Hari ini kutemukan ia tewas dengan mengenaskan. Tubuhnya tidak berbentuk rupa. Ketampanannya raib. Tampak hanya seonggok jasad tanpa jiwa terkapar di atas dipan segi empat. Darah memencar mencari celah-celah dipan. Meresap membasahi ubin segi empat. Mengalir pada garis-garisnya. Menepi hingga ke sudut di bawah jendela.
Di sampingnya tertidur sebuah pigura dengan foto hitam putih yang tersenyum. Seorang perempuan yang menampakkan sebaris gigi-gigi rapi. Parasnya elok dengan rambut terjuntai hingga bahu. Hidung bangirnya seksi. Lesung pipinya menawan. Belah dagunya memesona. Lehernya jejang. “Suatu saat, aku akan menikammu’ terbaca jelas kalimat itu di punggung pigura yang baru saja kubangunkan dari tidurnya.
Sang Pejantan itu mati, ditikam perempuan hitam putih. Walau pun perempuan hitam putih itu telah lama pergi belasan tahun silam, tetapi rupa-rupanya belati dendam itu masih membara. Merayap perlahan di ujung belati merah darah itu. Hari ini kutemukan dendam itu terbalas. Sang Penjantan itu tewas. Tewas setelah menyudahi petualanganan yang panjang, mengarungi rimba malam, menindih tubuh-tubuh tanpa salah yang melulu demi sebuah pelampiasan yang sejatinya tidak pernah sudah. “Kau pejantan binatang” terbaca sebaris kalimat yang lain yang nyaris tidak dapat dibaca.
Perempuan hitam putih itu adalah perempuan-perempuan. Ia yang pertama dinodai, dan ia pula yang terakhir dicintai. Tetapi dendam tidak akan pernah memaafkan dosa besar kehidupan. Dendam tidak akan pernah memaklumi kebejatan dan pengabaian atas moralitas dan martabat kehidupan. ‘Keperawanan’ perempuan hitam putih itu adalah segalanya.
Hari ini kutemukan Sang Pejantan itu tewas. Lebam tubuhnya, kelam matanya, dan bau jasadnya mengisyaratkan bahwa Sang Pejantan itu tewas sudah sejak ia ada dan hidup dalam kehidupan. Ia sudah tewas sejak malam pertama menodai perempuan hitam itu, selanjutnya ia tewas dalam setiap pelukan nafsu. Selalu seperti itu, hingga hari ini. Ia benar-benar tewas.
“Suatu saat aku akan menikamku” dan kata-kata itu benar. Hari ini kutemukan Sang Pejantan itu tewas. Tewas dengan sangat mengenaskan. Ia lahir sebagai yang suci, kemudian tewas sebagai pecundang. Kehidupan membabtisnya sebagai Sang Pejantan, tetapi kematian melumatnya sebagai jasad yang tidak berguna.










































