Aku tidak tahu aku harus menulis tentang apa. Semua bayang bagai melayang, segala kenang bagai lenyap. Kisah-kisah sepanjang hari bagai senyap. Persisnya, tiada kisah, tiada cerita. Semua bangunan perjumpaan bagai tidak bermakna. Tidak secuilpun pengalaman setengah hari Sabtu ini pendarkan kesan yang memungkinkan jari-jariku menari mencari kata, sehingga mungkin dapat lahirkan kalimat sebagai cerita, entah serupa apa maknanya.
Di hadapanku, lembaran maya Microsoft office word 2007 di monitor Accer masih putih. Menatapnya lekat, aku lantas teringat pada sejarah dan fungsinya. Microsoft Word atau Microsoft Office Word adalah perangkat lunak pengelolah kata (word processor) andalan microsoft. Pertama diterbitkan pada 1983 dengan nama Multi-Tool Word untuk Xenix, versi-versi lain kemudian dikembangkan untuk berbagai sistem operasi, misalnya DOS (1983), Apple Mancintosh (1984), SCO UNIX, OS/2, dan Microsoft Windows (1989). Setelah menjadi bagian dari Microsoft Office System 2003dan 2007 diberi nama Microsoft Office Word.
Mataku belum beranjak. Sederetan toolbar penuh sesak dengan perintah serupa menagih apa yang mesti kubuat jika sudah menatap-gunanya. Namun aku tidak melakukan apa-apa, aku tidak menuliskan apa-apa. Mengusir sederetan perintah itu, sesekali aku menggoyangkan mouse, panah di layar itu bergeser mematuk satu-satu: Home, insert, page layout, references, mailings, review, view dan acrobat, kemudian kembali ke home. Pun belum kutemukan apa kata yang mesti kutuang.
Kuperpendek jarak tatap, hingga mataku lepas membentur huruf-huruf, angka-angka dan sederetan tanda baca yang tertulis pada sebilah papan keyboard Logitech. Huruf-huruf itu, angka-angka itu dan tanda baca-tanda baca itu seperti memanggilku. M seperti memintaku untuk ‘Memulai’, H serupa berteriak ‘Hayoo’, T serupa memerintahkanku untuk segera ‘Tulis’. Tapi dari papan yang sama terbaca tanda tanya, yang membuatku kembali bertanya apa yang mesti kukisahkan. Aku tidak menuliskan apa-apa, justru membuat bayangku berkebat bertemu Christopher Latham sang penemu keyboard.
Aku membayangkan bagaimana mula-mula ia merancang semuanya. Bagaimana Keyboard komputer pertama disesuaikan dari kartu pelubang (punch card) dan teknologi pengiriman tulisan jarak jauh (teletype). Tahun 1946 komputer ENIAC menggunakan pembaca kartu pembuat lubang (punched card reader) sebagai alat input dan output. Keyboard dihubungkan ke komputer dengan sebuah kabel yang terdapat pada keyboard. Ujung kabel tersebut dimasukkan ke dalam port yang terdapat pada CPU komputer. Luar biasa jeniusnya Latham. Aku mengaguminya sungguh.
Terbaca jelas ada huruf-huruf tetapi menjadikannya kata aku tidak kuasa. Kata apa? Terbaca jelas angka-angka, tetapi bagiama dan untuk apa aku menuliskan angka-angka. Menghitung apa, menjumlahkan apa. Aku lupa berapa jumlah perjumpaanku sepanjang hari tadi. Bagaimana menimbang dan apalagi memaknainya. Pun tanda baca-tanda baca jelas terbaca pada papan yang sama. Lalu bagaimana semua tanda banca itu diletakkan jika huruf belum menjadi kata dan kata belum menjadi kalimat dan seterusnya. Titik, koma, kali, bagi, tambah , A, H, B, C, D, 2, 5,4,7 masih menjadi tanda yang tidak bermakna apa-apa, walau kadang bermakna dalam banyak hal.
Di kiri dan kananku tergeletak dua buku yang tidak tuntas kubaca, sekalipun sudah sering kulumat. Stanza dan Blues-nya Rendra di sisi sebelah kiri dan To See The Unseen-nya Farid Husain di sebelah kanan.
Rendra serupa memanggilku untuk berimajinasi lebih dalam tentang huruf, kata dan kalimat. Selalu serupa itu, aku diajak untuk suluk dalam kuplet-kuplet sajak penuh metaforis dan yang tidak lekas dimaknai, sebaliknya butuh intepretasi di relung sunyi. “Berkali sudah aku terkesima baris-baris puisimu ini..” kagum Binhad Nurrohmat dalam Ciuman Abadi Puisi yang ditulisanya sebagai kata pengantar untuk kumpulan sajak Rendra itu.
Sementara dari sisi sebelah kanan, Farid Husain serupa memintaku untuk melupakan imajinasi sebaliknya mencermati dan menyelami fakta demi fakta. “…Farid Husain lobinya kuat. Saya minta ke mana pun, dia mau, Dia mau kerja apa saja, kapan saja. Itu hebatnya dia…Dia gampang bergaul. Apa saja. Misalnya, saya katakan hubungi ini. Dia langsung bergerak…” Kata Yusuf Kalla, seperti yang terbaca di sampul belakang buku Husain. Selalu serupa itu, aku diajak untuk mengabaikan metafora. Simbol dan makna serupa tidak terekam dalam huruf dan kata serupa apa yang disampaikan Rendra, tetapi dalam realitas yang bernama bergaul dan berelasi.
Toh…sampai detik itu pun aku belum dapat menuliskan sapatah kata pun. lembaran maya Microsoft office word 2007 masih putih. Kata-kata, kalimat masih tampak berantakan pada sebilah papan hitam Latham yang berjarak tidak beberapa senti meter dari jari-jariku. Masih dalam huruf-huruf, angka-angka dan tanda baca-tanda baca. Rendra di kiriku benar-benar tidak menyengatku. Rasaku mentah. Imajinasiku senyap. Farid Husain di kananku pun tidak memendarkan secercah semangat. Tidak secuil fakta pun sepanjang hari tadi yang mampu kutuangkan sebagai terkesan dan berkesan. Hampa kata.
Sampai-sampai aku membayang-tanya tentang ini: Sebenarnya apa yang harus aku tulis, bagaimana aku harus memulai menulis. Atau apakah aku sudah sedang menulis tentang sesuatu walau sebenarnya tidak sedang menulis apa-apa. Atau aku sudah sedang menulis tentang sesuatu yang tidak tertulis dan terbaca, yakni tentang sesuatu yang tidak terlihat. Jika benar tentang itu, maka aku sudah sedang memperlihatkan apa yang selama ini tidak terlihat, karena aku tidak melihatnya sebagai yang penting dan berguna. Namun hanya dalam dan melalui tulisan yang terbaca kita dapat memperlihatkan apa yang tidak terlihat.












































1 tanggapan kepada “To See The Unseen”
Rosa
Februari 19th, 2011 pada 18:26
wah,ini tulisannya udah bnyak ka,,so bisa di post di sini..
yay, pengetahuan baru soal sejarang Msw..hehe