Hari ini adalah hari Musik Nasional. Pegiat dan atau pelaku, pencinta dan atau penikmat musik tanah air pantas berterimakasih kepada Megawati Soekarno Putri, karena walaupun suaranya falls dan tidak tahu main gitar seperti Susilo Bambang Yudoyono, tetapi atas prakarsanya, tanggal 9 Maret 2003 bertempat di Istana Negara, Jakarta, dengan ditandai pemencetan tombol situs resmi Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) Hari Musik Nasional dicanangkan.
Namun, bukan rivalitas bermain gitar atau lomba tarik suara antara Megawati Soekarno Putri dan Susilo Bambang Yudoyono yang akan direfleksikan dalam catatan ini. Pun pula bukan perihal seremoni atau perayaan serupa apa yang tepat untuk mengenang Hari Musik Nasional. Lebih menarik dan bahkan penting untuk direfleksikan dalam catatan kecil ini, pada kesempatan ini adalah memaknai music dan bermusik sebagai satu corong demokrasi.
Musik dalam hal ini syair dan lagu tidak sekedar merupakan suara jiwa yang melukiskan kerinduan dan harapan tentang cinta dan kenangan. Pun pula tidak sekedar sebagai doa dan harapan, madah dan syukur kepada Allah. Tetapi juga sebagai ledakan amarah, ungkapan murka, penyesalan dan umpatan yang dikemas secara kreatif sebagai jawaban atas situasi konkret social untuk melawan-berontak terhadap situasi social dan politik yang tidak menentu. Singkatnya music dan bermusik sebagai medium paling menarik dan elok untuk menyuarakan aspirasi dalam ruang demokrasi, manakala semua corong disumbat-kalahkan oleh ketulian kekuasaan.
Orde Baru: Suara Fals dan Musik Roesly
Paa era Orde Baru, era Soeharto, Iwan Fals dan Harry Roesly adalah ‘musisi pembenrontak kelas berat’. Pada jalur musik pemberontak, masyarakat Indonesia tentu tidak asing dengan nama Iwan Fals. Konsistensinya terhadap lagu-lagu dengan lirik perlawanan terhadap ketidakadilan membuatnya dikenal sebagai pahlawan kaum pinggiran. Dia mengungkapkan realitas sosial dalam untaian lirik lagu berirama balada.
Setiap kali mendengar lagu-lagu Iwan Fals, banyak orang yang sejenak tersadarakan kondisi sosial tanah air. Orang menyukainya karena lagu-lagunya mudah dicerna dan mengandung pesan-pesan humanis yang mendalam. Kelebihan lirik lagu-lagu iwan yang paling mencolok adalah kenyataan bahwa dia tidak lahir dari ruang hampa, lirik-liriknya lahir dari hasil jepretan atas kondisi sosial politik Indonesia sendiri dengan penggunaan kata-kata sederhana, telanjang, dan kadang-kadang jenaka.
Nama lain yang tak kalah kondang adalah almarhum Harry Roesli, musisi kelahiran Bandung yang kerap melahirkan karya-karya yang sarat kritik sosial dan bahkan bernuansa pemberontakan terhadap kekuasaan diktator yang korup. Kegiatannya di mana saja tak pernah lepas dari pengawasan aparat. Dia juga sering terlibat dalam berbagai aksi dan advokasi ketidakadilan. Pada masa Orde Baru, pementasan musik dan teater yang dibuatnya sering dicekal aparat keamanan.
Saat bergulirnya reformasi Mei 1998 untuk menggulingkan rezim Soeharto, Harry berada di barisan depan para demonstran. Rumahnya pada waktu itu menjadi pusat aktivitas relawan Suara Ibu Peduli di Bandung. Sejak dulu rumahnya ramai dengan kegiatan para seniman jalanan dan tempat berdiskusi para aktivis mahasiswa.
Sikap kritis Harry tidak hanya berhenti setelah lengsernya Soeharto. Pada masa pemerintahan BJ Habibie, salah satu karyanya yang dikemas 24 jam nonstop juga nyaris tak bisa dipentaskan. Juga pada awal pemerintahan Megawati, dia sempat diperiksa Polda Metro Jaya gara-gara mempelesetkan lagu wajib Garuda Pancasila.
Era Reformasi: Gitar Bona dan Ekspresi Stefany
Selanjutnya, seperti sekarang ini, di era reformasi, persis ketika semakin terbukanya media komunikasi dan informasi, tidak luput, pelaku-pelaku kreatif menelurkan karya-karya, walau tidak dikemas secara baik dan terkesan spontan tetapi tetap menggigit dan kritis. Sebut saja misalnya, lagu “Koruptor Anak Nakal” karya Ansis Uba Ama, lagu “Nurdin Turun Donwk” cip. JJ Nahan dan voc. Stefany, lagu “Andai aku Gayus Tambunan” cip. & voc. Bona Paputungan dan atau Lagu “Nurdin Ali” karya Sayiidin Band, serta saya kira masih banyak yang lain yang entah dipublikasikan atau tidak, yang entah populer atau tidak.
Beberapa karya kreatif di atas merupakan beberapa contoh dari sekian banyak bentuk pengungkapan dan ekspresi anak bangsa atas situasi hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak menentu. Bagi mereka yang kreatif dalam dunia music dan bermusik, pilihan untuk menyuarakan hati nurani dalam dan melalui syair dan lagu merupakan pilihan paling elok. Mengapa tidak? Selain sebagai ungkapan dan ekspresi diri, juga pada saat yang sama member warna pada ruang demokrasi. Bahwa apa pun bentuk penyampaian dan semakin banyak-beragamnya bentuk ekspresi hati nurani sesungguhnya menunjukkan bahwa di satu sisi demokrasi itu bertumbuh dengan baik, namun pada saat yang sama ada media-media penyampaian yang ‘mampet’ atau sengaja ‘dimampetkan’.
Lantaran itu, di Hari Musik Nasional ini, himbauan agar dilarang melarang adalah kata-kalimat yang tepat untuk berbagai karya kreatif tersebut, sebab dalam era demokrasi ketidakbenaran dan ketidakjujuran harus disingkap-angkat. Hal ini dimaksudkan bukan pertama-tama untuk merendahkan atau menghina pelaku atau oknum tertentu, para pejabat Negara atau elite politik, tetapi lebih sebagai seruan moral, lebih tepat disebut sebagai teguran agar bukan hanya elite politik tetapi juga warga bangsa sadar bahwa tujuan hidup berbangsa dan bernegara adalah bonum commune, kesejahteraan bersama, yang dalam bahasa undang-undang disebut sebagai ‘kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indoensia” bukan sebaliknya kesejahteraan pribadi, sekelompok atau segolongan orang.
Di bawah ini adalah contoh beberapa lirik lagu-lagu kritis dan link videonya :
Surat Buat Wakil Rakyat
(Cip & Voc. Iwan Fals )
Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana, di gedung DPR
Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman teman dekat
Apalagi sanak famili
Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Di kantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Merauke
Saudara dipilih bukan dilotre
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam, juara he’eh, juara ha ha ha……
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu ’setuju’
“Andai aku Gayus Tambunan”
(Cip & Vokal: Bona Paputungan)
11 Maret
Diriku masuk penjara
Awal ku menjalani
Proses masa tahanan
Hidup di penjara
Sangat berat kurasakan
Badanku kurus
Karena beban pikiran
Kita orang yang lemah
Tak punya daya apa-apa
Tak bisa berbuat banyak
Seperti para koruptor
Andai Ku Gayus Tambunan
Yang bisa bisa pergi ke Bali
Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi
Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan
7 Oktober
kubebas dari penjara
Menghirup udara segar
Lepaskan penderitaan
Wahai saudara
Dan para sahabatku
Lakukan yang terbaik
Jangan engkau salah arah
Andai Ku Gayus Tambunan
Yang bisa bisa pergi ke Bali
Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi
Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan
Biarlah semua menjadi kenangan
Kenangan yang pahit
dalam hidup ini
Andai Ku Gayus Tambunan
Yang bisa bisa pergi ke Bali
Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi
Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan
Nurdin Turun Downk
(cipt & voc. JJ Nahan dan Stefany)
Ada temanku bernama si nurdin
Sepak bola kelurahaan yang diurusin
Menjabat selamanya kalo bisa katanya
Walau kosong prestasi bikin frustasi
Tapi haram hukumnya kalu turun kursi
menjujunjung demokrasi alasan si nurdin basi
Pelecehan demokrasi negri
Korupsi sejak dari dalam hati
Nurdin turun donk
Nurdin turun donk
Sudah saatnya kamu turun donk
Nurdin turun donk
Nurdin turun donk
Sudah saatnya kamu turun donk
Suka ngatur angka kalau tidak salah
Demi uang pasangan biar tidak kalah
Menghubungi wasitnya dari balik jeruji
Korup sana sini
Atur sana sini
Bak seorang raja mengatur para mentri
Tak masalah orang bilang yang penting kantong terisi
Pelecehan demokrasi negri
Korupsi sejak dari dalam hati
Nurdin turun donk
Nurdin turun donk
Sudah saatnya kamu turun donk
Nurdin turun donk
Nurdin turun donk
Sudah saatnya kamu turun donk
“Koruptor Anak Nakal”
cipt & voc. Ansis Uba Ama
Terinspirasi dr si kancil anak nakal:
(Koruptor anak nakal,
suka mencuri uang,
ayo lekas dikurung,
jangan diberi ampun )
Wajah ceria muka sumringah
Mata ijo menatap uang
Dana Rakyat dicukur mulus
Dengan aneka akal bulus
Korupsi meraja membara
Suap kian tiada tara
Hukum diobral sesuka hati
Bak negeri ini milik sendiri
Hei kau yang alim rupanya maling
Mulutmu manis hatimu najis
Gemar janji suka ingkari
Rakyat terpaksa gigit jari
Tebar pesona jelang pemilu
Tak pedulikan rakyat yang pilu
Sana sini bohong melulu
Dasar kau tak punya malu
Ingat kah kau sumpah jabatanmu
Diatas kitab suci agamamu
Tega kah kau dengan ibumu
Melahirkanmu sbagai koruptor
(Koruptor anak nakal,
suka mencuri uang,
ayo lekas dikurung,
jangan diberi ampun )
Videonya bisa dilihat di link di bawah ini:
Koruptor Anak Nakal http://www.youtube.com/watch?v=kB0wi4Ihj6M
Lagu “Nurdin Turun Donwk” JJ Nahan dan Stefany http://www.youtube.com/watch?v=uCoqYN3Nrek
Lagu “Andai aku Gayus Tambunan” Bona Paputungan http://www.youtube.com/watch?v=53e6xdwHeFQ&NR=1
Lagu “Nurdin Ali” – Sayiidin Band http://www.youtube.com/watch?v=c0_VW6O-b3A&feature=related










































