Menarik untuk disimak apa yang dikatakan para komentator atau yang biasa disebut sebagai pengamat ‘apa entah’ perihal peristiwa ‘teror’ bom buku yang sementara ini menjadi headline berita.

Ada-ada saja komentar mereka. Ada yang mengatakan ‘teror’ bom buku yang mengancam tokoh Jaringan Islam Liberal – Ulil Abshar Abdalla, Kepala Badan Narkotika Nasional-Goris Mere, Ketua Umum Pemuda Pancasila – Yapto Soeryosoemarno dan pentolan grub Band Dewa 19 – Ahmad Dani adalah murni tindakan terorisme. Pengamat yang lain berkomentar, tidakan tersebut bukan dilakukan oleh seorang teroris, tetapi oleh intelijen.

Pengamat yang lain lagi menyebutnya bahwa ini murni tindakan kriminalis dan sama sekali tidak mengarah kepada terorisme. Tidak hanya itu, pengamat yang lain lagi mengatakan ini tindakan orang-orang yang anti demokrasi.

Saya jadi cemas dengan komentar para pengamat yang tampaknya latah menanggapi peristiwa yang sudah sedang menghebohkan.

Maaf saja…bukan bermaksud merendahkan kemampuan dan kapasitas para pengamat, tetapi dari kecenderungan mereka yang selalu mendahului penyelidikan pihak berwajib membuat saya (lantas) berkesimpulan bahwa apakah mereka benar-benar mengamati dengan sungguh setelah melakukan analisis yang mendalam ataukah hanya sekedar menebak, mereka-reka dan atau menerka-nerka? Mereka: Pengamat atau penebak?

Di bawah ini saya mengambil beberapa contoh yang disarikan dari berbagai sumber:

Bom Buku: ‘Pelakunya’ adalah Teroris

Teror bom diduga terus berkelanjutan. Selain aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Absar Abdalla, Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (Kalakhar BNN) Gories Mere, dan Ketua Ormas Pemuda Pancasila, Yapto Soerjosoemarno, kelompok peneror ”bom buku” ternyata mengincar 70 tokoh nasional. ”Sejak tahun 2002, kelompok Jamaah Islamiah telah mengeluarkan black list kepada 107 tokoh nasional. Namun, hingga saat ini, jumlah mereka yang diincar tinggal 70 tokoh,” ujar pengamat terorisme, Al Chaidar ketika dihubungi, Rabu (16/3).
Al Chaidar menyebutkan, beberapa tokoh yang diincar diantaranya, almarhum Nurcholis Madjid, mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra, Yorris Raweyai, peneliti Freedom Institute, Luthfi Assaukanie, dan beberapa aktivis JIL. Menurutnya, tokoh-tokoh tersebut diincar karena dianggap sebagai kufur (aimmatul khufur) yaitu orang yang dinilai hendak menghancurkan Islam. ”Kelompok tersebut masuk daftar orang yang menghalangi tegaknya syariat Islam,” ujarnya.
Tiga tokoh, Ulil Absar Abdalla, Gories Mere, dan  Yapto Soerjosoemarno mendapat kiriman ”bom buku”, Selasa (15/3). Al Chaidar mengatakan, penebar teror bom buku tersebut berasal dari kelompok eks Palu dan Banten. Ditambahkannya, teror bom tersebut akan terus dilakukan selama mereka belum mencabut amar putusan mereka.

Secara terpisah, pengamat intelijen, Mardigu Wowiek Prasantyo menyebutkan, paket bom yang disimpan dalam buku yang dikirim ke sejumlah tokoh diduga akan kembali berulang. Bom itu hanyalah kode bagi kelompok lain agar melakukan hal yang sama. Selain menjadi kode, ancaman teror itu untuk menegaskan ke masyarakat bahwa gerakan mereka masih ada.
“Akan ada lagi bom yang sama tapi bukan berbentuk buku, casingnya mungkin berubah,” kata Mardigu Wowiek Prasantyo usai Dialog Kenegaraan bertajuk ‘Informasi Negara vs Informasi Publik dalam Penyelenggaraan Pemerintahan di Pusat dan Negara’ di gedung DPD RI, Senayan, Jakarta. Mardigu yakin perakit bom merupakan orang lama yang hanya menggunakan modus yang berbeda. Sehingga mereka benar-benar terlatih dan profesional.

Sumber:

Bom Buku: ‘Pelakunya’ adalah Intelijen

Pengamat intelijen Soeripto menduga bom buku yang ditujukan kepada mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla yang berkantor di Utan Kayu, Jakarta Timur, merupakan pekerjaan intelijen. Katanya, seperti dilansir Metrotvnews. Com Rabu (Rab, 16/3/ 2011) dalam situasi Indonesia saat ini, yang paling mungkin melakukan kekerasan dengan menggunakan bom adalah intelijen rofessional “Yang bisa melakukan itu adalah orang yang profesinya sebagai intelijen. Bisa saja agen intel yang melakukan pekerjaan itu. Orang biasa sulit”

Namun, yang perlu diperhatikan, kata Soeripto lebih lanjut, intelijen tersebut bekerja untuk siapa atau siapa yang mengkoordinasi kegiatan mereka. Ia belum bisa menyebutkan siapa di balik pengeboman tersebut namun dia menilai tindakan tersebut merupakan perbuatan liar yang sulit terkontrol. “Intel kita saat ini sangat liar. Mereka tidak terkontrol, bekerja sesukanya,”ujarnya.

Sumber:

Bom Buku: ‘Pelakunya’ adalah Kriminalis

“Masih terlalu premature untuk menduga siapa yang mengirim bom itu. Tentu ada masalah di antara mereka (Ulil dan pengirimnya). Ini upaya penyampaian pesan” Kata pengamat Intelijen, Wawan Purwanto, dalam perbindangan dengan detikcom, Selasa (15/3/2011).

Apa pesan si pengirim, tentu hal itu masih perlu penyelidikan. Namun judul buku yang dikirim ke Ulil bisa jadi terkait dengan pesan yang disampaikan pelaku. Mengapa harus menggunakan bom? Wawan menduga pelaku tidak hanya sekedar mengirim pesan tapi juga ingin melukai. Sekecil apa pun bom, tentu memiliki efek ledak.

“Bisa menimbulkan trauma, bisa jadi sasaran antara. Kalaua da riwayat jantung, bahkan si penerima bisa meninggal” Imbuh dia. Menurutnya, sangat premature jika menduga peristiwa itu terkait dengan jaringan teroris yang sebelumnya biasa beroperasi di tanah air. Sebab ledakannya sangat kecil.

“Saya kira ini kriminalitas, tidak ke terorisme arahnya” sambung Wawan. Hal yang sama disampaikan kriminolog UI Erlangga Masdiana. Jika menuduhkan pada kelompok teroris terlalu dibuat-buat. “Teroris sebenarnya ada di mana-mana. Bahkan dalam setiap individu ada kecenderungan jahat. Dalam teori kriminologi, begitu. Cuma masalahnya apalah dia terkontrol” tutur Erlangga. Nilai atau norma yang menekan kecenderungan jahat di diri individu adalah superego. Superego itu mengeliminasi kecenderungan menyimpang atau jahat. “Dalam kasus ini, polisi jadi korban. Pihak kepolisian juga harus dibela. Jangan sampai pihak kepolitisan jadi korban juga” tambah Erlangga.

Sumber:

Bom Buku: ‘Pelakunya’ adalah Anti Demokrasi

Bom buku yang dikirimkan kepada Ulil Abshar Abdala, Komjen Pol Gories Mere, dan Japto Surjosoemarno dinilai adalah sebagai pernyataan kelompok anti demokrasi.  Paket bom tersebut juga tidak ada hubungannya dengan pengalihan isu WikiLeaks yang menerpa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Tak ada hubungan antara teror bom dengan WikiLeaks, tak ada kepentingan dari istana untuk menenggelamkan isu tersebut. SBY punya integritas,” ujar Wakil Sekjen Partai Demokrat Ramadhan.

Ramadhan mengungkapkan, teror bom tersebut adalah statment kelompok radikalisme politik yang ditujukan tidak hanya kepada Ulil tetapi juga kepada mereka yang pro demokrasi. “Mereka ingin merusak pilar bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945,” katanya.
Oleh sebab itu, Ramadhan mendesak agar polisi cepat untuk menangkap dan mengungkap motif pengiriman bom buku tersebut.

Sumber:

Akhirulkallam, Dari contoh-contoh komentar di atas yang menurut hemat saya masih ‘prematur’, sebagai warga bangsa yang awam dalam hal yang begini adalah penting untuk sesekali menasehati para pengamat dan juga media.

Kepada para pengamat, kami segenap warga bangsa dan saya secara khusus yang mengangkat topik ini meminta supaya jangan mendahului pihak yang berwajib. Komentar hasil ‘amatan’ anda bukan memberikan jalan keluar dan membuat kami ingin tahu, justru sebaliknya adalah bentuk ‘bom’ lain yang tidak hanya membingungkan, tetapi juga menimbul-lahirkan ketakutan.

Selanjutnya kepada media, kami segenap warga bangsa juga meminta untuk tidak turut latah mencekamkan situasi yang sudah mencekam. Melelahkan bagi kami untuk mendengarkan dan apalagi menonton kekerasan demi kekerasan. Di tambah lagi dengan berbagai komentar yang tampaknya lebih banyak ‘menebak’ ketimbang merupakan buah dari analisis yang mendalam dan tajam. Media diminta untuk jangan terlalu banyak meminta pendapat pengamat, masih ada berita lain yang lebih penting sambil menunggu pihak berwajib dalam hal ini polisi mengusut tuntas kasuh yang sudah sedang terjadi.

About these ads