Pernahkah anda tidur sejenak di atas kubur sambil mengkhayal tentang masa depan? Atau menjadikan kubur sebagai meja saji minuman dan makanan? Atau untuk meletakkan speaker berkuatan sekian watt untuk berkaroke dan memperdengarkan lagu? Atau untuk membanting kartu jika bersama sahabat bermain poker? Ringkasnya menjadikan kubur bukan sebagai sesuatu yang menakut-seramkan, tetapi sebagai tempat bermain dan bercerita tentang peristiwa-peristiwa, tempat menyimpul segala kisah tentang hidup dan kehidupan. Apakah anda pernah mengalami dan melakukan itu?
Gila. Aneh. Pun juga unik. Di Manila Utara, pernah dikisahkan (ini fakta) bahwa lebih dari 10.000 orang tinggal di pekuburan. Tidur, makan, bermain, berkaroke, pesta dan apa pun jenis tindakan dan kegiatan manusia di lakukan di atas, di samping kiri dan kanan bahkan di dalam kubur. Kemiskinan dan ketiadaan tempat tinggal memaksakan mereka untuk menetap dan hidup di pekuburan. Bergenerasi mereka abaikan ketakutan, keseraman, kecekaman hanya untuk dan demi ‘perut’ .
Berbeda dengan di Manila Utara, di Kerawang Jawa Barat, di atas lahan seluas 500 Ha, PT Lippo Karawaci Tbk membangun San Diego Hills, Memorial Park and Funeral Homes, sebuah tempat pemakaman/peristirahatan terakhir yang mewah. Kemewahannya tidak hanya diukur dari mahalnya biaya penguburan, lengkapnya fasilitas ibadah dan juga rekreasi, tetapi juga pada rancang-bangun arstitekturnya. Seperti diketahui San Diego Hills dibangun dalam tiga kategori areal yaitu Earth (wilayah kuburan yang dirancang dengan posisi kiblat yang sempurna ke Mekkah), Physical Homes (area kuburan yang memperbolehkan struktur yang dirancang dengan perhitungan yang sesuai dengan keharmonisan lingkungan), dan Universal (area kuburan modern yang banyak dilakukan di negara-negara maju dengan sistem rapi, efisien dan mementingkan kualitas lingkungan yang tinggi).
Memasuki San Diego Hills kita serupa diajak masuk untuk turut menafsirkan tentang sesuatu yang disebut sebagai surga. Sebuah situasi yang tenteram dan damai, aman dan nyaman, penuh senyum dan bahagia, sekalipun ada air mata yang tertinggal. Fakta kebanyakan orang memang serupa itu, bahwa San Diego Hills adalah mimpi manusia tentang surga. Namun jauh dari mimpi itu, saya menyebutnya sebagai ‘Taman Nisan’. Sebuah taman dimana objek wisatanya adalah jasad dan nisan yang didesign sedemikian rupa sehingga menjadi elok untuk dipandang, nyaman untuk dialami, dan membuat berdecak kagum jika dikenang. Tiada surga di San Diego Hills, pun tiada neraka.
Lain di Manila Utara, Lain di Kerawang, lain pula di Flores Nusa Tenggara Timur. Di Flores Nusa Tenggara Timur, kendatipun tidak se-dasyat kisah di Manila Utara, pun tidak se-elok di Kerawang, tetapi ada sebagian masyarakat-komunitas, lebih-lebih komunitas pedesaan yang menjadikan kubur keluarga atau keluarga tetangga mereka sebagai ruang publik. Jika di Manila Utara semua berkumpul di pekuburan untuk mendapatkan 50 pesso perhari, di Kerawang untuk melihat dan mengalami ‘surga’ sekaligus berekreasi, sementara di Flores kubur adalah medan jumpa manusia bebas, tanpa kepentingan apa pun yang secara bebas pula membangun integrasi.
Mungkin saya terlalu berlebihan untuk hal ini. Tetapi ada dua fakta yang membuat saya yakin untuk mengatakan ini sebagai yang benar. Fakta pertama adalah pengalaman perjumpaan saya dengan komunitas pedesaan yang terentang dari Mbay sampai memasuki perbatasan Sikka-Maumere. Dalam sebuah perjalanan darat saya menjumpai sepanjang jalan pantai utara itu ada kebiasaan yang menjadikan kubur (yang kebetulan selalu ada di depan rumah dan pinggir jalan) sebagai medan sosialisasi. Anak-anak, orang dewasa, orang tua, laki-laki dan perempuan, keluarga, tetangga dan bahkan orang asing melakukan berbagai aktivitas seperti diskusi, belajar, tidur, bermain, makan, bahkan sampai menunggu mobil/bus di kubur.
Di sana segala kisah rupa-rupanya dibentangkan, di kubur yang sama mungkin mereka memperbincangkan tentang musim tanam, harga sembako yang melonjak, listrik yang belum masuk, jalan yang rusak, biaya sekolah/pendidikan, anak yang baru lahir, orang mati, bola yang pecah, sandal yang dicuri, celana yang sobek dan apa pun peristiwa. Kubur, ya kubu…tampaknya telah menjadi ruang public yang paling tepat untuk mengakomodir segala cerita tentang manusia yang hidup, yang semuanya ditutur-bentangkan dalam situasi tanpa tekanan dan desakan apa pun selain hanya kerena desakan kemanusiaan manusia yang bernama sosialisasi.
Fakta kedua adalah yang terjadi di kampung saya, di Romba Maunori Keotengah Flores NTT, persisnya di rumah saya sendiri. Di samping rumah terdapat empat kubur yang sengaja dibangun berapatan agar dapat dijadikan sebagai tempat duduk. Di kubur kakek dan nenek saya itu aorang dari manapun dan agama manapun duduk. Saya kadang heran, mengapa ayah saya tidak mengajak tamu-tamunya untuk duduk di ruang tamu dan atau mencoba untuk menegur siapa pun yang mencoba duduk di sana. Jawabannya cuma satu ‘kita semua adalah saudara’.
Jawaban yang bagi saya kadang merasa terlalu tidak terlalu masuk akal, tapi pada saat-saat tertentu membuat saya kagum. Inilah fakta yang disebut ruang publik. Di mana semua orang dan peristiwa diperjumpakan tanpa ada kepentingan apa-apa selain karena desakan kemanusiaan manusia yang bernama sosialisasi. Saya lantas berpikir ‘Kita semua adalah saudara’ merupakan hakikat dari ruang public itu sendiri. Dan dalam peristiwa inilah, menurut hemat saya, tentang sesuatu yang disebut surga lebih terang tergambar.
Jika saya kembali ke sederetan pertanyaan di awal catatan ini: Pernahkah anda tidur sejenak di atas kubur sambil mengkhayal tentang masa depan? Atau menjadikan kubur sebagai meja saji minuman dan makanan? Atau untuk meletakkan speaker berkuatan sekian watt untuk berkaroke dan memperdengarkan lagu? Atau untuk membanting kartu jika bersama sahabat bermain poker? Ringkasnya menjadikan kubur bukan sebagai sesuatu yang menakut-seramkan, tetapi sebagai tempat bermain dan bercerita tentang peristiwa-peristiwa, tempat menyimpul segala kisah tentang hidup dan kehidupan. Apakah anda pernah mengalami dan melakukan itu? Orang di kampungku pasti akan menjawab ya.












































1 Trackbacks / Pingbacks
Flores Unik: Kubur dan Ruang Publik « FLORES UNIK Februari 26th, 2011 pada 15:20
[...] Oleh: Kris Bheda Somerpes [...]