembebasan Chapman berikutnya dijadwalkan pada bulan Oktober 2008.

Pembunuhan Lennon terulang kembali secara aneh pada bulan Desember 1999 saat seorang lelaki muda bernama Michael Abram, meruyak masuk ke rumah bekas anggota The Beatles lainnya, George Harrison, sambil membawa pisau. Ia ingin membunuh Harrison dengan alasan yang sama seperti Chapman membunuh John Lennon. Harrison dan istrinya Olivia melawan, namun kemudian Olivia melempari Abram dengan lampu, dan pasangan itu menekannya hingga polisi datang. Harrison ditusuk oleh Abram, namun ia sembuh. Abram dikirim ke RSJ.

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Mark_David_Chapman

About these ads