Burungku burung hitam, terbang dari kalbu yang gulita, setelah sekian lama disekap duka. Duka: disandera kalimat-kalimat hina, dipenjara oleh pengabaian yang menyakitkan dan pengkhianatan yang besar. Seperti di balik telapak, dipijak, burungku tak dapat berkicau riang. Ia terjebak antara jeruji-jeruji sengsara.

Dunianya adalah sangkar. Sebuah sudut yang terbuka, yang sesekali pendarkan cahaya, tidak cukup menyapa gulitanya. Pengap panas jauh lebih terasa, menerbangkan kenyamanan yang dirindukan sudah sejak lama. Bau tengik, tinja, keringat, lendir, liur, kecoak, tikus sudah menjadi wangi yang biasa. Biasa seperti umpat-umpat dunia, hina-hina buana, satir-satir semesta.

Hingga tiba suatu ketika di ujung lelah, sebelum napas terakhir mengantarnya pergi. Sekali kicau yang meneteskan air mata dan membuatku tergugah, ia pun pergi untuk selamanya. Entah ke mana burungku terbang. Sepenggal kicau tanpa makna itu, serupa wasiat tentang sebuah rahasia. Hanya itu.

Burungku burung hitam. Dia telah tiada. Burungku tidak meninggalkan apa-apa. Bau jasadnya menyengat yang tampak pada jejak kaki yang lelah. Sarang yang berdebu pekat. Dengan lingkaran rantai yang setengah terbuka. Menghimpit sisa-sisa bulu sayap. Terjuntai bagai akar rapuh. Menyangkut pada jeruji. Silang menyilang bagai sarang laba-laba.

Menyaksikan ketiadaan dan pekatnya ruang rasa, aku menjadi teringat pada sepenggal dari Elias Canetti “Tak ada yang lebih menakutkan manusia daripada persentuhan dengan yang tak dikenal”. Tubuhku bergetar, jiwaku resah. Burung hitamku terbang, dan aku mengira aku bebas. Tetapi sebaliknya, ketakutan yang mencekam menghampiriku kian dekat.

Sesuatu yang lain, yang tak dikenal itu adalah diriku sendiri. Manusia itu sendiri. Ketika aku tidak menyelami kedalaman diri sendiri, dan memahami siapakah aku sebagai manusia, pada ketika itu aku meletakkan diriku sebagai yang lain, sesuatu yang asing. Keterasingan dengan diriku sendiri sebagai manusia adalah nafsu-nafsu. Dan burung hitamku yang kusebut sebagai rajaku itu pergi serupa tumbal dari alienasi diri dengan diri sendiri.

Entah apa yang mesti kukisahkan lagi selepas burung hitamku terbang entah ke entah. Sekalipun dia nista, penuh salah dicaci cela, dia adalah raja yang seharusnya berdiam di singgasanaku. Di sana seharusnya dia dipuja dan diagungkan. Bukan salahnya, tetapi aku. Aku adalah situasinya, aku adalah kondisinya, aku adalah juga tubuhnya yang seharus-mestinya kian menjadi manusia utuh. Jadi diri sendiri.

About these ads