Sebilah belati menikam berulang ke perut gadis kecil itu. Seorang lelaki paruh baya yang mengenakan seragam serba hitam yang duduk di sampingnya menghujamnya. Seperti tidak berdaya gadis itu berpasrah, walau dari bola matanya terpancar keyakinan bahwa kulitnya tidak akan terluka.  Di bagian sisi yang lain, seorang bocah laki-laki memperagakan hal serupa. Lengan baju kirinya ditarik hingga ketiak, dengan sedikit melompat  sebilah bisau di tangan kananya dihujam berulang ke pergelangan. Seperti mata gadis yang tidur telentang, dari bola mata si bocah terpancar keyakinan yang sama, bahwa nadinya tidak akan muncratkan darah.

Penonton terperanjat. Tiba-tiba mereka meninggalkan kursi dan beranjak mendekati pentas. Dalam jarak yang tidak seberapa meter mereka menyaksikan peristiwa luar biasa. Sebagian dari penonton memotret, sebagian yang lain merekam, sebagian  lagi hanya tidak melakukan apa-apa hanya berdiri mematung sesekali secara spontan menampakan ekspresi terkejut.

Dua puluh menit sudah. Tabuh rapai berhenti, iringan seurune kale senyap. Penonton melepas napas panjang. Lega. Sang bocah si gadis kecil itu melepas senyum malu-malu di hadapan penonton. Lelaki paruh baya yang adalah ayah mereka mengucapkan terima kasih dengan menunduk lalu pergi keluar pentas.  Syech Astaga, satu dari penabuh rapai bangun berdiri “Terima kasih sudah menonton tarian Dabus yang dibawakan Syech Hasan dan kedua anaknya, semoga budaya Aceh ini tidak mati, tetapi selalu tumbuh dan hidup”. Penonton bersorak.

Di belakang pentas, saya menjumpai Syech Hasan sedang menyeka keringat. Dia tersenyum. “Sebenarnya tadi saya mau panggil ke atas pentas, tapi setelah saya lihat sudah banyak penonton akhirnya tidak jadi” kata Syech Hasan. “Saya tahu syech Hasan, makanya saya menjauh” saya menimpalinya sambil tertawa. Sebenarnya tidak akan terjadi apa-apa jika saya naik pentas lantas membiarkan diri dihujam berulang oleh belati Syech Hasan. Tetapi rasanya ngeri, jika melihat dan mendengarkan kisah-kisah Syech Hasan tentang Dabus.

“Tidak apa-apa, manusia itu sama. Apa pun warna kulit, apa pun agama, apa pun golongan darah dan suku bangsa, manusia adalah makhluk ciptaan Allah” kisah Syech Hasan. “Jadi kalau saya panggil sesorang ke pentas untuk membawa atraksi Dabus, itu berarti saya sudah yakin tidak terjadi apa-apa, dia juga manusia” lanjut Syech Hasan sambil melepas tawa.

Syech Hasan, pria kelahiran Meulaboh Aceh Barat ini merupakan salah satu pemain Dabus terbaik di Aceh. Tidak hanya di Aceh Barat, Syech Hasan mementaskan tarian Dabus. Kepiawainnya sudah membawanya ke Amerika, Spanyol, Singapura, India dan Malaysia. Ketekunan, komitmen dan juga garis sejarah menempanya menjadi pewaris Dabus yang pantas untuk dikagumi. “Saya tahu debus sejak kecil, dan sekarang saya harus memberikan itu kepada generasi penerus, agar Dabus Aceh tidak hilang dari peredaran sejarah’ Katanya.

Lantaran itu, ke mana pun dan di mana pun Syech Hasan diundang untuk membawakan Debus, ia selalu mengajak kedua anaknya untuk turut serta. Maksudnya adalah selain sebagai media belajar untuk anak-anaknya dan generasi muda yang lain mencintai budaya sendiri, juga membekali anak-anaknya dengan kamampuan dan keahlian bermain Dabus. “Yang laki masih duduk di Sekolah Dasar, dan yang perempuan duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama” jelas Syech Hasan sambil memperkenalkan kedua anaknya.

Karena hari sudah larut malam, saya tidak sudi untuk menanyakan banyak hal tentang Dabus dan tradisinya secara detail. Tapi suatu saat semua akan terjawab dalam perjumpaan di lain kesempatan.