Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur tidak hanya elok karena namanya ‘Flores’ (dari bahasa Portugis yang berarti bunga), tetapi juga karena keanekaragaman produk budayanya. Bahasanya beragam berdasarkan suku-suku yang tersebar dari barat hingga timur: Manggarai, Bajawa, Riung, Nagekeo, Lio, Ende, Sikka, dan Lamaholot-Larantuka. Tradisi dan kisah-kebiasaannya pun unik dan beragam.
Lantaran itu tidak ada suku Flores, pun tidak ada bahasa Flores. Flores, pulau scorpio yang luasnya tidak lebih dari 14.300 km² itu merupakan bunda dari keberagaman, kemajemukan produk budaya yang unik dan khas.
Namun ada satu yang membuat Flores tampak begitu dekat antara suku yang satu dengan suku yang lainnya, yakni dalam tarian rakyat yang bernama Ndera Medo di Nagekeo (videonya bisa dilihat di sini), Gawi/Naro di Ende (videonya bisa dilihat disini), Missa di Sikka dan Dolo-Dolo di Larantuka (videonya bisa dilihat disini). Dan saya kira ada jenis tarian yang serupa ini di Manggarai, dan Bajawa, (tapi saya tidak tahu persis karena terbatasnya referensi pengamalan perjumpaan).
Kesamaan dari empat jenis tarian ini (dan jenis tarian yang serupa ini di Flores) tidak hanya pada kesamaan bentuk pola yang melingkar-berpegangan yang menunjuk pada ikatan persaudaraan, kerbersamaan dan bangunan perdamaian atau dalam jumlah banyak atau massal yang menggambarkan kegembiraan, perayaan kebersamaan dan kemeriahan. Atau pada harmoni di kaki yang padu menyentak-menjejak tanah serupa salaman perjumpaan berulang untuk bunda semesta. Tetapi juga pada lantunan syairnya yang berisi harapan, pujian dan syukur kepada sesama, nenek moyang, alam semesta dan Tuhan.
Harmoni di kaki, padu di tangan dan tempo tutur-syair yang terukur penuh ujud membersitkan paduan yang artistic pun teologis. Dalam pada tarian-tarian tersebut perjumpaan kehidupan ditemukan dan dirangkul peluk jadi satu dalam satu gerakan ziarah yang sama, dalam satu harapan yang sama, dalam satu permonohan yang sama kepada dan menuju sebuah sasaran yang sama, yakni Tuhan dalam dan melalui sesama, alam semesta dan para leluhur.
Inilah yang menurut saya merupakan sebuah harmoni. Sebuah perbedaan dan keberagamaan yang sesungguhnya tidak untuk membeda-bedakan, tidak untuk memilah-pisahkan, tetapi sebaliknya mempersatukan dalam ikatan persaudaraan yang kuat. Relasi perjumpaan yang hangat dan akrab yang tidak hanya dibangun secara sejajar antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta, tetapi juga antara manusia dan Tuhan.












































2 tanggapan kepada “Harmoni Di Kaki-Padu Di Tangan, Sekelumit Tarian Flores”
Rosa
Februari 16th, 2011 pada 22:20
Yayyy mengingat waktu SD waktu pulang kmpung si Udi Worowatu, malam2( malam tahun baru klo g salah) orang sekampung menari Ndera..sambil menyanikan lagu,,
kaiwan
September 15th, 2011 pada 13:21
saya bangga dengan adat serta budaya masyarakat flores. saya mengharapkan suatu saat masyarakat flores di kalimantan timur dapat membuat 1 Acara Pentas Tari Flores
1 Trackbacks / Pingbacks
Flores Unik: Tariannya « FLORES UNIK Februari 26th, 2011 pada 15:46
[...] Selengkapnya baca di sini: “Harmoni Di Kaki-Padu Di Tangan, Sekelumit Tarian Flores” [...]