Mama tersayang, Callista kangen! Sudah lama Callista tidak pulang sejak berangkat dua tahun lalu. Apa kabar mama, papa, kakak dan adik-adik? Andai Callista dapat pulang dalam waktu dekat, Calista ingin mama buatkan makanan kesukaan Callista. Callista ingin kembali bermain boneka bersama Rini dan Wulan. Biarin, mama mau bilang Callista manja. Tapi Callista pasti tidak akan pernah bosan-bosannya mengingatkan Kak Rido. Mama, apakah Kak Rido masih playboy seperti dulu? Hmm….Kak Rido…kakaku yang tersayang.
Demikian sepenggal surat Putry Callista untuk mamanya. Callista adalah satu dari sekian remaja putri yang kukenal, yang masih setia menggunakan surat sebagai media untuk mengungkapkan rasa, menuturkan kerinduan, membagikan kesedihan, melepas kenangan untuk dan kepada orang-orang tercinta. “Aku menulis berlembar-lembar surat dan bahkan aku meningirimkan catatan harian buat papa dan mama, supaya papa dan mama bisa membacanya” kata suatu ketika.
Bukan hanya saya yang terperanjat mendengar kisah Callista. Teman-temannya pun menganggapnya sebagai gadis cantik yang ‘jadul’ (ketinggalan zaman). Mengapa tidak, perkembangan media komunikasi, seperti internet dengan jejaring sosialnya atau handphone dalam berbagai merek dan bentuk sebenarnya sudah cukup buat Callista untuk mendekatkan jarak dan membangun komunikasi yang intens dengan orang tua, kakak dan adiknya.
Namun mengapa Callista masih memilih menulis surat, meletakkan kata-katanya dalam lembaran-lembaran catatan harian kemudian mengirimkannya kepada keluarganya? “Aku bukannya tidak suka jejaring social atau handphone untuk berkomunikasi dengan keluarga, tetapi rasanya aku tidak cukup puas jika hanya dengan menggunakan media-media tersebut” Katanya.
“Aku suka membaca dan menulis. Menulis kembali pengalaman keseharian dalam catatan harian adalah pekerjaan yang menarik, menantang dan unik. Ada sentuhan emosional yang aku dapat ketika aku menulis dalam catatan harian atau sepucuk surat. Aku seperti sedang menumpahkan rasa, mencernanya kembali, berpikir untuk merangkai kata, mengemasnya lagi dan lagi” lanjutnya.
“Namun yang lebih penting dari itu adalah bahwa dengan menulis, aku bisa mengabadikan momen dan pengalaman secara lebih detail. Ada kenangan akan masa lalu, jika suatu saat aku beranjak tua. Aku akan teringat akan tulisan tanganku, diarry, warna tinta dan juga perasaan ketika aku menulis momen-momen tersebut” katanya menutup cerita.
Callista dan semua pengalaman yang terekam dalam surat dan catatan hariannya yang ia kirimkan kepada keluarganya membersitkan refleksi penting untuk saya akan dua hal, pertama, bahwa dengan menulis, sekalipun itu menulis sepucuk surat, melibatkan emosi yang mendalam. Callista tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana pentingnya menulis dan merangkai kata, tetapi juga konsistensi dan rutinitas dalam merekam momen demi momen kesehariannya agar tidak terlewatkan begitu saja. Momen dan pengalaman tidak hanya harus ditangkap secara emosional, dicerna secara cerdas tetapi juga disimpan-rekam secara teratur.
Hal kedua yang menurut saya penting dan menarik adalah adanya upaya personal untuk melawan lupa. Derasnya arus informasi dan kebimbangan kita di tengah berbagai pilihan hidup membuat kita lupa, bahkan tidak sempat mencatat pengalaman-pengalaman keseharian kita. Kita seperti berseteru dengan waktu, tergesa-gesa dan selalu mendesak. Namun surat-surat Calliasta dan pengalaman yang dikisahkannya memberikan pelajaran berbebeda bahwa kita tidak harus seluruhnya larut dalam seteru waktu zaman. Ada momen dimana kita menarik diri untuk berefleksi dan memikirkan tentang diri sendiri dalam kesendirian. Momen-momen tersebut dibaku-bukukan dalam catatan harian yang selanjutnya tidak hanya dibagiakannya, tetapi juga disimpannya untuk pada suatu saat nanti dikenangnya kembali.
Tidak semua dapat seperti Callista, dan Callista adalah satu dari mereka yang bisa melakukan itu. Sebagai sahabat dan temannya, saya belajar banyak hal darinya, walau hanya dan dalam kisah-kisah tentang surat-surat dan catatan-catatan hariannya.











































1 tanggapan kepada “Sepucuk Surat Callista”
Putry Callista
Februari 11th, 2011 pada 01:25
Makasih Mas, dah mau share pengalaman dan kebiasaanku, tapi sebenarnya aku malu juga sih…koq mesti dikisahkan sih……….tapi gak apa2, semoga bsa bermanfaat bagi yg lain dan lbh pnting smga aku tetap konsisten dgn pilihan ini…salam berbagi, nice post