Hari ini kutemukan perempuan hitam putih tertawa. Wajahnya cerah sungguh. Bibirnya elok, walau tanpa lipstik melekat tipis seperti hari-hari kemarin.Namun dari celah-celah giginya keluar maki-maki. Sederet satir lepas lalu, menampar tubuh-tubuh pejantan tanpa ampun. Bagai melucuti satu-satu, seluruh tubuh pejantan terlepas satu-satu sampai jiwa tercerabut dari potongan-potongan tubuh.

“Matamu yang pertama kali menjumpaiku di pesta ketika itu. Matamu suluk terlalu dalam menghujam rasaku, hingga aku tidak melepaskanmu dalam bayang-bayang malamku..karena matamu aku melepaskan wajahku untuk kau cumbu. Tetapi mengapa engkau tidak menjaga selalu wajahku dengan tatapan kasihmu. Karena matamu itu, maka tidak segan aku membantaimu”

“Sapa lembut dari kembang bibirmu adalah bagian dari dirimu yang kedua yang menghujam rasaku. Bagai tenggelam dalam paduan suara jiwa, aku terlena belaian kata-katamu. Semakin aku mendengarmu, semakin aku tersandera. Sungguh aku tidak dapat mengelak dari setiap kata yang terlepas dari kedua belah bibirmu. Tetapi mengapa, kata-kata itu kau baluti kepalsuan. Dalam ketidakberdyaanku engkau menebarkan dusta. Karena kata-kata dari mulutmu itu maka tidak segan aku membantaimu”

“Pelukanmu adalah bagian dari tubuhmu yang ketiga yang mencoba mendekatiku. Kenyamanan ragaku dalam pelukanmu, seakan-akan aku berada dalam kenyamanan di keabadian. Aku memasrahkan semua, menyandarkan segala dalam kedua belah tanganmu. Kelembutan, kehangatan dan juga keramahannmu memejamkan mataku. Namun, mengapa engkau menodai dadaku. Mengapa engkau menunggangi tubuhku hanya untuk pelarianmu yang sebentar. Karena pelukanmu itu, maka tidak segan aku membantaimu”

“Kebaikan dan kelembutanmu adalah bagian dari tubuhmu dan dirimu yang keempat yang membuatku berpasrah. Engkau memberikan semua, melepaskan segala. Menyerahkan segala, melimpahkan semua. Hingga aku tidak berdaya dalam kebaikan dan kelembutan serupa itu. Sebagai perempuan aku pantas kau letakkan dalam derajat yang demikian. Tetapi mengapa tidak kau sertakan ketulusan dan keikhlasan, hingga engkau menagih balasan demi balasan. Hingga yang tertinggal adalah mahkotaku. Harta terindah yang tidak semestinya aku berikan, tetapi pada malam-malam panjang kau merengek minta dipecahkan. Karena kebaikan semumu, maka tidak segan aku membantaimu.

“Ledir jantanmu adalah bagian kelima dan terakhir yang membuatku murka hingga akhirnya aku menikammu selalu dan pada setiap saat. Engkau memberikan aku tubuhmu lewat nafsumu, tetapi aku mengira itu cinta yang tulus. Aku salah menduga. Ternyata engkau tidak lebih hanya sebagai pejantan loba, bukan seorang laki-laki penyayang”

Lima maki, sederatan satir, dan sebilah belati yang tidak sia-sia diasah menyengat-nyengat tubuh-tubuh pejantan itu, selalu, hingga kini, entah sampai kapan. Semuanya perempuan itu lakukan tanpa tanggung. Dia bukan perempuan biasa.

About these ads