Gibran Kahlil Gibran adalah lelaki yang sepanjang hidupnya diliputi kesepian yang mendalam. Hari-harinya dihujam selalu oleh tanya, rindu, perhatian dan kasih sayang. Semua karyanya, baik yang terekam dalam kata, maupun yang membias dalam kanvas, bahkan tentang dirinya sendiri sesungguhnya adalah ‘lamentasi’ tentang rindu yang memendam, sepi yang tak tertahankan dan rahasia yang tidak pernah disibakkan akan dan tentang sesuatu. Ada tiga hal yang menjadi dasar kesimpulan ini.

Pertama, membaca karya-karya Gibran kita disuguhkan dengan bentangan kalimat-kalimat indah. Rangkaian katanya elok, tuturannya yang nan lentur. Lantaran itu tidak heran jika banyak pembaca mengutip sekuplet dari sajaknya atau sepenggal dari kalimatnya untuk menunjukkan kepada pasangan mereka tentang arti percintaan. Bahkan sebagaian pembaca yang lain dengan berani mengatakan jika Gibran adalah guru cinta.

Namun, perlu dicatat bahwa Gibran mengurai cinta tidak pertama-tama untuk tujuan dan maksud pemenuhan relasi antar manusia, tetapi yang pertama dan utama adalah untuk pemenuhan relasi personalnya dengan Tuhan. Bagi Gibran karena Tuhan adalah Mahacinta maka cinta itu harus diberi-pancarkan kepada semesta. Dalam hidup dan kehidupannya, Gibran merindukan cinta itu, relasi yang tulus dan personal, seperti bangunan relasi antara dirinya dengan Tuhan yang diimaninya.

Hal ini terungkap jelas dalam tulisannya yang berjudul Cinta Keindahan Kesunyian, (Yogyakarta, Bentang Budaya, 1999, hal. 72-74) “Cinta membimbingku mendekati-Mu namun kemudian kegelisahan membawaku menjauhinya. Aku telah meninggalkan pembaringanku, cinta, karena takut pada hantu kelupaan yang bersembunyi di balik selimut kantuk. Bangun, bangun, cintaku, dan dengarkan aku. Aku mendengarkan-Mu, kekasihku! Aku mendengar panggilan-Mu dari dalam lautan dan merasakan kelembutan sayap-sayap-Mu. Aku telah menginggalkan pembaringanku dan berjalan di atas rerumputan. Embun malam membasahi kaki dan keliman pakaianku, di sini aku berdiri di bawah bunga-bunga pohon Almond, memperhatikan ruh-Mu.”

Jadi tidak heran jika sepanjang hidupnya, kendatipun Gibran bertelur-tutur tentang cinta, namun tidak seorang pun dari semua wanita yang dikenalnya dia nikahi. Terlepas dari alasan manusiawi tentang cinta, pacaran dan pernikahan, yang membuat Gibran memilih untuk menyindiri, lebih dari itu sesungguhnya ada kerinduan yang begitu besar dalam diri Gibran tentang cinta yang sesungguhnya. Aku melihat pilihan Gibran sebagai sebuah kekeliruan yang besar. Tetapi itulah Gibran, dia tidak hendak menodai kesempurnaan cinta hanya karena sebuah kecemasan bahwa dia tidak yakin cinta yang dibangunnya  bersama sang kekasih akan bertahan. (Catatan: Sebelumnya tentang ini sudah diposting di sini)

Kedua, memperhatikan sketsa dan lukisan-lukisan Gibran kita akan disuguhkan dengan objek-objek tentang tubuh telanjang. Bahkan menurutku, tubuh-tubuh telanjang adalah warna lukisan dan sketsa Kahlil Gibran. Melalui dan dalam lukisan-lukisannya kita dapat menafsirkan bahwa ada hasrat yang lebih yang sedang digapai Gibran. Ada kerinduaan yang terpendam akan kepolosan, ketulusan dan kesahajaan kehidupan. Melampaui dari sekedar tubuh yang telanjang, sebenarnya Gibran sudah sedang menampilkan tentang hakikat kehidupan itu sendiri.

“Karena hidup itu telanjang. Badan telanjang itu adalah lambang kehidupan yang paling sejati dan paling mulia. Kalau aku menggambar gunung berbentuk setumpuk badan manusia atau menulis air terjun berupa badan-badan manusia yang berjatuhan, maka itu tidak lain karena aku melihat gunung sebagai himpunan benda hidup, dan air terjun sebagai pemicu arus kehiduban” Demikian kata Gibran, ketika ditanyaMarry Haskell, mengapa Gibran suka melukis tubuh-tubuh telanjang. (Catatan: sebelumnya tulisan ini sudah diposting di sini)

Ketiga, membaca tulisan-tulisan Gibran selanjutnya memperhatikan lukisan dan sketsanya, aku menyimpulkan sekali lagi bahwa Gibran bukan hanya menjadikan hidup dan kehidupan sebagai pencarian tanpa henti, tetapi juga Gibran itu sendiri mewakili sebuah proses pencarian. Gibran adalah pendaman kerinduan itu sendiri, yang dalam dan melalui karya-karyanya sudah sedang mencari kesempurnaan keabadian. Dalam perspektif ini, sulit bagi siapapun untuk mendefiniskan siapa sesungguhnya Gibran. Gibran adalah konsep tentang pencarian, gagasan tentang perjumpaan-perjumpaan. Gibran adalah kata.

“Lihatlah diriku, sebuah kata yang maknanya samar-samar dan membingungkan; kadangkala tak bermakna; kadangkala bermakna banyak hal” Demikianlah Gibran mendefinisikan dirinya (dlm. Hari Kelahiranku, Martin L. Wolf (ed) Treasury of Kahlil Gibran(Risalah Karya Terbaik) Tarawang Press, Yogyakarta 2002, hal. 90). Ia menyebut dirinya sebagai kata. Mengapa Gibran harus mengidentikan dirinya sebagai kata? Tentunya tidak sebatas kata sebagaimana terbaca dalam kamus bahasa sebagai sebuah unsur bahasa terkecil yang merupakan perwujudan kesatuan pikiran dan perasaan. Tampaknya ada makna tersembunyi yang mau disampaikan Gibran melalui arti kata tersebut.

Dapat digambarkan bahwa kata yang dimaksudkan Gibran merupakan buah gagasan dan pikiran yang terbaca dalam tulisan-tulisannya, yang melaluinya meninggalkan ambiguitas penafsiran di kalangan pembaca dan komentator. Dalam dan melalui kata, Gibran mengungkapkan banyak hal, dengan banyak cara. Gibran dapat melantunkan kedukaan dengan riang, kegembiraan dengan air mata dan amarah dinyanyikannya. Di ujung penanya kata mencair, melebur berpadu-utuh dengan rasa dan nalar jadi sebuah bahasa ungkap yang hidup, segar, teduh, menyengat dan membakar jiwa.

’Lihatlah diriku, sebuah kata…’ seakan-akan menjadi ajakan untuk sebuah pemaknaan yang dibiarkan lepas-bebas untuk ditafsirkan. Lantaran itu tidak heran jika Gibran dalam artian tertentu dimaknai sebagai kata yang bermakna dalam banyak hal. Ada yang menyebut Gibran sebagai mistikus, penyair, sastrawan, filsuf, agamawan, pencinta damai, nabi bahkan ada yang menyebutnya sebagai manusia abadi. Penamaan dan sebutan itu merupakan kesimpulan yang masuk akal dari kata yang dituangkannya dalam tulisan-tulisannya. Tidak jarang pula melalui kata yang sama Gibran dipandang sebagai pemberontak, kafir, revolusioner dan pendurhaka. Gibran diidentikan dengan kata yang tidak bermakna, tidak memiliki arti bagi kehidupan, selain hadir tidak lebih sebagaiorang gila yang diabaikan.

Namun semua penamaan, sebutan dan pemaknaan atas kata tentang Gibran masih menyisahkan tanya mungkinkah seluruh sifat-sifat itu ada pada seorang manusia Gibran? Inilah Gibran yang hadir sebagai sebuahkata yang maknanya samar-samar dan membingungkan. Gibran dalam dan melalui dirinya yang sama merupkankata yang takterkatakan, samar-samar dan bahkan membingungkan. (Catatan: sebelumnya tulisan ini sudah diposting di sini)

About these ads